Hidayatullah.com—Media ‘Israel’ melaporkan bahwa tahap pertama negosiasi terkait pemulangan seluruh tawanan yang ditahan di Gaza, berdasarkan rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump, akan dimulai pada hari Ahad (5/10/2025), demikian dikutip Al Jazeera, Sabtu, 4 Oktober 2025
Laporan itu dikutip dari Otoritas Penyiaran ‘Israel’ yang mengutip sumber politik, setelah Trump menyerukan kepada pemerintah penjajah ‘Israel’ untuk segera menghentikan pengeboman di Jalur Gaza, agar pembebasan para tawanan dapat dilakukan dengan aman. Trump menyebut pernyataan Hamas sebagai tanda bahwa gerakan tersebut siap menuju perdamaian permanen.
Menurut laporan Channel 12 ‘Israel’, Menteri Urusan Strategis Ron Dermer akan memimpin delegasi penjajah ‘Israel’ dalam perundingan mengenai Gaza besok. Sumber tersebut menambahkan bahwa para tawanan bisa dikembalikan dalam beberapa hari.
Channel 12 juga melaporkan bahwa utusan Amerika untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, sedang menuju Mesir untuk berpartisipasi dalam perundingan tidak langsung antara pemerintah penjajah ‘Israel’ dan Hamas, sebagai bagian dari rencana Trump guna mewujudkan gencatan senjata dan pertukaran tawanan.
Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan pada Sabtu bahwa pihaknya siap untuk melaksanakan segera tahap pertama rencana Trump, yang mencakup pembebasan semua tawanan di Gaza.
Sementara itu, tentara penjajah melaporkan bahwa Kepala Staf Eyal Zamir memimpin rapat khusus untuk menilai situasi terkini, dihadiri oleh wakil kepala staf, kepala operasi, intelijen, perencanaan, serta komandan komando selatan dan angkatan udara.
Militer mengatakan Zamir menginstruksikan peningkatan kesiapan untuk melaksanakan tahap pertama rencana Trump, sesuai arahan kepemimpinan politik.
Dalam rapat itu ditegaskan bahwa keamanan pasukan menjadi prioritas utama, dan semua kemampuan militer akan difokuskan untuk melindungi komando selatan.
Situs berita Amerika Axios mengutip seorang pejabat pendudukan yang mengatakan bahwa militer akan beralih ke operasi defensif di Jalur Gaza dan menghentikan upaya penguasaan Kota Gaza.
Surat kabar ‘Israel’ Hayom juga mengutip sumber politik yang mengatakan bahwa penghentian operasi ofensif di Gaza bertujuan memberi waktu bagi pejuang Hamas untuk mempersiapkan pelaksanaan pembebasan tawanan.
Namun, sumber tersebut menegaskan bahwa langkah itu bukan merupakan gencatan senjata resmi. Ketika tahap pertama mulai dijalankan, Hamas diwajibkan membebaskan para tawanan dalam waktu tiga hari, dan hal itu tidak menandai dimulainya penarikan pasukan.
Sumber itu menambahkan bahwa pasukan pendudukan akan terus memantau situasi di lapangan dan tidak akan membiarkan kelompok pejuang perlawanan memanfaatkan situasi untuk melakukan serangan atau memperkuat kendali di wilayah Gaza.
“Negosiasi yang dimulai besok akan segera menunjukkan apakah Hamas kembali menunda-nunda atau telah menyadari bahwa mereka tidak punya pilihan selain menerima rencana Trump,” ujar sumber tersebut.
Tekanan Domestik di ‘Israel’
Sementara itu, keluarga tawanan ‘Israel’ di Gaza menyerukan kepada masyarakat untuk turun ke jalan dan berunjuk rasa di Tel Aviv pada Sabtu malam, menyebut hari-hari ini sebagai waktu yang menentukan.
Sebuah survei yang dilakukan oleh Institut Studi Keamanan Nasional ‘Israel’ menunjukkan bahwa 64 persen warga ‘Israel’ berpendapat sudah saatnya perang di Gaza diakhiri, sementara 72 persen lainnya tidak puas dengan cara pemerintah menangani perang tersebut.
Hamas Tanggapi Rencana Trump
Sebelumnya, Hamas telah menyampaikan tanggapannya kepada para mediator terkait rencana Trump. Dalam pernyataannya, gerakan itu mengatakan telah melakukan konsultasi luas untuk mencapai posisi yang bertanggung jawab, sebagai bagian dari upaya menghentikan agresi pasukan pendudukan ‘Israel’.
Hamas menegaskan kesediaannya untuk membebaskan seluruh tawanan, baik yang hidup maupun yang telah gugur, sesuai dengan proposal Trump yang menjamin penghentian perang dan penarikan penuh pasukan pendudukan dari Jalur Gaza, serta menciptakan kondisi di lapangan yang memungkinkan pelaksanaan pertukaran tersebut.
Gerakan itu juga menyatakan kesiapan segera untuk memulai perundingan melalui para mediator guna membahas seluruh rincian pelaksanaan kesepakatan.
Respons Amerika Serikat
Menanggapi langkah tersebut, Presiden AS Donald Trump menyerukan agar pemerintah pendudukan ‘Israel’ segera menghentikan serangan di Gaza, setelah Hamas menyatakan kesediaannya untuk membebaskan tawanan dan menerima sejumlah ketentuan lain.
Trump mengatakan ia yakin Hamas kini siap untuk perdamaian yang abadi. Dalam unggahannya di platform Truth Social, ia menulis: “‘Israel’ harus menghentikan pengeboman Gaza sekarang juga agar kita bisa mengevakuasi para sandera dengan aman dan cepat. Saat ini terlalu berbahaya untuk melakukannya.”
Trump menambahkan bahwa pembahasan mengenai rincian pelaksanaan rencana sedang berlangsung. “Ini bukan hanya tentang Gaza, tetapi tentang perdamaian yang telah lama ditunggu di Timur Tengah,” ujarnya.
Situasi Kemanusiaan di Gaza
Sejak 7 Oktober 2023, pasukan pendudukan ‘Israel’ dengan dukungan Amerika Serikat telah melancarkan agresi militer yang disebut sebagai genosida terhadap rakyat Gaza. Serangan itu telah menewaskan 66.288 warga Palestina dan melukai 169.165 orang lainnya, sebagian besar anak-anak dan perempuan.
Kondisi kemanusiaan juga kian memburuk dengan terjadinya kelaparan parah yang telah menewaskan 457 orang, termasuk 152 anak-anak.*




