Hidayatullah.com – Sedikitnya 25 warga Palestina telah syahid akibat serangan udara ‘Israel’ yang menjadi pengkhianat terbaru zionis terhadap kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi AS pada bulan lalu.
Pertahanan Sipil Gaza mengatakan pada hari Rabu bahwa serangan ‘Israel’ menargetkan lokasi-lokasi di mana pasukannya telah ditarik berdasarkan perjanjian gencatan senjata.
Israel melakukan tiga serangan terpisah di Kota Gaza di utara wilayah Palestina dan Khan Younis selatan, menurut badan tanggap darurat Palestina tersebut.
Setidaknya 12 orang tewas oleh Israel di wilayah Kota Gaza, sementara 10 orang lainnya tewas dalam serangan di Khan Younis.
Laporan media lokal menyebut 17 perempuan dan anak-anak termasuk di antara mereka yang dibantai oleh ‘Israel’, termasuk 77 warga lain yang luka-luka.
Salah satu serangan terjadi di sebuah gedung milik otoritas keagamaan Muslim di lingkungan Zeitoun, dan serangan Khan Younis terjadi di sebuah klub yang dikelola PBB, keduanya menampung keluarga-keluarga Palestina yang mengungsi.
“Tim tanggap darurat terus mencari korban selamat dan mengevakuasi korban luka, karena jumlah korban kemungkinan akan terus bertambah,” lapor kantor berita WAFA.
400 kali melanggar gencatan senjata
Pembantaian terbaru zionis ‘Israel’ terjadi saat Donald Trump menyambut kedatangan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman di ibu kota AS.
Selama kunjungannya, ia mengadakan diskusi pertahanan dan perdagangan dengan Presiden AS Donald Trump dan menyatakan kesediaannya untuk bergabung dengan Perjanjian Abraham dengan Israel, dengan syarat ada “jalur yang jelas” menuju kenegaraan Palestina.
Trump berulang kali mengklaim telah menghentikan tujuh konflik dalam tujuh bulan, termasuk menjadi mediator perjanjian gencatan senjata antara ‘Israel’ dan Hamas.
Namun, serangan berulang ‘Israel’ di Gaza dan negara tetangga Lebanon mempersulit upaya Trump.
Sementara itu, kelompok perlawanan Islam Palestina Hamas mengecam serangan Israel sebagai “eskalasi berbahaya”, memperingatkan bahwa serangan tersebut membahayakan gencatan senjata yang rapuh.
“Kami menganggap ini sebagai eskalasi berbahaya yang digunakan penjahat perang (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu untuk melanjutkan genosida terhadap rakyat kami,” tulis Hamas dalam sebuah pernyataan.
Otoritas kesehatan Palestina mengatakan militer ‘Israel’ telah melancarkan 393 serangan, menewaskan sedikitnya 290 warga Palestina dan melukai hampir 700 lainnya dalam serangan di Gaza sejak gencatan senjata 10 Oktober.
Jumlah korban harian tertinggi tercatat pada 29 Oktober, ketika ‘Israel’ menewaskan lebih dari 100 orang.
Genosida ‘Israel’ di Gaza telah membunuh lebih dari 69.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, melukai lebih dari 170.000 lainnya, dan menghancurkan daerah kantong itu menjadi puing-puing.
Para ahli berpendapat bahwa ini adalah perkiraan yang terlalu rendah, dengan jumlah korban tewas sebenarnya berpotensi mendekati 200.000.
Hampir semua warga Palestina telah dipaksa meninggalkan rumah mereka selama lebih dari dua tahun genosida ‘Israel’ di daerah kecil nan padat itu, sejak 7 Oktober 2023, dengan banyak di antara mereka kini tinggal di tenda-tenda dan tempat penampungan dasar lainnya.
Warga Palestina telah dilanda banjir akibat hujan lebat dan gelombang badai dalam beberapa hari terakhir, menghancurkan beberapa tempat penampungan, membasahi kasur dan selimut, serta menambah penderitaan bahkan setelah gencatan senjata yang terus dilanggar ‘Israel’.
Juru bicara UNICEF, Tess Ingram, mengatakan bahwa persediaan tempat penampungan untuk keluarga di UNICEF akan habis dalam beberapa hari dan mendesak otoritas ‘Israel’ untuk segera mengizinkan lebih banyak bantuan masuk.*




