PRIA itu benar-benar takjub dengan pemandangan di sekitarnya. Orang-orang berpakaian serba putih memenuhi berbagai gerbong Kereta Rangkaian Listrik (KRL) yang sedang ditumpanginya.
Tapi ketakjuban itu membuatnya seakan bingung.
“Sungguh ini tak pernah mudah dijelaskan. Saya tiba-tiba seperti terlalu miskin perbendaharaan kosakata untuk mengurainya,” ungkapnya soal pemandangan itu.
Ada apa sebenarnya?
Beberapa waktu sebelumnya. Suhardi Sukiman, pria 37 tahun asal Sulawesi Tengah itu, sedang dalam perjalanan dari Stasiun Depok, Jawa Barat, menuju Stasiun Juanda, Jakarta Pusat.
Ia merupakan satu dari dua juta lebih massa peserta Aksi Bela Islam III atau populer dengan sebutan Aksi Super Damai 212.
Jumat (02/12/2016) itu, tutur Suhardi, sejak di Stasiun Depok, hingga sepanjang perjalanannya dengan KRL menuju Juanda, ia dilingkupi berbagai kejutan yang datang bertubi-tubi laksana air hujan.
“Atasan putih yang kami kenakan membuat peserta lain tak berpikir lama dan menebak kita bagian dari peserta aksi. Kanan-kiri pun terucap salam. Peron memutih didominasi massa di tengah hujan rintik nan sejuk,” tuturnya.
Di atas KRL, rangkaian gerbong dipadati massa putih-putih. Sebetulnya sangat padat, tapi entah, ungkapnya, yang terasa adalah kenyamanan. “Orang-orang saling mempersilakan dan mendahulukan.”
Sesampainya di Stasiun Juanda sekitar pukul 07.00 WIB, umat Islam dari berbagai arah kedatangan tampak sudah menumpuk. Sepanjang peron pun diulari peserta aksi.
Menariknya, kata dia, penumpang perempuan terutama ibu-ibu selalu didahulukan dalam antrian. “Meskipun tetap berdesakan karena penumpukan massa yang tidak dapat dihindari.”
Namun begitu, tak ada lontaran sumpah serapah. Tak ada yang mengeluh. Sepanjang antrian dilantunkan shalawat Nabi. Khidmat jadinya. “Kita,” ungkap dia, “layaknya rombongan besar yang berjejal seolah akan menghadiri hajatan keluarga.”
Seperti Lebaran
Jumat pagi itu, area Monas sebagai pusat lokasi aksi sudah sangat padat. Kerumunan massa dari berbagai daerah se-Indonesia memenuhi semua titik, kecuali taman-taman dan rerumputan. Jika ada yang menginjak atau melintasi rumput, langsung diingatkan oleh massa yang lain.
“Tak ada sampah berserakan. Semua orang sangat peduli dan memungut jika ada kotoran ditemui di arena. Sajadah dibagi-bagi gratis. Terpal-terpal dihamparkan. Semua berebut mempersilakan jamaah yang datang (untuk) duduk di atasnya,” ungkapnya terkagum-kagum.
“Benar-benar seperti suasana 1 Syawal. Semua wangi dan berpakaian putih bersih,” lanjutnya membayangkan suasana Lebaran Idul Fitri yang selalu ramai dan penuh kebahagiaan.
Tentang indahnya persatuan, mulianya persaudaraan, eloknya kebersamaan, dan tingginya akhlak kaum Muslimin. Semua itu memenuhi relung kebahagiannya.
Aksi Super Damai 212 telah menyisakan haru biru dan kesan heroisme mendalam di benak tidak saja bagi para alumninya, menurut dia. Melainkan juga umumnya masyarakat Indonesia.
“Bahkan respon positif dunia internasional mengalir tak tertahan,” ujar aktivis organisasi pemuda Islam ini.
Hajatan besar serupa sebelumnya, Aksi Bela Islam II, sempat disebut sebagai aksi unjuk rasa terbesar dalam sejarah Republik Indonesia.
Tapi ternyata, kata dia, jumlah massa Aksi Super Damai 212 lebih besar dari Aksi Damai 411, Jumat (04/11/2016) bulan lalu itu. Bahkan disebut-sebut tiga kali lipatnya.
Aksi 212 dan 5 Fenomena Lahirnya Generasi Baru Islam Indonesia
Revolusi Putih
Suhardi pun, lewat penuturan panjangnya untuk hidayatullah.com, Jumat (09/12/2016), mencurahkan luapan perasaannya yang lain.
Kesyahduan bercampur riuh yang dirasakannya itu, ungkapnya, adalah rasa yang tak mungkin bisa dipahami, apalagi diresapi, oleh mereka yang tak dibersamai nuraninya.
Meminjam ungkapan KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), kata dia, bagaimana bisa orang-orang yang nyinyir dengan Aksi Bela Islam itu diyakinkan, sedangkan firman Allah saja tidak mereka yakini, bahkan justru diabaikan ketika dinista.
Ia pun menyinggung kecurigaan sejumlah pihak yang menyebut shalat berjamaah di jalan raya akan menimbulkan keganjilan bagi dunia Islam, bahkan dituding sebagai bid’ah besar.
