Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Bertafakur di ”Gunung Moshaddeq”

Ahmad
Terakhir diupdate:
Ahmad
Dipublikasikan 7 Februari 2011 05:03
Bagikan
Gerbang Wana Gunung Bunder
Bagikan

SHALAT Subuh berjamaah baru saja usai. Udara begitu dingin. Suhunya berkisar antara 18 – 23 celcius. Embun terlihat menempel di kaca jendela vila yang dijadikan tempat shalat berjamaah.

Para jamaah yang sebagian besar anak-anak usia sekolah dasar tidak beranjak dari tempat duduknya. Mereka terlihat antusias menyimak tausyiah dan muhasabah yang diberikan salah seorang guru mereka. Udara yang sejuk membuat segelintir dari anak-anak itu tak kuasa menahan kantuk. Maklum suhu udara yang saat itu mereka rasakan berbeda sekali dengan suhu udara di kota mereka biasa beraktivitas.

Cuplikan kehidupan ini bukanlah di sebuah panti asuhan. Bukan pula di pondok pesantren. Aktivitas apakah ini?

Ini adalah sebuah acara pelatihan motivasi anak-anak dhuafa yang digelar oleh Yayasan Al Mustadh’afiin (YAM) Jakarta di Desa Gunung Bunder 2 Salak Endah Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hidayatullah.com berkesempatan mengikuti acara yang berlangsung dua hari pada akhir Januari lalu itu.

Salim Abdullah, Ketua YAM, mengatakan bahwa acara tersebut bertujuan untuk memompa semangat anak-anak dhuafa dalam meraih mimpi dan cita-citanya. “Persoalan anak-anak dhuafa adalah minimnya kerpercayaan diri. Mereka minder dengan kemiskinannya itu. Untuk itu semoga acara ini menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak,” kata Salim.

Baca Juga

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Gunung Bunder dikenal sebagai kawasan yang berudara sejuk. Daerah yang sempat dijadikan tempat pertapaan Ahmad Moshaddeq, seseorang yang mengaku nabi itu juga memiliki panorama alam yang eksotik. Itu sebabnya pengurus YAM memutuskan pelatihan motivasi diadakan di sana.

“Selain outbond, kami ingin mengajak peserta untuk bertafakur atas ciptaan Allah berupa alam yang indah ini,” kata salah seorang pengurus YAM, Muhammad Irfan kepada hidayatullah.com.

Tafakur sendiri merupakan kegiatan berfikir dan merenungi secara mendalam. Tafakur berarti bagaimana kita sebagai hamba Allah selalu memikirkan, merenungi akan kekuasaan Allah yang meliputi langit bumi beserta seluruh ciptaan-Nya.

******

Matahari mulai menampakkan diri. Jam di handphone menunjukkan pukul 6.45 WIB. Para peserta bersiap melakukan perjalanan outbond ke air terjun (curug) yang berjarak sekitar 2 kilometer dari tempat penginapan mereka. Sepanjang perjalanan menuju curug yang terlihat adalah hamparan sawah dan kebun yang hijau. Seperti informasi yang hidayatullah.com dapatkan, sebagian besar masyarakat Gunung Bunder berprofesi sebagai petani dan peternak.

Rute jalan yang berkelok dan menanjak juga menjadi sensasi yang tak pernah terlupakan.Tidak ada macet. Tidak ada polusi seperti di Jakarta. Udara di dalam bus sewaan yang ditumpangi hidayatullah.com begitu sejuk, meski tidak memiliki AC (alat pendingin ruangan).

Sesaat sebelum sampai di Curug terdapat barisan pohon pinus yang tinggi dan kokoh. Daun dan ranting pohon-pohon itu menutupi langit-langit hingga berbentuk seperti atap perteduhan. Ketika memasuki kawasan konservasi alam itu kita akan sulit menjumpai sinar matahari. Suasananya benar-benar damai dan sejuk.

Mungkin itu sebabnya Moshaddeq memilih tempat ini untuk melakukan pertapaan.

