Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kisah & Perjalanan

“Sarjana Pertanian” Itu Dikucilkan Warga Desa Karena Memilih Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Januari 2016 10:03 10:03 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Januari 2016 10:01
Bagikan
Muhammad Bukhori, yang kini lebih merasa nyaman dan tenang menjadi Muslim
Bagikan

PAGI itu terdengar keributan yang sangat terusik bagi para tetangga dan masyarakat Amatutu saat mendengar di sekitar Kantor Kecamatan Amatutu ada perkelahian.  Terjadi perkelahian yang sengit, antara aparat desa dan dua orang anak muda. Babak belur kedua pemuda ini dihajar oleh aparat desa, pasalnya pemerintah setempat tidak menginginkan dua orang anak muda itu meninggalkan ajaran yang baru saja dipeluk itu.

Petrus dan Bernad (bukan nama sebenarnya). Sebelumnya menganut agama Kristen Katolik.  Dua orang anak muda itu memutuskan bersyahadan dan tak mau kembali kepada ajaran yang lama dianutnya.

Dua orang pemuda ini mengakui keputusan ini bukan atas dasar ajakan dan tekanan siapa-siapa mereka memeluk ajaran yang baru dianut, yaitu Islam.

Meski mereka berdua berusaha menjelaskan dengan lemah-lembut atas keputusannya,  namun usahanya tetap gagal. Butut masalah ini, dua orang anak muda akhirnya diusir dari kampung halamannya oleh aparatur desa.

Dengan berbekal uang seadanya, merekapun berangkat menuju ke Kota Dili (Sekarang Timor Leste).

Baca Juga

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mengunjungi Palestina dan Masjidil Aqsha
Keadaan Masjidil Aqsha dan Rakyat Palestina di Bawah Penjajahan Israel
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [2]
Dakwah di Timor Leste: “Ustadz Pergi, Siapa Lagi yang Mengajari Kami Islam?” [1]
Manis Asin Bisnis Si Kental Hitam
Syiarkan Tilawah al-Quran, Mahasiswa STAIL Selenggarakan “Touring Quran”

Meski berat meninggalkan keluarga besar dan kampung halaman,  berbagai hambatan, tantangan, gangguan dan rintangan ia lewati demiki memilih jalan Islam.

Tak beberapa lama menetap di Kota Dili, Petrus melanjutkan perjalanan ke Tanah Jawa. Sedangkan Bernad melanjutkan perjalanannya ke Kota Kupang.

Inilah sepenggal kisah Bernad (sebelum berganti nama Muhammad Bukhori) yang kini berganti nama menjadi Muhammad Bukhori. Muhammad Bukhori kini merasa nyaman dan tentram tinggal di sebuah pondok pesantren di Kupang.

Bernad berkisah, keputusannya memili Islam bermula ketika ia tidur suatu malam dan bermimpi sedang dalam perjalanan ke hutan. Dalam mimpinya, tiba-tiba ia menemui seekor babi hutan besar, bertelinga panjang dan ingin menghampiri Bernad, seolah-olah akan menerkamnya. Karena tak ada persiapan yang dimiliki,  dengan spontan Bernad bertakbir, “Allahu Akbar!” sekencang-kencangnya hingga babi itu hilang dari penglihatannya.

“Keesokan harinya saya menceritakan kejadian mimpi semalam kepada istri saya dan mengajak istri untuk memeluk ajaran agama Islam,” ujar Muhammad Bukhori kepada hidayatullah.com.

Alhamdulillah istri Bukhori mendukung keinginan suaminya. Selang beberapa hari ia mendatangi Petrus dan menceritakan kejadian dalam mimpinya. Rupanya tanpa pikir panjang lagi Petrus mau mengikuti ajakannya. Petrus adalah ipar dari Muhammad Bukhori.

Ketika awal meninggalkan keluarga besar di Timor Leste  pada tahun 1994 tujuan bertamanya adalah Kota Kupang.

Sebenarnya taka da siapapun yang ia kenal di tempat ini. Ia berkelana dari satu masjid ke masjid yang lain untuk menyambung hidup. Beberapa bulan ia lakoni seperti ini tapi hasinya nihil memperoleh pekerjaan.

Atas kemurahan Allah Subhanahu Wata’ala, seorang ustadz dari Pondok Pesantren Hidayatullah di Kupang mengajaknya tinggal di lokasi pesantren.

Sejak bergabung dan mengabdi di Pondok Pesantren Hidayatullah Kupang, ia diamanahi membersihkan lahan yang penuh dengan semak belukar dan dikenal banyak ular.

Setiap hari yang dipegangnya adalah sabit, cangkul, parang dan tofa (sebutan orang Kupang, alat pembersih rumput) untuk membersihkan lahan seluas 7 hektar bersama beberapa santri.

“Tugas kerja saya itu membabat lahan, menyangkul dan membersihkan semak belukar, dan tidak sedikit ular. Beberapa kali pernah dipatuk ular berbisa tapi alhamdulillah masih diselamatkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Sampai sekarang,” tutur ayah empat anak ini.

Karena keseriusan dalam bekerja, rekan-rekan seperjuangannya memberi gelar Bukhori ‘Sarjana Pertanian’. Alasannya karena lahan pondok pesantren ini sebagian adalah hasil kerjanya. Di mata rekannya, Aidil, Bukhori adalah pekerja yang luar biasa.

“Usianya semakin sore tetapi semangatnya masih pagi,” ujar Aidil.

“Ada cita-cita beliau yang belum kesampaian hingga hari ini,

yaitu berkeinginan menunaikan rukun Islam yang kelima; yaitu berhaji bersama istri tercinta, Siti Mutmainnah. Semoga Allah mengabulkan keinginan Pak Bukhori,” ujar Aidil.*/Abu Zain Zaidan (Kupang)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:hajiHidayatullahmasuk islamMuallafTimor Leste
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Berita Terorisme dan McDonaldisasi Televisi [1]
Tulisan selanjutnya Berita Terorisme dan McDonaldisasi Televisi [2]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Kisah & Perjalanan

Aksara Jawi yang Masih Bertahan di Brunei Darussalam

21 Desember 2022 09:45
FeatureKisah & Perjalanan

Mendulang Rezeki dari Budi Daya Rumput Laut di Desa Kupang

10 Desember 2022 23:18
Kisah & Perjalanan

Piala Dunia 2022: Qatar Ubah Pertandingan Bola menjadi Keramahan Budaya Arab dan Keindahan Islam

9 Desember 2022 10:25
Kisah & Perjalanan

Turki dan Surga Kucing

4 Desember 2022 23:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?