“INSYA Allah bulan Syawal panen singkong,” Rusmadiannur tiba-tiba memberi kabar di grup WhatsApp, seraya mengunggah foto kebun singkongnya beberapa waktu lalu (20/03/2020).
Salah seorang anggota grup langsung terpancing. “Elvin mau ngebun (juga).”
“Silakan, ditunggu! Cangkul dah disiapkan,” timpal Rusmadiannur lalu mengatur jadwal berkebun.
Ini bukan grup para petani, tapi grup para pemain sepakbola minisoccer di Depok, Jawa Barat.
Begitulah cara ustadz Nur, demikian dikenal di tengah koleganya, mendakwahkan budaya cocok tanam kepada siapa saja. Termasuk ajakan mencangkul lahan. Memang, selain secara berjamaah, gerakan bercocok tanam juga dilakukan banyak invidu.
Di tengah kesibukannya sebagai pegiat dakwah dan olahraga, Rusmadiannur masih rajin berkebun hingga saat ini. Lahan kosong di belakangan rumahnya, Perumahan Ambar Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tak disia-siakan.
Awalnya, lahan mati “seluas mata memandang” itu dipenuhi semak belukar dan rumput liar. Daripada dijadikan saran hewan-hewan liar dan berbahaya, ia pun membabat dan menghidupkan lahan itu. Tentu setelah diberi izin oleh pemilik tanah. Lahan itu memang bukan punya Rusmadiannur.
Ia mengaku mulai rajin berkebun di situ sejak sekitar 5 tahun terakhir. Menariknya, bapak empat anak ini masih bersemangat dan kuat menggarap sendirian kebunnya. Terkadang ada koleganya sesama pesepakbola yang ikut berkebun, cari keringat, istilahnya.
Menurut alumnus Kuliah Muballigh Muballighah alias KMM (1993) Balikpapan, Kalimantan Timur ini, butuh 6 bulan menunggu singkong panen. Sesekali ia membersihkan lahan. Usai panen, lahan ditanami lagi.
Setelah panen, singkongnya dinikmati tak sendirian. Selain untuk keluarga, juga dibagikan ke tetangga, kolega, dan santri-santrinya. Awak hidayatullah.com ini pernah menemaninya panen tahun lalu (05/02/2019). Singkongnya empuk setelah dimasak, enak dimakan.
Satu hal yang mengherankan dirinya kalau melihat ada anak muda yang tidak piawai berkebun –setidaknya dibanding dirinya yang sudah kepala empat. “Ana heran (saat) lihat hasil cangkulan mahasiswa tidak standar untuk ditanami singkong,” tuturnya seraya bercanda.
“Gemes juga sama anak-anak muda tapi kelihatan tua,” selorohnya lantas tertawa.
Oleh karena itu, ia mengaku siap berduet di “lapangan hijau” kebun dengan anak-anak muda untuk “menggocek” cangkul dan “mencetak gol” singkong. Sebab, baginya, salah satu manfaat berkebun sama seperti olahraga: bikin sehat.
Baca: Muhaimin Iqbal: Tanamlah Pangan Meski di Sejengkal Lahan
Dakwah Via Kurma
Cerita menarik lainnya di sektor ketahanan pangan. Adalah salah seorang ustadz Thoifur Bustomi, Ketua DPW Hidayatullah Lampung. Dai asal Bali ini fokus pada komoditisi asal tanah Arab, kurma.
Thoifur mengaku belajar tentang kurma, baik kursus, pelatihan, studi banding, selama hampir dua tahun. “Terjun seriusnya baru setahun ini,” ujarnya kepada hidayatullah.com, April 2020 secara terpisah.
Beberapa waktu lalu, ia meluncurkan penanaman pohon kurma di kampus kampus Ponpes Tahfizhul Qur’an Putri, Yukum Jaya, Kabupaten Lampung Tengah.
Sejauh ini katanya ia dan tim telah menyemai ratusan bibit kurma. “Yang ditanam agak besar sekitar belasan pohon,” ujarnya.
Selain di dalam kampus pesantren, gerakan menanam pohon kurma juga menjadi ladang dakwah ke para jamaah di tanam di area masjid-masjid dan masyarakat umum.
