Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Palestina Terkini

Inilah yang Terjadi di Wilayah Jajahan Palestina

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 Oktober 2016 12:45 12:45 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 11 Oktober 2016 12:45
Bagikan
Tentara Zionis Israel menyerang anak di Palestina
Bagikan

Oleh: Dr Daud Abdullah

 

SETELAH mengunjungi Hebron pada 1996, mendiang Edward Said, seorang intelektual Palestina, menulis, “situasi saat ini tidak akan dapat bertahan, terdapat banyak ketidakadilan dan ketimpangan di jantung kehidupan penduduk Palestina.”

Dua dekade kemudian, tidak ada tanda-tanda berakhirnya kondisi menyedihkan yang dia sesalkan saat itu. Sebaliknya, keadaan itu telah makin memburuk.

Bahkan keputusan kontroversial Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas untuk menghadiri pemakaman mantan Presiden Israel Shimon Peres yang cukup untuk memberi tanda penangguhan siksaan harian warga Palestina di wilayah penjajahan. Tidak lama sekembalinya dia ke Ramallah, Zionis-Israel mendeklarasikan Tel Rumeida, sebuah pemukiman di Hebron, menjadi wilayah militer tertutup.

Baca Juga

Al-Aqsha Ditutup untuk Muslim, Para Rabi Berdoa di Tembok Al-Buraq Picu Sorotan
Gelombang Protes Tolak UU Hukuman Mati Israel bagi Tahanan Palestina
Menteri Penjajah Tuangkan Miras Rayakan Disahkannya Hukuman Mati untuk Warga Palestina Terjajah
Zionis Sahkan Undang-Undang Hukuman Mati bagi Warga Palestina Terjajah, Picu Kritik Internasional
Babak Baru Pendudukan: ‘Israel’ Resmikan Pencaplokan Tepi Barat

Mahmoud Abbas Hadiri Pemakaman Shimon Peres, Warga Palestina Mengecam

Seperti yang selalu terjadi ketika penutupan dilakukan, para pelajar dan penduduk Palestina yang berupaya masuk sekolah atau melakukan kegiatan sehari-hari di sana diperintahkan untuk kembali ke rumah mereka hingga 600 pemukim ilegal Yahudi yang tinggal di Hebron menyelesaikan festival keagamaan mereka. Kegiatan ini diperkirakan berakhir dalam beberapa hari. Masjid Ibrahimi juga ditutup bagi jamaah Muslim untuk enam hari.

Seperti para Muslim yang secara rutin tidak diperbolehkan pergi ke masjid, penduduk Kristen Palestina di Bethlehem dan Jerusalem juga harus memiliki ijin untuk beribadah di gereja-gereja mereka ketika melewati tembok “keamanan” setinggi delapan meter.

Sebelum dibangunnya “negara Israel” pada 1948, penduduk Kristen terhitung berjumlah 18 persen dari populasi Palestina. Hari ini, jumlah mereka kurang dari 1,5 persen. Untuk alasan pembenaran politik, politisi barat dan pemimpin gereja menutup mata dari penyebab sebenarnya dari eksodus ini; mereka telah memilih untuk mencari kambing hitam dalam dugaan “penganiayaan oleh Muslim”. Ini jelas-jelas tidak masuk akal dan memainkannya di tangan jahat Zionis-Israel.

Di Hebron, kehidupan 200.000 penduduk Palestina jauh dari kata normal. Setiap aspek dari kehidupan mereka dibayangi oleh aktivitas para pemukim yang sekarang tinggal diantara mereka secara ilegal, dengan perlindungan penuh militer dari Israel Defence Forces (IDF).

Penduduk Palestina harus berjuang melewati penutupan jalan atau pos-pos militer yang membanjiri kota tua dan wilayah sekelilingnya.

Laporan baru-baru ini memastikan bahwa lebih dari 1.000 apartemen perumahan telah dikosongkan karena kekerasan yang mempengaruhi populasi penduduk Palestina setempat. Hal ini sepenuhnya telah diperkirakan; penutupan lebih dari 800 bisnis komersial oleh Zionis-Israel dimaksudkan agar hal itu terjadi – membuat kehidupan sangat tidak tertahankan bagi penduduk setempat karena mereka akan pergi “atas kemauan mereka sendiri”. Dalam istilah Zionis hal itu lebih dikenal sebagai “silent transfer.”

Di tempat lain di Tepi Barat, sistem ketidakadilan yang dijelaskan oleh Edward Said juga terjadi. Masyarakat di Qalqiliya yang didominasi petani hampir sepenuhnya dikelilingi oleh tembok apartheid Israel, memisahkan para petani dari ladangnya sendiri.