“Nyatanya tidaklah demikian,” ujarnya.
Aksi ini malah menuai pujian dari berbagai penjuru. Benar-benar super damai. Jauh dari apa yang telah disangkakan sejumlah pihak termasuk media tertentu, tukas Suhardi, dengan susunan kata yang meluap-luap dan seakan terasa getaran semangatnya.
“Rasanya kita sepakat dengan istilah yang dicetuskan Koordinator Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI Ustadz Bachtiar Nasir, yang menyebut Aksi Super Damai Bela Islam Jilid III sebagai revolusi putih,” ujarnya kemudian.
Revolusi putih menurut Bachtiar, kata dia, adalah aksi yang paling beradab dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Bahkan tak ada duanya di dunia. Aksi yang telah menunjukkan kepada publik internasional tentang akhlak Islam yang terpuji.
“Inilah akhlak Islam. Inilah sejatinya revolusi putih. Tampilnya insan penolong sesama, saling berbagi, saling menjaga, saling menasihati, saling menyebar salam dan melafazkan doa keselamatan dunia akhirat,” ungkap Suhardi.
Ia pun tak henti memberondong aksi itu dengan segenap pujian dan kesan mendalamnya. Sebuah aksi, kata dia, dimana pemimpin umat sangat dekat, penuh cinta dan ketulusan.
“Para pimpinan ormas saling menyatu dalam barisan Merah Putih yang tarikan nafas kehidupannya memancarkan kalimat ‘Laa Ilaaha Illallah’ dalam satu kesatuan yang teguh,” ujarnya mengucap kalimat tauhid yang bisa bikin merinding orang yang mendengarkannya penuh penghayatan.
Pada aksi itu pun, jutaan umat berbeda latar belakang dan berlainan harakah menyatu dalam kesyahduan persaudaraan.
“Saling menyapa dan duduk berdampingan dalam shaf-shaf yang kokoh. Mereka berbagi makan dan minum dalam satu wadah yang sama,” tuturnya.
Sementara umara duduk bersama rakyat dalam luruh menyelami kelemahan diri di hadapan Allah Ta’ala dan hanya tunduk pada-Nya. Dua juta lebih umat Islam -bahkan ada yang menyebut 4 juta- rukuk dan sujud bersama saat shalat Jumat di bawah guyuran hujan itu.
Sedangkan para ulama dan habaib pada rangkaian aksi itu, termasuk Habib Rizieq Shihab, tampak menjadi teladan. Mereka tak henti menyuarakan persatuan umat.
“Ulama yang terus menuntun umat menuju jalan kebaikan dan keselamatan. Ulama yang menegakkan Pancasila, merawat kebhinnekaan, dan siap korbankan jiwa untuk melawan penoda NKRI,” ungkapnya.
Pimpinan MPR: Fitnah itu Jika Aksi Bela Islam Disebut Anti NKRI
Lambaian Persatuan
Siang harinya seusai Jumatan, hajatan akbar itu pun berakhir. Jutaan massa pulang secara tertib. Termasuk Suhardi bersama rombongannya.
Puluhan rangkaian KRL yang berangkat dari dua stasiun ekonomi terdekat dari Monas, Juanda dan Gondangdia, secara berangsur-angsur kembali dipenuhi penumpang putih-putih.
Awak hidayatullah.com turut merasakan suasana saat massa Aksi Bela Islam III itu berjubel di Stasiun Juanda dengan tertib, meskipun harus menunggu antrian dengan cukup lama.
Gerbong-gerbong kembali dipadati umatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu. Berdesak-desakan tapi tetap tampak enjoy. Semua terlihat berbahagia, sebuah perasaan yang mampu menyirnakan keletihan dan kelelahan.
Para manusia lanjut usia, bapak-bapak, ibu-ibu, gadis, pemuda, remaja, sampai balita pun tampak turut semringah bersama KRL yang beranjak meninggalkan stasiun.
Tak disangka, massa putih-putih yang berjubel di bawah langsung melambaikan tangan ke arah massa di atas KRL. Siapa yang melambai dan siapa yang dilambai tak lagi prioritas untuk dikenal. Esensinya mereka telah mengenal dalam persamaan; “Kita telah bersatu!”
Alumni Aksi 411 dan 212 Diajak Jaga Ukhuwah dengan Peduli Aceh
Sepulangnya dari aksi menuntut sang tersangka penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), ditahan itu, Suhardi masih tak kuasa menahan ekspresi kebahagiaannya, ketakjubannya. Hanya atas kekuasaan Allah-lah, umat Islam menyatu. Untuk hari itu dan semoga hari-hari setelahnya.
“Jangan lagi umat ini seperti buih di lautan. Umat harus bersatu dalam nilai-nilai luhur ajaran Islam. Jika kita bersatu dalam bingkai ketakwaan dan iman, tak ada yang bisa mengalahkan. Inilah sebenarnya spirit terpenting dari Aksi Damai 1, 2, dan 3,” pungkas pria yang juga Sekjen Pimpinan Pusat Syabab (Pemuda) Hidayatullah ini.*