Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Kesehatan

Lahan Dipagari Kawat Berduri Listrik, LSM Brazil Ini Sengaja Menanam Ganja

Ama Farah
Terakhir diupdate: 27 September 2021 19:11 7:11 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 27 September 2021 17:27
Bagikan
ganja
Bagikan

Hidayatullah.com—Dikelilingi pagar berduri yang dialiri listrik, tanaman-tanaman ganja tumbuh subur di bawah terik matahari di sebuah lahan pertanian di daerah pegunungan di dekat Rio de Janeiro, Brazil.

Meskipun demikian, pertanian ini tidak ada hubungannya dengan penyelundupan narkoba. Lahan ganja tersebut adalah milik sebuah LSM yang memproduksi kanabis medis untuk pasien penderita kejang.

Margarete Brito, seorang pengacara, pertama kali menanam ganja beberapa tahun lalu untuk meringankan kejang yang dialami putrinya Sofia, yang sekarang berusia 12 tahun, yang menderita epilepsi.

Setelah melihat kondisinya membaik, Brito memutuskan untuk membantu pasien lain. Oleh karena itu dia mendirikan Medical Cannabis Research and Patient Support Association, atau Apepi, yang memproduksi minyak tetapi artisanal yang dibuat dari kanabis untuk pasien dengan kondisi seperti putrinya.

Usaha itu membutuhkan banyak tenaga, sebab penanaman ganja masih tetap ilegal menurut undang-undang di Brazil.

Baca Juga

Usia Belum Tua, tapi Sering Merasa Tua? Hati-Hati Bisa Sebabkan Imsonia dan Gangguan Kesehatan
Jangan Anggap Sepele Hernia
Riset: Remaja Pengguna Vape Lebih Berisiko Jadi Perokok
Vape Ancaman Baru Remaja, Perlu Ada UU yang Tegas
Makanan Cepat Saji Tingkatkan Risiko Kanker Paru-Paru

“Apabila kami mengikuti hukum yang berlaku, tidak ada yang memberikan kami wewenang untuk melakukannya,” kata Brito kepada AFP  (24/9/2021).

Namun, dia dan suaminya, Marcos Langenbach, berhasil memperoleh otorisasi dari pengadilan – yang belum pernah terjadi sebelumnya – untuk membudidayakan ganja untuk keperluan medis pada 2016.

Sekarang, pertanian mereka – yang jauhnya sekitar dua jam perjalanan dengan mobil dari ibukota Brazil – sudah memiliki 2.000 pohon untuk membantu para penderita autisme parah, multiple sclerosis dan epilepsi.

Meskipun di awal usahanya mendapatkan pandangan curiga dan penolakan dari sebagian pihak, Brito mengatakan akhirnya kerja keras mereka memperoleh dukungan di Brazil.

“Kami punya legitimasi sosial yang nyata. Itu yang melindungi kami,” kata Brito.

Orang masih curiga

Dalam kunjungan belum kami ini ke pertanian itu, yang dilindungi pagar listrik dan kawat berduri, agricultural engineer Diogo Fonseca berjalan di antara barisan pohon mariyuana yang ditanam di pot-pot besar berwarna hitam dan diberi label nama sesuai varietasnya: Purple Wreck, Schanti, Doctor, Harle Tsu, Solar, CBG.

Tanaman-tanaman itu dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan individu masing-masing pasien, tergantung apakah mereka membutuhkan dosis cannabidiol (CBD) tinggi atau rendah. CBD merupakan zat non-psikotropika yang memiliki efek relaksasi.

Dengan menggunakan mikroskop saku, Fonseca menilai setiap tanaman untuk menentukan kapan waktu ideal untuk memetik daunnya.

Bulan April, polisi bersenjat bersama anjing-anjing pelacak menggerebek pertanian itu, setelah seseorang yang pernah bekerja merenovasi ruan laboratorium melaporkan Apepi ke pihak berwenang.

“Banyak orang yang berprasangka,” kata Brito. 

“Kami jelaskan bagaimana proyek kami bekerja untuk semua orang, tetapi orang ini berkeyakinan bahwa kami adalah penyelundup narkoba dan lantas melaporkan kami,” kata Manoel Caetano, manajer pertanian itu.

Polisi akhirnya menyadari bahwa pertanian itu merupakan tempat budidaya ganja medis. Mereka kemudian meminta maaf lalu pergi, papar Brito.

Lebih Mudah Diakses

Apepi sudah menjalin kemitraan dengan institusi-institusi sains terpandang, seperti  Fiocruz Foundation dan University of Campinas. Panennya sudah meningkat lima kali lipat dalam kurun dua tahun terakhir dan sekarang memiliki 1.500 anggota.

Salah satu anggotanya adalah Gabriel Guerra, 19, penderita autisme parah dan cerebral palsy. Saat berusia delapan tahun, pemuda itu mengalami kejang 60 kali sehari.

“Namun, setelah dia mulai menggunakan minyak yang disesuaikan dengan kebutuhannya – beberapa tetes tiga kali sehari – serangan itu berhenti. Dia mulai bisa mandiri, berusaha berkomunikasi,” papar ayahnya Ricardo Guerra.

Berkat Apepi minyak ganja semakin mudah diakses dengan harga lebih terjangkau oleh pasien di Brazil, yaitu 150 reais ($28) untuk satu botol ukuran 30 ml. Sementara produk impor di Brazil dijual beragam mulai dari 600 to 3.000 reais ($113 sampai $565).

Apepi sekarang sedang menunggu keputusan pengadilan yang diharapkan akan memberikan izin kenaikan produksi sampai 10.000 pohon mulai tahun depan.

Akan tetapi, Apepi tidak terlalu optimistis akan prospek legalisasi kanabis medis dalam waktu dekat di Brazil. Pasalnya, Presiden Jair Bolsonaro sudah mengisyaratkan akan memveto RUU ganja yang sedang diperdebatkan di Kongres saat ini.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ApepiBrazilganjakanabismariyuanamedis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya pendidikan korupsi Pendidikan Kunci Bentuk Karakter Anti Korupsi
Tulisan selanjutnya Muhammadiyah Gandeng Perlis untuk Kemajuan Islam di Asean

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Audiensi antara Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI bersama Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI dalam membahas potensi dan tata kelola pelaksanaan dam Haji di Indonesia, termasuk peluang pemanfaatan daging dam bagi masyarakat yang membutuhkan di Jakarta, Rabu (292026). ANTARAHO-Baznas RI
Berita

Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air

Berita
3 September 2026 15:08
Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata
PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta

Terbaru

  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Mungkin Anda Juga Suka

Kesehatan

Tekanan Akademis dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental

19 Januari 2025 17:25
Kesehatan

Studi: Manfaat Utama Kopi Bagi Kesehatan Tergantung Waktu Meminumnya

15 Januari 2025 07:30
Kesehatan

Hindari Tertular HMPV, Pakar UGM Anjurkan Masyarakat Ikuti Pola Hidup Sehat

10 Januari 2025 13:20
Kesehatan

Terbukti, Konsumsi Alkohol Penyebab hampir 1 Juta Kasus Kanker di Amerika Serikat

7 Januari 2025 11:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?