ANESTESI umum pada seorang anak sebelum usia satu tahun dapat mengganggu memori di masa kanak-kanak, dan efeknya akan berlangsung seumur hidup, sebut satu studi, Senin (9/6/2014).
Ini adalah kesimpulan para ilmuwan yang membandingkan kemampuan ingatan dua kelompok anak. Satu kelompok menjalani anastesi pada masa bayi dan kelompok lainnya tidak.
Anak-anak, berusia 6 sampai 11, dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok 28 anak, yang diuji selama 10 bulan kemampuannya untuk mengingat gambar spesifik dan detail.
Anak-anak yang pernah dibius saat bayi rata-rata memiliki kekurangan sekitar 28 persen dalam mengingat dibanding teman-temannya. Juga mengalami 20 persen lebih rendah dalam tes ketika diminta mengingat detail pada gambar.
“Dalam tes kecerdasan atau perilaku, anak-anak tidak berbeda. Tetapi anak-anak yang pernah mendapatkan anastesi memiliki skor ingatan secara signifikan lebih rendah,” kata ringkasan tulisan yang dimuat di jurnal Neuropsychopharmacology, yang juga dipublikasikan Channel News Asia.
Mengingat berfungsi dalam memori otobiografi, kelas belajar, dan pemahaman bacaan.
“Dengan demikian, adanya sedikit defisit dalam ingatan merupakan konsekuensi langsung, yang juga mengurangi potensi anak dalam belajar dari waktu ke waktu. Penelitian yang akan datang akan dilakukan lebih teliti lagi,” kata tim peneliti dari University of California itu.
Dalam penelitian diketahui tidak ada perbedaan antara anak-anak yang pernah dibius sekali dengan yang beberapa kali.
Tim mengamati, tidak terlihat efek dari anestesi terhadap keingintahuan (fungsi kedua dari memori yang membangkitkan rasa pengalaman sebagai lawan terhadap ingatan), yang berkaitan dengan rincian.
Dalam studi paralel, para peneliti mengamati, 33 tikus yang diberi anestesi umum selama minggu pertama usia mereka, juga menderita defisit jangka panjang dalam pengingatan bau, dibandingkan dengan tikus yang tidak pernah dibius.
Tak satu pun dari tikus tersebut mengalami luka (sayatan) apapun. Para ilmuwan hanya ingin membuktikan anestesi yang mempengaruhi memori, tidak dalam kondisi anestesi untuk operasi, kata para ilmuwan.
Dengan demikian anak-anak yang dibius harus dengan alasan, karena tim tidak dapat menyimpulkan operasi sebagai penyebab gangguan memori. Mereka mengatakan, pengamatan pada tikus cenderung berlaku sama pada manusia.
Penelitian lain menunjukkan, anestesi dapat membunuh sel-sel otak dan mempengaruhi kerja sinapsis, tetapi dampaknya pada memori manusia masih belum jelas.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan berapa lama penurunan nilai tersebut akan berlangsung. Tetapi pendamping penelitian tersebut, Greg Stratmann, mengatakan, studi pada tikus menunjukkan bahwa defisit “akan berlangsung seumur hidup”.
“Kami belum pernah melihat defisit pulih pada tikus. Bahkan, kami melihat hal itu lebih buruk dari waktu ke waktu,” katanya kepada AFP.
Juga tidak diketahui apakah anestesi mungkin memiliki efek pada otak yang sama ketika diberikan kepada anak-anak yang lebih tua atau orang dewasa.
Stratmann juga mengingatkan terhadap kesimpulan dari studi tunggal ini. “Temuan ini harus membuat Anda berpikir tentang, apakah obat bius yang sebelumnya dianggap tidak membahayakan benar-benar diperlukan.”
“Saya berbicara tentang gambaran prosedur dan prosedur non-bedah lainnya, yang mungkin saat ini dilakukan di bawah anestesi demi kenyamanan. Ada kemungkinan beberapa anestesi pada anak-anak dapat dihindari. Hal ini harus dilakukan bila memungkinkan,” katanya.*