oleh: Paridah Abas
Kesembilan, MURAH MAAF
Seorang isteri sangat mengharapkan suaminya seorang yang murah maaf; tidak segan meminta maaf dan mudah pula memaafkan. Meminta maaf menggambarkan rendah hati seseorang. Manakala memaafkan menampakkan kelapangan jiwa dan ketinggian akal serta luasnya kesabaran yang dimiliki. Kedua-dua sifat ini adalah manifestasi iman kepada Allah Rabb Yang Maha Memberi Maaf lagi Maha Pengampun. Kalamullah yang terkandung di dalam surah At-Taghabun, ayat ke 14, perlu diperhatikan dengan saksama. Saya nukilkan ertinya,
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu, ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu maafkan, kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.”
Dalam kehidupan berumahtangga, baik suami maupun isteri, tidak ada seorang pun di antara mereka yang berhak meletakkan diri sebagai orang yang memiliki kekebalan hukum dan karananya tidak perlu meminta maaf apabila melakukan kesalahan. Mengakui kesalahan yang disengajakan atau tidak disengajakan dan disusul dengan sikap murah maaf membawa kesan yang besar dalam pembinaan keluarga yang bahagia. Dalam konteks ini, jujur dan besar hati memainkan peranan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum situasi maaf memaafkan mengambil tempat, sebab memaafkan itu perkara mudah saudara, tapi meminta maaf, memerlukan pertimbangan. Pertama, seberapa besar dan serius isu yang dihadapi. Kedua temperature atau suhu ketegangan. Ketiga, mood atau suasana hati isteri. Keempat, kesiapan suami dalam menerima reaksi dan balasan isteri. Dan kelima, bagaimana atau apakah cara yang hendak digunakan.
Ada banyak cara yang dapat Anda gunakan. Menggunakan lisan, sentuhan, pemberian bunga, atau hal-hal lain yang menampakkan kesan manis. Ada juga yang dengan kreatif membantu kerja-kerja rumah lebih dari yang biasa dibuat. Yang terpenting dari itu semua, dengan wajah manis dan raut yang ikhlas. Melakukan dan memberi sesuatu dengan wajah yang tidak menyenangkan.
Kesepuluh, SABAR MENDIDIK
Bila sepasang manusia bersetuju untuk hidup bersama dalam sebuah rumahtangga, mereka sebenarnya telah bersetuju untuk menjadi teman sejati. Apabila mereka diikat dengan ijab kabul, mereka sesunnguhnya telah menandatangani sebuah kesepakatan bahwa suamilah yang akan menjadi pemimpin dalam rumah tangga ini. Walaupun kelak akan ada saja, perbincangan, diskusi dan musyawarah. Namun, sang pemimpinlah yang akan memberi kata keputusan.
Selain itu, seorang suami harus memastikan isterinya terdidik dengan baik, secara akademik dan diniyah. Menghantarnya belajar menambah ilmu.
Namun demikian, sebaik-baik guru bagi seorang isteri adalah suaminya sendiri. Tak dapat dinafikan dalam zaman serba canggih ini, ada isteri yang kurang pandai mengurus rumahtangga. Ada sebab musabab yang logis. Anak perempuan yang biasa tinggal di asrama, tidak terbiasa dengan kerja-kerja rumah. Bila pulang ke rumah, is justru tak diajarkan belajar masalah rumah, umumnya bermalas-malasan. atau bermanja-manja. Yang sibuk bekerja tetap saja ibundanya.
Berbeda dengan dengan anak lelaki. Walaupun hal yang sama berlaku semasa mereka bersekolah, namun begitu mereka memutuskan untuk bekerja, keluarga akan mendukung sungguhpun itu akan berjauhan dengan keluarga. Berjauhan dengan ibu akan membuat mereka berdikari. Maka tak heran jika ada suami lebih pintar masak, lebih teratur mengatur rumah, lebih cerewet dalam pengurusan anak dan lebih mahir mengurus kewangan dari isteri-isteri mereka. Ini hanya sebuah kemungkinan.
Saya hanya ingin menekankan, dalam sebuah keluarga, urusan rumahtangga bukan hal kecil. Seorang isteri seharusnya mampu menanganinya. Namun andai kenyataan adalah sebaliknya, maka tugas suami mengajar dan mendidik, bukan memberi kritik apalagi kecaman.
