Hidayatullah.com– Wakil Ketua DPRI RI Fahri Hamzah kembali mengkritisi penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, secara khusus menyoal banyaknya korban berjatuhan dalam pesta demokrasi kali ini.
Sebanyak 225 orang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dunia selama Pemilu tahun ini berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) hingga Kamis (25/04/2019).
Fahri mempertanyakan mengapa bisa sampai penyelenggaraan pemilu yang durasi pencoblosannya cuma sekitar satu menit, yang juga bukan sebuah perang fisik, namun menelan korban begitu banyak.
Baca: 225 Petugas KPPS Meninggal, Natalius Pigai: KPU Harus Dipidana
Oleh karena itu, Fahri secara tersirat mendesak agar penyelenggara pemilu bertanggung jawab atas kematian begitu banyak petugas pemilu tersebut.
“Dalam perang saja di mana-mana, jatuhnya korban setelah berminggu atau berbulan atau bertahun, sering menjadi alasan pemerintah diminta menghentikan perang atau bahkan pemerintah dijatuhkan. Ini bukan perang, ini hanya mengurus pencoblosan 1 menit, korban berjatuhan. Ada apa?” ungkap pegiat media sosial ini lewat akun terverifikasinya di Twitter (25/04/2019).
Kicauan Fahri tersebut, pantauan hidayatullah.com, Jumat (26/04/2019) pagi, mendapat sambutan dari warganet.
Baca: 225 Petugas KPPS Meninggal, Natalius Pigai: KPU Harus Dipidana
Iwan @iwan__y misalnya, mengungkapkan bahwa penyelenggara pemilu harusnya bertanggung jawab atas kematian para petugas pemilu tersebut.
“@Fahrihamzah Saat konser kalo ada korban maka panitia penyelenggara diminta tanggung jawab. Kecelakaan transportasi maka sopir/pilot/nakhoda/masinis yang tanggung jawab. Kecelakaan korban demokrasi maka penyelenggara yang harus tanggung jawab. Itu kalau penyelenggara punya jiwa kesatria,” kicaunya membalas pernyataan Fahri tersebut.
Fahri juga mengungkapkan KPU tak cukup hanya dengan mengatakan bahwa para korban dalam pemilu 2019 merupakan pahlawan yang gugur.
Baca: 225 Petugas KPPS Meninggal, Natalius Pigai: KPU Harus Dipidana
“Kita terpaksa melayani pikiran yang lemah, yang dangkal dan yang fatal. Tuhan dibawa untuk menaklukkan pikiran yang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lalu negara meyakinkan kita, “Mereka pahlawan gugur dalam tugas mulia”. Dan kita harus diam. Seakan tanggung jawab selesai,” kicaunya lewat @fahrihamzah.
“Dalam situasi kita, banyak yang menganggap kalau jatuh korban yang banyak maka segera kita sebut mereka pahlawan. Tapi tidak ada yang bertanggung jawab atas matinya korban. Kita permisif terhadap nyawa manusia dan kita permisif kepada kegagalan yang dirayakankan sebagai sukses,” tulisnya juga sebelumnya.*