Hidayatullah.com— Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr Anwar Abbas mengatakan umat Islam mereka juga berhak dan sah untuk menyatakan bahwa agamanya-lah yang paling benar. Ia berpandangan, jika ada umat Islam yang meyakini paham semua agama sama dan sama benar, maka itu dinilainya pandangan sesat dan bermasalah.
“Karena itu kalau ada orang Islam yang berpandangan semua agama itu adalah sama maka pandangan dan faham tsb jelas sesat serta bermasalah,” katanya dalam pernyataan kepada redaksi Hidayatullah.com, Kamis (16/9/2021).
Buya Anwar Abbas, demikian ia kerap dipanggil memberikan jawaban atas kontroversi pernyataan soal agama itu disampaikan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), Letjend Dudung Abdurrachman.
Sebelumnya, hari Senin (13/9), Dudung menyampaikan kepada para prajuritnya, saat kunjungan di Batalion Zipur 9 Kostrad, Ujungberung, Bandung, Jawa Barat. Dudung mulanya meminta prajurit TNI AD untuk bijak dalam bermedia sosial. Dia meminta mereka menghindari sikap fanatisme yang berlebihan terhadap agama.
Sebab, menurutnya, semua agama sama di mata Tuhan Yang Maha Esa.
“Saya rasa maksud dari Jendral Dudung itu baik, yaitu bagaimana kita dengan sesama para pemeluk agama yang berbeda bisa hidup berdampingan dengan rukun dan damai dalam negara republik indonesia ini. Tapi untuk mewujudkan cita-cita dan keinginan itu beliau tidak harus menyatakan bahwa semua agama itu adalah sama di mata Tuhan, karena pernyataan tersebut jelas mengundang kontroversi,” katanya.
Menurut Buya Anwar, pertanyaan yang mendasar adalah, Tuhan agama mana yang menganggap semua agama itu sama di mata-Nya? “Jadi dalam hal ini, Jenderal Dudung jelas telah salah dalam membuat kesimpulan karena beliau telah menyimpulkan sesuatu yang memang tidak sama lalu beliau katakan sama padahal masing-masing agama itu punya tuhan, kitab suci, orang suci dan tempat-tempat suci serta cara-cara beribadah sendiri-sendiri yang memang sangat-sangat berbeda antara yang satu dengan lainnya.”
Untuk terciptanya kerukunan hidup yang baik diantara para pengikut agama-agama yang ada , dilakukan bukanlah menyatakan bahwa semua agama itu adalah sama di mata Tuhan, kata Buya Abbad. Namun bagaimana bisa mendorong dan menganjurkan kepada para pengikut dari agama yang ber beda-beda tersebut untuk bisa hidup rukun, aman dan damai.
“Untuk itu jelas sangat diperlukan adanya toleransi, di mana masing-masing pihak bisa saling mengerti,” katanya. “Saling memahami dan saling menghargai agama dan kepercayaan orang lain, karena masing-masing pengikut agama itu adalah sah bila mereka menyatakan bahwa agamanyalah yang paling benar,” demikian tambahnya.*