Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

”Ini Sindikat Perdagangan Manusia!”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 November 2010 09:14 9:14 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 November 2010 09:14
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Mencuatnya kasus Sumiati. Tenaga Kerja Wanita (TKW) Sumiati (23 tahun), tenaga kerja wanita asal Nusa Tenggara, dianiaya majikannya di Arab Saudi mencuri perhatian seluruh masyarakat. Banyak orang marah atas peristiwa ini. Meski demikian, sesungguhnya, kasus serupa juga sering terjadi, tak hanya di Saudi semata, bahkan beberapa kejadian yang menimpa TKW kita di Malaysia, Hong Kong dan beberapa Negara lain. Mengapa sering seperti ini? Bagaimana pembelaan perintah kita?

Untuk itu, hidayatullah.com mewawancarai Anis Hidayah, Direktur Eksekutif Migrant Care. Inilah petikannya.

Kasus-kasus yang menimpa para TKI di luar negeri tak kunjung selesai. Menurut Anda, apa yang menjadi pangkal masalahnya?

Setidaknya saya melihat beberapa hal yang menjadi penyebabnya. Saya melihat selama ini ada pembiaran yang dilakukan pemerintah. Pemerintah tak serius menangani permasalahan para TKI di berbagai negara. Permasalahan TKI dari tahun ke tahun tidak ada perubahan.

Selain itu, saya melihat tindakan pemerintah dalam merespon persoalan TKI itu lebih bersikap reaktif, yakni penyelesaiannya selalu dengan cara ad hoc. Misalnya di Yordania ada ratusan TKI yang tak berdokumen atau ilegal, maka solusinya pemulangan. Atau di Malaysia ada 800 ribu orang dideportasi, maka solusinya pembangunan tempat penampungan. Pemerintah tak pernah membangun kebijakan yang holistik.

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Menurut analisa Anda, mengapa pemerintah bersikap seperti itu?

Pemerintah kerap memandang pengiriman TKI hanya dari sisi keuntungan ekonomi yang diraih. Selama ini memang mindset (pola pikir) pemerintah adalah ekonomi. Maka, kebijakan-kebijakan yang dilahirkan pun fokusnya pada peningkatan ekonomi. Seperti bagaimana cara menggenjot angka penempatan para TKI, sehingga devisa meningkat.

Tetapi persoalan-persoalan yang selama ini terjadi, secara sistematis diabaikan. Seperti pemalsuan dokumen TKI yang dilakukan PJTKI. Tentu tak ada pemalsuaan dokumen bila instansi di Indonesia yang mengeluarkan dokumen TKI melakukan pengawasan ketat.

Apakah Anda melihat indikasi kongkalikong antara PJTKI dengan instansi pemerintah?

Ya. Sepertinya memang ada kongkalikong. Pengiriman TKI merupakan bisnis menggiurkan. Saya kira hasil bisnis yang diperoleh PJTKI ini mengalir juga ke kantor-kantor pemerintah.

Di Indonesia itu ada 14 instansi yang memiliki otoritas, fungsi dan kewenangan untuk terlibat dalam pengiriman TKI. Untuk pergi ke Hongkong, TKI harus menggeluarkan uang sekitar Rp. 16 juta. Gaji mereka dipotong hingga 7 bulan.

Taiwan lebih parah. Mereka yang bekerja di sana harus rela dipotong 16 bulan gaji. Enam bulan pertama dipotong 100%., kemudian masuk bulan ke 7 hingga 10 dipotong 50 persen. Bulan selanjutnya dipotong 40-20 persen. Masuk bulan ke 17 para TKI menerima gajinya secara utuh.

Saya memperkirakan PJTKI bisa meraup untung bersih hingga mencapai Rp. 15 juta per-TKI yang diberangkatkan. Keuntungan bisa lebih dari 15 juta bila memberangkatkan ke negara-negara tertentu, seperti Hong Kong.

