Hidayatullah.com—Media ‘Israel’ Jerusalem Post dan Haaretz melaporkan adanya kekhawatiran pejabat ‘Israel’ atas pos militer Turki yang kini mulai menancap di Gaza.
“Bagaimana mungkin kita berusaha menjauhkan Turki dari Suriah tetapi malah membiarkan mereka masuk lewat pintu depan—di perbatasan kami?,” ujar Orit Strock, Menteri Nasional ‘Israel’.
Ia menegaskan, “Saya tidak ingin melihat seorang Turki pun di Gaza—bukan naik traktor, jeep, atau sepatu roda” (Haaretz, 20 Oktober 2025).
Media ini juga mengungkap bahwa Amerika Serikat mendukung kehadiran Turki di Gaza sebagai “mesin perang”, suatu langkah yang membuat ‘Israel’ merasa terancam di perbatasan mereka.
Seorang mantan perwira ‘Israel’ Gregory Tamar juga menyiratkan rasa cemasnya jika tentara Turki berada di Jalur Gaza. “Apakah kita ingin terbangun dengan kenyataan bahwa Gaza telah berubah menjadi pangkalan militer Turki setelah 10 tahun? Mereka ingin mencekik kita dari dua sisi. Tentara Turki adalah kekuatan militer yang serius. Semua orang memperhitungkan hal itu, begitu pula kita,” ujarnya dalam sebuah wawanca.
AS Dukung Turki dalam Misi Perdamaian Gaza
Sementara menurut media Jerman, Deutsche Welle (DW), Turki bergabung dalam gugus tugas multinasional yang dibentuk bagian dari kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan ‘Israel’ yang didukung AS.
Middle East Eye (MEE) yang berbasis di Inggris menulis, Hamas telah menuntut pengerahan pasukan Turki ke Gaza untuk menjamin gencatan senjata, tetapi pejabat AS mengonfirmasi bahwa penjajah ‘Israel’ menentang kehadiran Turki ini.
Meski demikian Menteri Pertahanan Turki Hakan Fidan memastikan bahwa pengiriman pasukan untuk misi perdamaian dan pengawasan gencatan senjata sudah dipersiapkan, walau rincian jumlah personel
dan waktu penugasan belum jelas.
Media Turki juga melaporkan bahwa AS akan mengawasi agar ‘Israel’ mematuhi kesepakatan, sementara pasukan Turki, Mesir, dan Qatar berperan mengawasi Hamas agar memenuhi komitmen kesepakatan.
Media Turki melaporkan Presiden Recep Tayyip Erdoğan menegaskan kembali dukungannya kepada rakyat Gaza serta perlawanan yang sah di sana. Turki mengecam invasi ‘Israel’ yang dianggap sebagai kejahatan kemanusiaan dan mengancam akan mengerahkan pasukan jika ‘Israel’ melanggar gencatan senjata.
Selain itu, Turki memblokir semua kerja sama militer antara NATO dan ‘Israel’ sampai genosida di Gaza berakhir sebagai bentuk solidaritas dan tekanan terhadap ‘Israel’, kutip Times of Israel.
Para analis memperkirakan, pada akhirnya, struktur Zionis akan menerima kehadiran Turki — entah mereka menginginkannya atau tidak— karena apa yang diajukan Turki dinilai tidak memberi mereka pilihan lain.*




