Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

Gaji Rp 2 Juta, Umrah Berkali-kali

Ahmad
Terakhir diupdate: 1 Mei 2014 14:44 2:44 pm
Ahmad
Dipublikasikan 1 Mei 2014 14:27
Bagikan
Para Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Indonesia ini sibuk menyiapkan air zam-zam untuk jamaah.
Bagikan

BEBERAPA perempuan berabaya coklat dan hitam dilengkapi cadar hilir mudik di Masjid Nabawi, Madinah. Mereka terlihat sigap. Para perempuan berabaya coklat sibuk bertugas menjaga kebersihan masjid. Sedang Asykar (tentara) perempuan bercadar hitam sibuk mengawasi, dan menangani jamaah.

Inilah kiprah kaum Hawa di tengah kesibukannya melayani tamu-tamu Allah di Masjid Nabawi, Madinah yang  juga merupakan kota terakhir Rasullah hidup.

Jangan keliru, sebagian besar perempuan berabaya coklat itu adalah tenaga kerja wanita (TKW) yang berasal dari Indonesia. Kedatangan mereka di Masjid Nabawi disalurkan oleh bebera[a perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI).

Tentu latarbelakang mereka beragam. Ada diantaranya pernah menjadi  pembantu rumah tangga di tanah air. Ada juga yang berpengalaman sebagai pedagang. Juga beragam alasan personal membawa mereka bisa sampai di salah satu dari tiga masjid yang diberkahi ini.

Masing-masing pekerja memiliki tugas berbeda. Beberapa diantaranya: mengganti tong-tong kosong dengan tong yang sudah terisi air zam-zam, mengepel lantai yang becek akibat air zam-zam yang tumpah, memunguti plastik atau kertas bawaan jamaah yang tercecer, merapihkan dan menyisihkan Al Qur’an pemberian jamaah yang tidak sesuai standar Al Qur’an di Masjid Nabawi.

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Peranannya bahkan sampai di luar masjid seperti di toilet dan tempat pengisian air minum non air zam-zam. Di toilet, mereka sudah terbiasa membersihkan kotoran manusia. Bekerja dalam diam, cekatan bergerak, ciri khas mereka. Berbicara pada jamaah-pun seperlunya saja.

Namun, hidayatullah.com beruntung bisa bercakap cukup lama dengan mereka pada pertengahan April lalu menjelang shalat Subuh.

Atijah, perempuan asal Purwakarta, Jawa Barat, duduk merapat pada peralatan kebersihan miliknya. Ia duduk di barisan paling belakang. Sembari menunggu adzan Subuh dikumandangkan, sementara matanya tak lepas mengawasi jamaah.

“Mafi kurusy ya, Mama (Tidak ada kursi, Bu),” jawabnya ketika ada seorang jamaah menanyakan persediaan kursi.

Rupanya di sana cukup banyak jamaah yang shalat duduk di kursi. Biasanya jamaah berusia lanjut yang menggunakan kursi. Sayangnya, persediaan kursi telah habis.

Hampir setahun perempuan berusia 45 tahun itu bekerja di sana. Bersama teman-temannya sesama pekerja di Masjid Nabawi, Atijah tinggal di sebuah asrama di Madinah. Waktu tempuh perjalanan sekitar 30 menit. Datang dan pergi diantar oleh bus yang sudah disediakan.

Setiap dua bulan sekali, pekerjaannya berganti. Jam kerja terbagi tiga shift: jam 06.00-14.00, 14.00-22.00, 22.00-06.00. Di lain waktu, bisa saja Atijah bertugas membersihkan toilet perempuan atau mengurusi pengisian ratusan tong air zam-zam.

Ada kalanya Ia mengerjakan pekerjaan yang sama, namun ditempatkan di ruang ibadah lainnya.

Saat ditemui hidayatullah.com, tugas Atijah memunguti sampah di dalam ruang ibadah perempuan yang dimasuki melalui  Pintu nomor 29.

Begitu juga dengan pekerja lainnya. Pekerja yang bertugas mengisi air zam-zam yang terdapat di dalam masjid dekat tempat ibadah, misalnya. Pergerakan mereka berputar dari satu lokasi tong zam-zam ke lokasi tong zam-zam lainnya.

Dalam satu lokasi berjajar ratusan tong di sisi kiri dan kanan. Jika tong tersebut kosong, para pekerja akan menggantinya dengan tong yang sudah dipersiapkan dibelakangnya.

Bisa dibayangkan betapa lelahnya pekerja seperti Atijah. Membersihkan masjid yang setiap harinya didatangi ribuan jamaah. Belum lagi tingkah laku jamaah antar negara berbeda satu dengan lainnya. Ada diantara mereka berwudhu dengan air zam-zam di depan tong-tong itu demi kepraktisan.

Untuk menjangkau toilet dan tempat wudhu, diperlukan waktu minimal 15 menit karena lokasinya di pelataran masjid. Belum lagi jika masjid sudah sesak oleh jamaah. Memakan waktu lebih lama menjangkaunya. Jika berwudhu dengan air zam-zam, air akan berceceran di lantai ruang ibadah. Setiap itu pula pekerja harus mengepelnya.*/bersambung “Leluasa Berdoa di Raudhah setiap Saat”

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
TAG:hajiMasjid NabawiTKWumrah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Masjid Dirusak dan Dijarah pasca Relokasi Muslim Bangui
Tulisan selanjutnya JIlbab Anita di Pulau Dewata (Video) Jilbab Anita di Pulau Dewata

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat

Berita
13 Juli 2026 06:04
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?