Hidayatullah.com– Deklarasi kelompok yang mengatasnamakan alumni Universitas Indonesia (UI) yang mendukung pasangan calon (Paslon) Presiden-Wakil Presiden Joko Widodo dan Ma’ruf Amin terus menuai kontroversi.
Kali ini disuarakan Dr Andi M Asrun SH. Sebagai alumnus Fakultas Hukum UI angkatan 1982, dia merasa malu dan marah almamater UI dijadikan objek politik. Apakah tidak ada cara yang lebih etis dan bermartabat untuk memberikan dukungan kepada capres-cawapres.
Menurut Asrun, seharusnya Jokowi bisa lebih cerdas dalam mendulang dan mengecek apakah “jualan politik” ini asli atau palsu, sehingga tidak menjadi “bualan politik”.
“Kalau begini cara mendulang dukungan, maka rakyat pemilih akan menjauhi anda, Pak Jokowi. Bualan politik seperti ini harus disetop demi terselengara Pemilu yang jujur, adil, dan bermartabat,” kata Asrun di Jakarta, Senin (14/01/2019) kutip Indonesiainside.id.
Dia mengimbau anggota Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI) untuk menjaga dan menghindari politisasi almamater UI. Jangan jual almamater untuk kepentingan politik sesaat.
Sorotan juga diungkapkan Hidayat Matnoer, aktivis UI. Deklarasi alumni UI mendukung petahana pada Sabtu (12/01/2019), yang dihadiri capres Jokowi diklaim sebagai dukungan kaum intelektual. Apalagi deklarasi untuk Jokowi-Ma’ruf dinyatakan sebagai alumni UI, ITB, UGM, ITS, IPB, UNS, UNAI, UNDIP, Universitas Padjadjaran, Universitas Parahyangan, Universitas Trisaksi, Unika Atmajaya, perguruan tinggi negeri, dan swasta lainnya.
Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi alias Muni menyatakan, ribuan alumni hadir sebagai kaum terdidik. Namun, bagaimana faktanya di lapangan ?
Nyatanya, diketahui, beredar video di media sosial WAG Alumni UI, beberapa ibu-ibu mengaku dari Cibitung, Tambun Bekasi sedang duduk istirahat membawa nasi bungkus dan dilabeli kaos “Alumni UI for Jokowi-Maruf Amin”.
Baca: ILUNI UI Somasi Pembuat Undangan Dekralasi Dukung Capres
Ditambah lagi, video lain Muni sedang mem-briefing massa Projo dan mengenakan kaos “We Are Alumni UI” sebelum deklarasi dimulai. Muni adalah Ketua Projo dan alumni Fisip UI angkatan 90 sangat antusias mem-briefing massa tersebut.
“Jelas sekali, di hadapan Muni tersebut bukanlah ciri alumni UI yang cerdas dan terdidik. Melainkan satu massa yang sudah diberi nasi bungkus, berkondisi ngantuk dan dilabeli kaos Alumni UI dan urgen di-brieifing tentang kegiatan di tempat tidak jauh dari panggung utama. Sungguh penipuan dan memalukan,” beber Hidayat.
Tindakan Muni, lanjutnya, adalah tindakan manipulatif dan membawa-bawa nama alumni UI. Menipu karena membawa massa yang bukan alumni UI untuk dilabeli alumni UI dan mendukung Jokowi-Maruf Amin.
Tindakan tersebut disebut untuk mengesankan bahwa alumni UI pendukung Jokowi-Maruf Amin berjumlah sangat banyak. Perilaku menghadirkan pasukan nasi bungkus yang dilabeli title sesuatu adalah ciri kerjaan para makelar demo.
“Apakah deklarasi Alumni UI untuk mendukung petahana harus menghalalkan segala cara dan manipulatif begitu. Tindakan Muni telah mencoreng niat baik para peserta alumni UI yang sebenarnya ingin mendukung Jokowi-MA,” kritiknya.
Baca: Segelintir Alumnusnya Deklarasi Dukung Jokowi-Ma’ruf, UI Tegaskan Netral
Sebagai lulusan Universitas Indonesia, Hidayat melanjutkan, semua harus intropeksi diri bahwa kemenangan kandidat bukan satu-satunya tujuan. Namun, tujuan utama adalah mendidik rakyat bagaimana kepemimpinan bangsa seharusnya ditentukan dengan kecermatan dan kecerdasan kandidat dalam mengatasi persoalan rakyat. Bukan iming-iming logistik busuk, nasi bungkus, dan uang kecil tak seberapa.
Sementara Muni membenarkan, massa Projo memang ikut memeriahkan acara deklarasi alumni UI, 12 Januari 2019. Makanya depannya logo acara itu ditambah hestek #OrangPintarPilihJokowi #OrangBaikPilihJokowi dan belakangnya ada Logo Projo.
“Ada yang salah dengan itu? Hanya intelektual menara gading yang memisahkan kaum intelektual dengan rakyat,” tandasnya.*