*****

Menyoal tempat pertapaan Moshaddeq, hidayatullah.com sempat berbincang dengan Juanda, Kepala Desa (Lurah) Gunung Bunder 2. Juanda mengatakan bahwa tempat pertapaan Moshaddeq bukan berada di wilayah kekuasaannya. Pertapaan itu berada di Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, Bogor. Namun entah mengapa, nabi palsu itu lebih suka menyebut, telah menerima wahyu di Gunung Bunder. Desa Gunung Sari maupun Desa Gunung Bunder sama-sama berada di Kecamatan Pamijahan.

“Jarak dari sini (rumah Lurah Juanda) ke sana (pertapaan Moshaddeq) sekitar 4 kilometer,” kata Juanda.

Meski begitu, kejadian ini, kata Juanda, juga berdampak negatif ke Desa Gunung Bunder 2. “Ya, desa ini sempat dianggap sarang aliran sesat. Namun, Alhamdulillah warga desa ini tidak ada yang menjadi jamaah al-Qiyadah al-Islamiyah (jamaah besutan Moshaddeq),” jelasnya.

Juanda berkisah, sebelum kasus ini terungkap, ia menerima laporan intelijen yang mengatakan ada seseorang mengaku nabi yang melakukan pertapaan di salah satu vila. Namun, laporan itu tidak menyebutkan letak vilanya.

Juanda beserta warga lalu menindaklanjuti laporan ini dengan mengamati vila-vila yang memang bertebaran di kawasan Gunung Bunder. “Ketika itu hampir setiap malam kami mengamati aktivitas vila-vila yang ada di sini, apakah mencurigakan atau tidak,” terang Juanda.

Selain kasus Moshaddeq, Desa Gunung Bunder 2 juga sempat “dikotori” oleh Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI).

“Kasus Ahmadiyah ada di sini. Bahkan di bawah sana warga memasang tulisan pengumuman bahwa Ahmadiyah dilarang melintasi wilayah ini,” terang Juanda seraya menunjukkan lokasi yang dimaksud.

Juanda mengaku geram dengan keberadaan JAI. Tidak menjadi masalah, kata Juanda, bila JAI tidak mengaku bagian dari Islam.

Juanda mengatakan bahwa maraknya kasus-kasus aliran sesat tidak terlepas dari keberadaan vila-vila. “Karena di sini tempat tujuan wisata, maka sulit sekali kami mengetahui tujuan mereka ke sini,” tandasnya.

Untuk mengantisipasi bahaya aliran sesat pada masa mendatang di Kecamatan Pamijahan dibentuklah organisasi bernama Format yang beranggotakan para ulama dan tokoh Islam. “Organisasi ini rutin menggelar pengajian kitab kuning,” kata Juanda.

*****

Entah apa yang terfikir dibenak Moshaddeq ketika itu? Mengaku Islam, tetapi juga mengaku nabi. Meski mengaku Islam, tentu Moshaddeq ketika berada di Gunung Bunder bukan dalam upaya bertafakur kepada Allah. Melainkan sedang melakukan pertapaan dengan memanfaatkan keindahan dan kedamaian alam milik Allah.

Karena bertafakur bukanlah berkhayal dan berangan-angan kosong, bukan memikirkan keduniaan yang tak berujung. Tetapi mengarahkan kita untuk memikirkan semua fenomena alam dan kaitannya dengan menguatkan keimanan. Bukan malah mengaburkan keimanan.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa mereka.”. (al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 190-191) .*/hidayatullahl.com

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dukung Rakyat Mesir, Warga Inggris Desak Barat Akhiri Campur Tangan
Tulisan selanjutnya Demonstran Mesir Bantah Pernyataan Khamenei

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Berita
18 Juli 2026 09:30
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam

Terbaru

  • ConocoPhillips Kuasai 42 Persen Saham Proyek Ladang Minyak Iraq yang Digarap BP
  • Akmal Sjafril: Lembaga Dakwah Perlu Banyak Diskusi
  • Raja Charles Kunjungi Masjid Cambridge, Erdogan: Langkah Penting Lawan Islamofobia
  • Starmer Mundur Burnham Menjadi Perdana Menteri Inggris Ke-7 Kurun Satu Dekade
  • Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam
  • AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
  • Empat Negara Islam Sepakat Hidupkan Kembali Jalur Kereta Hijaz Warisan Utsmaniyyah
  • Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
  • Kelompok Houthi Nyatakan Blokade Laut terhadap Arab Saudi
  • SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?