Tembok rasial di Palestina
Tembok rasial ini memisahakan warga Palestina dan keluarganya, memisahkan tempat tinggal dengan kebun-kebunnya [electronicintifada.net]
Lebih dari 170.000 pria, wanita dan anak-anak secara bersamaan terkunci dalam tembok di Bethlehem. Mantan Presiden AS Jimmy Carter menemukan bahwa para penduduk harus mempunyai ijin “penduduk tetap” dari otoritas penjajah Israel agar dapat melanjutkan tinggal di rumah mereka sendiri.

Tidak memperbolehkannya penduduk kulit hitam Afrika memasuki tempat yang dinamakan “wilayah putih” di Afrika Selatan sama seperti tidak diperbolehkannya penduduk Palestina memasuki Tepi Barat atau dari Gaza menuju Jerusalem tanpa izin militer.

Saat ini, umumnya hanya mereka yang berumur 45 tahun ke atas diperbolehkan mendapat izin. Sementara pastinya terdapat sedikit perbedaan, ahli hukum Afrika Selatan John Dugard menunjuk bahwa ciri yang sama antara apartheid Afrika Selaran dan versi Israel ialah diskriminasi, penindasan dan pemisahan wilayah.

Di bawah kondisi penindasan dan merendahkan ini hanya masalah waktu sebelum meletusnya gelombang Intifada Ketiga di wilayah penjajahan.

Keputusan Israel untuk merebut tanah Palestina dari penduduknya; penutupan dan penistaan situs agama; dan pembunuhan ekstrajudisialnya semua itu menyebabkan terjadinya intifada di tahun-tahun sebelumnya. Banyaknya jumlah pemukim ilegal (lebih dari setengah juta) dan pos-pos militer yang tersebar di sepanjang Tepi Barat (lebih dari 500) juga membuat kondisi ini memicu kemarahan dan ketidakpuasaan yang semakin memburuk.

Selama perjuangan panjang mereka melawan kolonisasi Zionis, Palestina telah menampilkan beberapa perlawanan. Sekalinya terjadi, perlawanan itu tidak akan mudah dihentikan. Lemah di dua bagian, militer serta politik, penduduk Palestina pada setiap kesempatannya telah menderita kerugian material dan manusia yang tak terhitung jumlahnya. Namun, bagi setiap generasinya, hal itu dianggap sebagai harga yang layak dibayarkan demi kebebasan mereka dari penjajahan brutal militer Israel.

Alam dan jalan dari perlawanan tersebut selalu tidak bisa diprediksi. Hal itu terjadi hari ini terutama sejak tidak ada satu faksi politikpun yang tampil dengan jelas untuk memimpin atau mengatur tindakan di lapangan.

Horor Sniper dalam Intifada al-Quds, 1,5 Juta Warga Israel Ketakutan [1]

Tidak adanya inisiatif politik yang serius, dan diberinya penetapan Israel untuk mempertahankan penjajahan dan dominasinya atas  Palestina, sangatlah beralasan berharap intifada saat ini dapat dilanjutkan dengan baik ke depannya.

Dalam hal ini, betul kata Edward Said: “Tidak akan berakhir upaya Palestina untuk mengakhiri sistem ketidakadilan yang terjadi saat ini, yang hanya terjadi di wilayah penjajahan Palestina.”*

Peneliti senior di Palestinian Return Centre, London dan penulis masalah Palestina. Artikel diambil dari middleeastmonitor.com, diterjemahkan Nashirul Haq AR

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Edward SaidIntifadahisraelpalestinaWilayah Jajahan Palestinawilayah pendudukanZionis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ketum Pemuda Muhammadiyah: Ahok Harus Tetap Diproses Hukum
Tulisan selanjutnya Dengan Wahyu, Kekuasaan Islam Terbentang di 3 Benua dan Lebih dari 35 Negara

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Berita
3 Juni 2026 13:00
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Terbaru

  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Mungkin Anda Juga Suka

Palestina Terkini

Khaled  Misy’al: Senjata Bagi Hamas adalah Alat Pertahanan Diri dari Penjajahan

10 Februari 2026 06:48
Palestina Terkini

Netanyahu Tegaskan Tak Akan Ada Lagi Palestina dan Gaza

9 Februari 2026 11:14
Palestina Terkini

Serangan Baru ‘Israel” Menunjukkan Penjajah Tak Peduli “Dewan Perdamaian”

1 Februari 2026 18:43
Palestina Terkini

Dosen Fakultas Ushuluddin Ungkap Kesaksian Akademik tentang Abu Ubaidah 

3 Januari 2026 19:52
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?