“Pengusaha luar yang banyak respons semangat, karena sangat prospektif untuk investasi perkebunan di masa depan. Karena kebun pohon kurma akan bertahan produktif berbuah sampai seratus tahun,” ujarnya.
Ia fokus ke kurma karena menurutnya, berdasarkan anjuran keutamaan dalil dari 20 surat al-Qur’an dan 400-an Hadits yang membahas keutamaan dan anjuran mengonsumsi dan menanam kurma.
Selain di Lampung, Thoifur juga berkebun kurma di kampungnya di Bali.
“Semai dan tanam kurma unggul tropis untuk kemakmuran, kesejahteraan, dan keberkahan Indonesia,” tagline yang diusungnya, seraya berpesan bahwa seorang dai harus punya keterampilan hidup lain seperti bercocok tanam.
“Paling serius apa? Ya pangan. Karena kebutuhan dasar,” ujarnya hidayatullah.com di Depok saat diwawancara jarak jauh (25/04/2020).
Oleh karena itu, Muhaimin mendorong masyarakat untuk menghidupkan budaya bercocok tanam, baik ada atau tidak ada wabah. Pendiri Kuttab Al-Fatih ini menyerukan penanaman pangan meski hanya pada sejengkal lahan yang dimiliki seseorang.
“Masyarakat dimanapun yang masih ada (punya lahan) sejengkal tanah, tanam!” seru ekonom Muslim ini.
Rasulullah pun Berkebun
Jauh sebelumnya, 14 abad silam. Sejarah telah mencatat ketahanan pangan yang digalakkan kaum Muslimin, termasuk yang dicontohkan oleh Sang Suri Teladan, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.
Menurut peminat sejarah, alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr Abdurrohim SHum MSI, Nabi Muhammad juga berkebun.
Abdurrohim bertutur. Kalau mengulik ke dalam Sirah Nabawi, tidak ada peristiwa paceklik yang sampai memicu bencana kelaparan.
Namun sepertinya, kata dia, sistem ketahanan pangan di zaman Rasulullah bersumber dari sejumlah aspek. Antara lain faktor kota Madinah yang relatif subur (oasis).
“Sehingga kaum Muslimin juga berprofesi sebagai petani dan bercocok tanam,” ujarnya kepada hidayatullah.com di Balikpapan, Kalimantan Timur, April lalu secara terpisah.
Saat itu, jelas dai yang sebelumnya diamanahi sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah dua periode berbeda ini, komoditas pertanian yang utama di Madinah adalah kurma.
“Bahkan Rasulullah sendiri pada akhirnya setelah perang Khaibar, memiliki sepetak kebun kurma di Fadak, di mana beliau bahkan mempekerjakan beberapa orang untuk membantu beliau berkebun di areal tersebut,” ujarnya.
Kembali ke Indonesia saat ini. Pandemi Covid-19 yang masih terjadi berdampak terhadap berbagai sektor, termasuk ketahanan pangan. Presiden Joko Widodo beberapa waktu telah menyampaikan terjadinya defisit pangan di mayoritas provinsi se-Indonesia.
Baca: Prabowo Subianto: Tanam Bahan Pangan, Gunakan Setiap Lahan
Prabowo Subianto pada Rabu (22/04/2020) memperkirakakan Indonesia kemungkinan akan menghadapi situasi sulit beberapa saat ke depan dampak pandemi Covid-19. Ketua Umum Partai Gerindra yang juga Menteri Pertahanan ini menyerukan masyarakat agar memanfaatkan lahan-lahan dengan menanam tanaman untuk ketahanan pangan.
Bagi Rusmadiannur, pria asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini, spirit penting dalam bercocok tanam adalah wejangan Rasulullah.
“Motivasinya adalah apa yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, bahwa jika ada bibit di tanganmu, bibit apa saja selama bermanfaat dan produktif, maka segeralah tanam meskipun engkau mendengar besok mau kiamat,” tutur dai yang tampak awet muda ini kepada hidayatullah.com penghujung April 2020.
Sebenarnya begitu banyak para pegiat dakwah lainnya yang selama ini aktif bercocok tanam. Termasuk dari kalangan pondok pesantren. Di antaranya diulas panjang lebar dalam Laporan Khusus Majalah Suara Hidayatullah edisi Juni 2020/Syawal1441H yang insya Allah segera terbit.* Abdus Syakur/Masykur