Selain pemalsuan dokumen, pelanggaran apa saja yang kerap dilakukan PJTKI?

Ada beberapa syarat untuk menjadi TKI. Salah satunya terkait peningkatan kualitas. Para calon TKI mesti mengikuti pendidikan atau pelatihan sebelum keberangkatan. Pendidikan yang menyangkut peningkatan skill, pengetahuan hukum, pengetahuan hak-hak sebagai TKI. Selama ini kami melihat PJTKI memberikannya kepada calon TKI secara formalitas, untuk memenuhi kualifikasi yang ditetapkan Kemenakertrans.

Di bandara, kami pernah mewawancarai sejumlah calon TKI yang akan berangkat, apakah mereka mendapatkan keterampilan (dari PJTKI)? Dari penuturan mereka, sebagian besar menjawab tidak. Delapan puluh lima persen TKI yang berangkat ke luar negeri tidak mengikuti persiapan peningkatan kualitas.

Bagaimana dengan batas pendidikan minimal bagi para calon TKI?

Dalam UU Nomor 39 tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan TKI, lulusan SD tidak menjadi persoalan untuk menjadi TKI. TKI yang lulusan SD ke bawah lebih dari 50% jumlahnya. Dengan pendidikan rendah ini, jangan heran bila para TKI lebih banyak bekerja pada sektor informal atau menjadi pembantu rumah tangga..

Dengan kualitas minim dan pendidikan yang rendah apakah pengiriman TKI ini bisa disamakan perdagangan manusia?

Ya. Saya kira ini sindikat perdagangan manusia. Para agen menjanjikan mimpi-mimpi yang indah di negara orang, tanpa melengkapi mereka dengan keterampilan, kualitas kerja, kelengkapan dan keaslian dokumen. Janji-janjinya adalah gaji tinggi, kerja tidak berat, seperti menjadi pelayanan di toko maupun restauran.

Indonesia memiliki UU Nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang. UU ini bisa menjerat praktik-praktik perdagangan manusia atas nama pengiriman TKI. Celakanya penegakkan hukum di Indonesia sangat lemah. Pemerintah tak tegas menindak PJTKI yang kerap melakukan pelanggaran-pelanggaran seperti pemalsuan dokumen maupun tidak memberikan pelatihan bagi para calon TKI. [syaf/hid/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menangislah, Ketika Membaca al-Quran
Tulisan selanjutnya Mesir Tolak Laporan AS tentang Kebebasan Beragama

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Serangan rudal Iran di Tel Aviv Israel
Berita

Timur Tengah Kian Memanas, Iran Tutup Wilayah Udara usai Serangan ke ‘Israel’

Berita
8 Juni 2026 19:30
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
Haedar Nashir: Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Tradisi Ilmu dan Kebijakan yang Berkelanjutan
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang

Terbaru

  • Kemendikdasmen Siapkan Kurikulum PAUD untuk Dukung Program Wajib Belajar 13 Tahun
  • MUI Kembali Dorong Undang-Undang Ketahanan Keluarga untuk Perkuat Fondasi Bangsa
  • Jenderal ‘Israel’ Naik Pangkat Usai Bunuh Anak Palestina, Kini Dipecat karena Skandal Moral
  • Haedar Nashir: Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Tradisi Ilmu dan Kebijakan yang Berkelanjutan
  • Timur Tengah Kian Memanas, Iran Tutup Wilayah Udara usai Serangan ke ‘Israel’
  • BPJPH Dorong Pelaku Usaha Urus Sertifikat Halal Jelang Wajib Halal 2026
  • Emil Salim Dorong MUI Perluas Dakwah Ekologis ke Kalangan Menteri Kabinet
  • Turki: Insya Allah Kita akan Saksikan Pembebasan Baitul Maqdis
  • MUI: Kasus Hukum di BGN Harus Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola dan Integritas Pengelola
  • Penjajah ‘Israel’ Lancarkan Serangan di Berbagai Wilayah Gaza, 10 Orang Syahid

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?