Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Saat-saat Indah Bersama Allah (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 April 2016 09:36 9:36 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 April 2016 09:36
Bagikan
sufi
Bagi orang beriman momen terindah mereka adalah saat di waktu hening mereka tenggelam dalam kesyahduan beribadah kepada Allah:
Bagikan

 وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَاماً مَّحْمُوداً

“Dan bertahajudlah pada sebagian malam sebagai tambahan bagimu (Muhammad). Mudah-mudahan Tuhanmu memberikan kedudukan yang terpuji kepadamu.” (QS: Al-Isra’: 79)

 

“Abadikan momen spesialmu!” Ungkapan itu sering didengar dari iklan di berbagai media masa. Tampak beberapa orang yang berkumpul dengan gaya unik lalu dijepret! Jadilah foto yang indah. Meski tanpa keterangan, tetapi selembar foto itu menyimpan selaksa kenangan. Foto itu pun dicetak dan disimpan rapi. Sepuluh atau dua puluh tahun kedepan tetap berharga. Betul kata pepatah, “Picture can speak more than thousand word.”

Banyak manusia yang mencari saat-saat terindah. Berlibur ke luar negeri mengunjungi tempat-tempat eksotik dan terkenal. Ke Paris, Jepang, dan Amerika. Rela merogoh kocek sedalam mungkin demi mencari tempat-tempat eksotik  dan menikmati saat-saat indah seraya diabadikan dalam selembar foto. Foto itu lalu dipasang di mana-mana: media sosial—Facebook, twitter, instagram, line, dan dipajang di dinding rumah.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Foto itu menjadi ekspresi sekaligus indentitas kepuasan dan kebahagiaan. Itu ditandai dengan rekahan senyum yang tergambar di wajah di selembar poto itu. Mereka berburu mencari saat-saat indah. Seperti saat matahari terbenam (sunset). Pergi ke pinggir pantai menikmati debur ombak dan hembusan angin yang membelai tubuh seraya menikmati matahari yang beringsut pelan ke peraduan. Sang surya dengan tampak indahnya dibalut mega-mega merah yang merona. Dan….jepret! Momen itu diabadikan.

Tak sedikit yang mencari momen langka nan indah dengan mendaki gunung tinggi. Rela berjalan mendaki gunung melewati berbagai rintangan demi mencapai puncak dan menikmati saat-saat indah dan berharga di atas gunung. Berusaha agar dapat mencapai puncak sebelum matahari terbit (sunrise). Konon, saat-saat matahari terbit itulah momen yang indah. Ada kepuasan tiada terkira. Dapat mencapai puncak gunung melihat matahari terbit dan melihat awan-awan yang berjalan indah.

Ya, saat-saat indah itulah yang diburu dan dikejar banyak orang. Tak peduli peluh dan lelah yang keluar. Tak peduli sebarapa banyak uang yang keluar. Tak peduli seberapa lama waktu yang dihabiskan. Asalkan dapat mendapatkan dan menikmati saat-saat indah dengan orang tercinta. Menikmati momen langka dan mahal. Demi saat-saat indah itu mereka rela melakukan apapun. Apa yang didapatkan?

Bagaimana dengan Allah Subhanahu Wata’ala Sang Pencipta alam jagad raya ini? Adakah saat-saat spesial yang kita sediakan untuk-Nya? Adakah waktu yang dikhususkan untuk bersaman-Nya? Padahal, ‘kebersamaan’ dengan-Nya jauh lebih indah dari apapun. Jauh lebih asyik daripada melihat sunset dan sunrise dari puncak Gunung Himalaya. Jauh lebih menyenangkan dari sekadar menikmati eksotisme Menara Eifel di Paris. Jauh lebih indah daripada melihat bangunan bersejarah dunia Taj Mahal di India.

Lalu…

Kapankah saat-saat spesial yang bisa digunakan untuk ‘bersaman-Nya?’ Momen indah itu tidak lain ketika di sepertiga malam. Saat penghuni bumi terbuai mimpi. Manusia larut dalam tidur mereka. Nah, pada saat itu, Allah Swt menunggu siapa-siapa di antara hamba-Nya yang bangun, bersujud, dan bermunajat kepada-Nya. Lihatlah bagaimana mesra dan penuh kasih sayang Allah Swt saat memanggil nabi-Nya untuk menunaikan shalat tahajud. Seperti yang tertera pada surah Al-Muzammil ayat pertama, Allah memanggil nama Nabi Muhammad dengan ungkapan “Yaa ayyuhal muzammil.”

Al-Muzammil artinya orang yang berselimut. Penggunaan kata ini sebagai bentuk kedekatan dan kasih sayang Allah kepada Nabi-Nya. Orang Arab, biasanya jika memanggil orang lain  dengan julukan sesuai dengan keadaanya. Ketika Ali bin Abi Thalib tertidur di masjid dan badannya dipenuhi dengan debu, maka Rasulullah memanggilnya dengan panggilan yang mesra, “Berdirilah wahai aba turab” –orang yang dipenuhi debu.

Makna al Muzammil sendiri bisa berarti berselimut dengan kain karena kedinginan atau juga bermakna kiasan: berselimut beban dakwah yang luarbiasa di pundah Nabi Muhammad. Maka dari itu, orang-orang yang berselimutkan masalah dalam hidup ini, sudah seharusnya bangun shalat malam dan mengadu kepadanya. Tidak mungkin menghadapi persoalan hidup dengan menggandalkan kekuatan sendiri. Harus melibatkan Allah Subhanahu Wata’ala. Dan, waktu yang paling tepat untuk mengundang keterlibatan-Nya untuk mengatasi segala persoalan hidup adalah ketika shalat tahajud.

Bacalah ayat Al-Qur’an ini. Betapa indahnya gambaran orang-orang yang menyediakan saat-saat spesial mereka di sepertiga malam untuk beribadah kepada-Nya. “Dan orang-orang yang bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka pada waktu malam.” QS. Al-Furqon: 64).

Bagi orang beriman momen terindah mereka adalah saat di waktu hening mereka tenggelam dalam kesyahduan beribadah kepada Allah: menikmati sujud-sujud panjang dengan derai air mata keinsyafan atas dosa yang telah dilakukan. Sengantuk dan selelah apapun mereka akan berusaha bangun. Menyingkirkan selimut dan membasuh wajah mereka dengan air wudhu dan mendatangi sajadah. Waktu tidur mereka sedikit dan lebih banyak menghabiskannya untuk beribadah, bermunajat, dan memohon ampunan-Nya.

Bacalah ayat Al-Qur’an ini. Betapa indahnya gambaran orang-orang yang menyediakan saat-saat terindah bersama-Nya. “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.” (QS. Adz-Dzariyat: 17-18).* (bersambung)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:berdoamalammomen specialqiyaamul lailshalattahajud
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Temui Presiden di Istana, Muhammadiyah Ajak Jokowi Tangani Terorisme Tidak Dekonstruktif
Tulisan selanjutnya Sumber Waras, Reklamasi dan Dinasti Ahok

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Berita
1 Juni 2026 10:40
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?