Di Gaza hari ini, bukan hanya suara bom yang membunuh—tapi diamnya dunia yang membiarkan anak-anak mati kelaparan
Hidayatullah.com— Mereka tak lahir untuk berperang. Namun lebih dari satu juta anak-anak Palestina di Jalur Gaza kini hanya menunggu ajal datang dalam sunyi—bukan karena peluru atau rudal, tapi karena kelaparan yang disengaja.
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengeluarkan pernyataan mengejutkan pada Ahad (20/7/2025): Israel dengan sengaja menutup akses bantuan kemanusiaan dan menciptakan bencana kelaparan massal di Gaza. Padahal, UNRWA menyebut bahwa mereka memiliki persediaan makanan dan obat-obatan yang cukup untuk seluruh penduduk Gaza selama lebih dari tiga bulan.
“Cabut blokade. Izinkan kami membawa makanan dan obat-obatan,” tulis UNRWA melalui akun resminya. Namun hingga kini, bantuan yang tersimpan di kota Arish, Mesir—hanya beberapa kilometer dari perbatasan Rafah—masih terhalang oleh kebijakan penutupan total yang diterapkan Israel sejak 2 Maret 2025.
Menurut UNRWA, setidaknya 70 anak telah meninggal akibat kelaparan akut, dan jumlah ini bisa bertambah drastis dalam beberapa hari ke depan. Kondisi malnutrisi kronis kini merata di seluruh wilayah Gaza, di mana lebih dari dua juta orang hidup dalam krisis kemanusiaan menyeluruh.
Harga Tepung Naik, Rumah Sakit Dipenuhi Anak-Anak Kurus dan Lemas
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa gelombang warga dari segala usia—anak-anak, ibu hamil, hingga lansia—setiap malam dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kelelahan dan kelaparan ekstrem. Ruang gawat darurat kini dipenuhi balita kurus kering, kulit menempel pada tulang, tubuh lemas tanpa tenaga.
Sementara itu, harga bahan pangan melonjak ke titik tak masuk akal. Satu kilogram tepung yang sebelumnya hanya beberapa shekel, kini dijual seharga 170 shekel—naik 240% hanya dalam satu pekan. Beras kini menyentuh angka 110 shekel per kilogram. Kelaparan telah menjadi bisnis kotor dalam perang tak berperikemanusiaan ini.
“Ini bukan kelalaian. Ini kebijakan kelaparan yang disengaja sebagai bentuk genosida modern,” ujar Kantor Media Pemerintah Gaza dalam pernyataannya.
Sejak awal blokade, bahan bakar dan susu formula bayi pun tak diperbolehkan masuk. Gaza kini hidup dalam gelap—tanpa listrik, air bersih, atau bahan bakar untuk rumah sakit.
PBB Tolak Skema “Kemanusiaan” Israel-Amerika
Ironisnya, ketika rakyat Gaza berteriak meminta bantuan, justru distribusi bantuan berubah menjadi perangkap mematikan. Sejak 27 Mei 2025, titik-titik pembagian bantuan makanan dijadikan sasaran tembak oleh militer Israel dalam program bertajuk “Yayasan Kemanusiaan Gaza”, skema kerja sama lembaga kemanusiaan abal-abal buatan Israel-Amerika Serikat (AS).
Data kemanusiaan mencatat, 891 warga Palestina syahid, 5.754 terluka, dan 39 orang hilang dalam serangan terhadap lokasi distribusi. Skema ini bahkan ditolak secara resmi oleh PBB karena dianggap sebagai bentuk manipulasi dan legitimasi atas kekerasan terhadap warga sipil.
Tragedi ini terjadi di tengah agresi besar-besaran penjajah ‘Israel’ yang telah menyebabkan gugurnya 58.765 warga Palestina, melukai 140.485 orang, dan membuat lebih dari 11.000 jiwa hilang. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.
Kini, lebih dari dua juta warga Gaza hidup sebagai pengungsi di tanah mereka sendiri—dikelilingi reruntuhan bangunan, bau busuk kematian, dan langit yang terus mengancam.
“Jangan Lagi Diam”
UNRWA dan Pemerintah Gaza menyerukan kepada dunia untuk tidak lagi menjadi penonton dari genosida ini. Dunia internasional diminta segera bertindak, bukan hanya mengeluarkan pernyataan kosong. Jika tidak, satu juta anak Gaza yang kelaparan hanya akan menjadi angka dalam laporan—sementara mereka sebenarnya hanya butuh satu hal: diselamatkan.
“Kelaparan ini bukan bencana alam. Ini dirancang. Ini senjata pembunuh massal paling sunyi di zaman modern,” demikian pernyataan terakhir dari Gaza.* pip