Hal yang sama berlaku dalam ilmu-ilmu yang lain. Pendidikan anak, menjahit, menyulam, memasak dan menanam, kemahiran merawat dan tidak ketinggalan pengurusan kewangan yang teratur. Ini semua hal-hal duniawi yang boleh dimaafkan andai tertinggal. Ada yang lebih penting, pendidikan iman dan jiwa isteri. Suami adalah orang yang paling layak menjadi gurunya dalam hal ini.
Menjadi guru tak berarti mengajarnya seperti guru-guru di sekolah. Kreativitas suami sangat dituntut dalam hal ini, supaya isteri merasa rela dan bahagia dan tidak merasa dipaksa.
Rasulullah shallallahu alaihi wassalam biasa berbaring di pangkuan isteri sambil menghafazkan kalamullah. Sangat romantis bila dilihat dari satu sisi dan bila dilihat dari sisi pendidikan, apa yang diperolehi isterinya? Benar, hafazan al-Quran dari lidah yang fasih. Rela isteri menghafaznya bercampur bahagia yang kemudian menjadikan dia berilmu dan layak dijadikan mufti.
Dalam benak fikiran saya membayangkan, pastilah isterinya radhiyallahu anha, akan menanyakan hal-hal yang bersangkutan dengan ayat-ayat yang dibaca suaminya. Wallahu a’lam. Andai salah saya dalam membayangkan, semoga Allah mengampuni.
Kita hanya dapat membayangkan kehidupan ilmiyah Aisyah radhiyallahu anha. Pastilah suaminya iaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak jemu menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
Seiringan dengan itu, sabar dalam mendidik akan sangat dihargai. Tidak mengharap hasil yang segera sebab proses pendidikan adakalanya memakan masa yang lama. Berbulan, mungkin juga bertahun. Suami yang baik akan memahami kekurangan dan kelebihan isteri. Dia tahu bila dia boleh memuji dan bila dia boleh mencela kekurangan tersebut.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa Nabi bersabda, “Allah merahmati suami yang membangunkan isterinya untuk shalat. Jika sulit, dipercikkannyalah air ke wajah dan sebaliknya.”
Perhatikan anjuran yang ada di dalam redaksi itu. “Percikkan”. Memercik air merupakan sebuah aksi yang memerlukan kesabaran. Memercik bukan menyiram, apalagi marah-marah atau menyindir-nyindir.
Pernikahan adalah sebuah sekolah di mana manusia belajar dan mengajar. Ketua dan wakil harus saling memberi dan menerima ilmu. Kemudian berkembang dengan hadirnya anak-anak sebagai murid-murid. Intinya, suami perlu memastikan bahwa isteri yang dinobat sebagai Pengurus Besar rumahtangga mempunyai bekal ilmu yang cukup dan sentiasa diusahakan agar ilmunya selalu berkembang sesuai tuntutan zaman.
Dengan sabar mendidik, suami akan belajar mencintai isteri karena Allah. Dia akan mampu menunjukkan rasa cintanya sesuai dengan kata-kata manisnya. Dia tidak akan menunjukkan kasihnya dengan perlakuan kasar walaupun dia mendakwa kasarnya itu di sebabkan rasa kasihnya. Dia tidak akan mengeluarkan kata-kata yang keras lagi menyakitkan walaupun dia mendakwa itu di keranakan rasa sayangnya. Bila seorang suami mengatakan dia mencintai isterinya kerana Allah, maka wajib baginya memperlakukan isteri dengan baik, sesuai dengan pesan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,
“Sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik perilakunya terhadap isteri. Akulah yang terbaik pekerti pada isteriku.” (riwayat At-Tirmidzi).
Nah, kepada para suami dan pemuda-pemuda yang ingin melengkapkan rumahnya dengan tangga, menjadi suami sholeh itu mudah. Tetapi menjadi suami sholeh yang dibanggakan isteri, itu memerlukan ilmu dan kesungguhan. Memiliki isteri sholehah itu juga impian wajar. Namun bagaimana men-sholehah-kan seorang isteri, bukan sekadar ilmu yang diperlukan tetapi juga cinta yang tulus. Saatnya Anda menunjukkan cinta dengan bahasa yang dia fahami dan pelajarilah bahasa kasih pasangan Anda.*
Penulis adalah seorang pengajar dan ibu dari enam orang anak
/Tulisan Ketiga/ /Tulisan Kedua/ /Tulisan Pertama/