Hidayatullah.com— Tokoh politik Palestina Dr. Mustafa Barghouti menilai perang ‘Israel’ di Gaza telah gagal mencapai tujuannya. Dalam wawancara dengan Al-Araby TV, Barghouti menyebut bahwa militer ‘Israel’ (IDF) kini justru menunjukkan tanda-tanda inferioritas setelah gagal “melenyapkan Hamas” seperti yang dijanjikan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
“‘Israel’ gagal mencapai empat dari lima tujuan yang dicanangkan Netanyahu. Mereka gagal memulihkan tawanan dengan kekuatan militer, gagal mencabut perlawanan, gagal memaksakan kendali, dan gagal memaksakan normalisasi sebagai pengganti penyelesaian masalah Palestina,” ujar Barghouti.
Menurutnya, fakta bahwa ‘Israel’ kini harus bernegosiasi dengan Hamas untuk pertukaran tahanan menjadi bukti bahwa perang yang digadang untuk “menghancurkan Hamas” justru memperkuat posisi gerakan tersebut.
“Netanyahu berulang kali mengatakan akan mencabut dan memusnahkan Hamas, tapi pada akhirnya ia sendiri bernegosiasi dengan Hamas. Ini pengakuan kekalahan,” tegas Barghouti.
Dalam wawancara itu, Barghouti juga menyoroti kontras antara perlakuan terhadap tahanan ‘Israel’ dan tahanan Palestina. Ia menunjukkan bagaimana para tawanan ‘Israel’ yang baru dibebaskan “dalam kondisi baik, dihormati dan diperlakukan manusiawi,” sementara para tahanan Palestina “keluar dari penjara ‘Israel’ dalam keadaan kurus, lemah, dan teraniaya.”
“Itu gambar yang memalukan bagi Netanyahu. Ia ingin memperlihatkan kekuatan, tapi justru perlawanan menunjukkan moralitas yang lebih tinggi,” kata Barghouti.
Barghouti menilai bahwa kondisi ini mencerminkan kegagalan moral dan politik ‘Israel’ di hadapan dunia internasional. “Anak-anak Gaza masih hidup, rakyat Palestina masih berdiri. Masalah Palestina tidak hilang, justru semakin kuat,” ujarnya.
Ia juga mengkritik keras upaya sebagian pihak di Barat untuk memisahkan Gaza dari Tepi Barat, dengan alasan keamanan atau administrasi. Menurutnya, langkah itu akan membahayakan ide negara Palestina merdeka.
“Menerima pemerintahan asing di Gaza sama saja menerima penjajahan baru. Memisahkan Gaza dari Tepi Barat berarti menghapus gagasan Palestina sebagai negara yang utuh,” katanya.
Terkait pernyataan Presiden Amerika Serikat yang menyebut kehadiran Hamas di lapangan “tidak bisa dihapus sepenuhnya”, Barghouti menilai itu sebagai pengakuan terselubung bahwa Hamas tetap menjadi kekuatan politik dan militer yang nyata.
“Bahkan Amerika kini menyadari Hamas tidak bisa dihilangkan. Mereka berbicara tentang pelucutan senjata perlawanan, tapi tidak pernah berbicara tentang melucuti senjata ‘Israel’ atau pemukim bersenjata di Tepi Barat,” ujarnya.
Barghouti menegaskan bahwa dalam dua tahun terakhir lebih dari 100.000 senjata beredar di tangan para pemukim ‘Israel’, yang menurutnya “berubah menjadi geng teroris yang menyerang warga Palestina tanpa hukuman.”
“Tidak ada yang menuntut pelucutan senjata pemukim atau tentara ‘Israel’. Tapi mereka menuntut pelucutan hak rakyat Palestina untuk melawan ketidakadilan. Itu bentuk ketimpangan paling jelas,” tegasnya.
Ia menutup wawancara dengan menyerukan persatuan nasional Palestina, agar seluruh faksi—termasuk Hamas dan Fatah—terlibat dalam satu posisi politik bersama menghadapi tekanan internasional.
“Hanya dengan posisi Palestina yang bersatu, kita bisa menolak proyek pemisahan Gaza dan mempertahankan hak atas kemerdekaan sejati,” kata Barghouti kepada Al-Araby TV.*




