Hidayatullah.com—Surat kabar berbahasa Ibrani Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa Menteri Perhubungan ‘Israel’, Miri Regev, mengusulkan agar jenazah mantan pemimpin Hamas di Gaza, Yahya Sinwar, dibakar, serupa dengan apa yang dilakukan Amerika Serikat terhadap jenazah Usamah bin Laden pada tahun 2011.
Laporan itu menyebut usulan tersebut muncul dalam rapat kabinet keamanan ‘Israel’ baru-baru ini yang membahas langkah-langkah lanjutan menjelang kemungkinan akhir operasi militer di Jalur Gaza.
Menurut Yedioth Ahronoth, Regev mengklaim bahwa tindakan tersebut “akan mengirimkan pesan simbolis yang kuat” kepada Hamas dan dunia Arab.
“Kita tidak boleh memperlakukan mayat teroris seperti pahlawan,” ujar Regev sebagaimana dikutip surat kabar itu. “Jenazah Sinwar harus dibakar, seperti yang dilakukan Amerika terhadap Bin Laden.”
Sumber-sumber kabinet zionis yang tidak disebut namanya mengatakan sebagian besar menteri, termasuk Menteri Pertahanan Yoav Gallant dan Kepala Staf IDF Herzl Halevi, menolak gagasan tersebut, menilai bahwa tindakan semacam itu akan menimbulkan kecaman internasional dan memperkeruh hubungan diplomatik ‘Israel’.
Salah satu pejabat dilaporkan mengatakan bahwa “‘Israel’ harus tetap berpegang pada standar hukum dan kemanusiaan, bahkan terhadap musuh terburuknya.”
Mengutip laporan yang sama, Yedioth Ahronoth menjelaskan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak menanggapi langsung usulan Regev dalam forum tersebut, namun menegaskan agar setiap keputusan mengenai perlakuan terhadap jenazah tokoh pejuang Hamas akan didasarkan pada pertimbangan hukum internasional dan keputusan tentara.
Kontroversi muncul setelah spekulasi intensif mengenai nasib Yahya Sinwar, yang sejak akhir September diyakini bersembunyi di jaringan terowongan bawah tanah di selatan Gaza.
Pihak militer penjajah awal Oktober menyatakan telah “menutup lingkaran” terhadap sejumlah pemimpin Hamas yang bersembunyi, termasuk Sinwar, meski belum ada konfirmasi pasti mengenai keberadaannya.
Dalam laporan terpisah, sejumlah media ‘Israel’ menilai pernyataan Regev mencerminkan meningkatnya tekanan politik internal dalam kabinet Netanyahu, terutama di tengah desakan kelompok kanan untuk “menghapus seluruh jejak kepemimpinan Hamas” setelah genap satu tahun operasi militer di Gaza.
Pernyataan Regev segera memicu reaksi di media sosial dan lingkungan politik ‘Israel’. Anggota oposisi dari Partai Buruh dan Meretz mengecam usulan itu sebagai “tindakan yang tidak manusiawi dan hanya memperdalam kebencian.”
Salah satu anggota Knesset dari Meretz menulis di platform X bahwa “mereka yang mengklaim berperang demi nilai-nilai moral tidak boleh meniru tindakan yang melanggar martabat manusia, bahkan terhadap musuh.”
Sementara juru bicara Hamas, Fawzi Barhoum, mengecam keras usulan tersebut dan menyebutnya sebagai “tindakan barbar yang menunjukkan kebiadaban ‘Israel’”. “Kami akan membalas setiap tindakan keji ini dengan cara kami sendiri,” ancam Barhoum dalam sebuah pernyataan resmi.
Kritik terhadap usulan Regev juga datang dari kalangan internasional. Organisasi Amnesty International mengingatkan bahwa pembakaran jenazah dapat dianggap sebagai penghinaan terhadap martabat manusia dan bertentangan dengan hukum internasional.*




