Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Kekuatan Cinta Kasih dalam Dakwah

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 November 2018 14:23 2:23 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 November 2018 14:23
Bagikan
Aktivis dakwah di Australia
Bagikan

CINTA kasih, kelembutan dan akhlak mulia adalah di antara kekuatan signifikan dalam kesuksesan berdakwah. Dalam surah Ali Imran, ada potongan ayat yang menandaskan:

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali-Imran [3]: 159)

Dengan sangat jelas, pada ayat tersebut ada pesan penting mengenai sejauh mana peran kasih sayang, cinta dan kelembutan bagi penerimaan orang terhadap dakwah Nabi. Jika beliau dalam menjalankan misinya menggunakan pendekatan represif, maka akan ditinggalkan oleh komunikan dakwah.

Baca: Dakwah Cinta Abdullah bin Yasin

Syeikh Sa’dy dalam “Taisīr al-Karīm al-Rahmān” (2000: 154) memberikan catatakan penting setelah menafsirkan ayat tersebut. Katanya, “Akhlak mulia adalah bagian primer dalam agama. Dengan menjalankannya, akan menarik hati orang pada agama Allah dan membuat mereka senang padanya. Selain itu, pelakunya pun mendapat pujian serta pahala khusus (dari Allah). Sementara akhlak tercela, bisa membuat orang lari dari dan murka pada agama. Pelakunya pun akan mendapat celaan dan sanksi khusus.”

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

“Jika Rasul saja dinasihati Allah dengan demikian,” lanjut Sa’dy, “maka (sebagai umatnya) bukankah kita lebih wajib meneladani akhlak mulia beliau dalam berinteraksi dengan manusia. Dengan menjalankan sikap lemah lembut, akhlak luhur dan hati simpatik, itu adalah bagian dari ketaatan kita dalam menjalankan perintah Allah dan meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Bila dilihat dalam sejarah hayat Nabi Muhammad ﷺ, dalam menyampaikan pesan dakwah, kasih sayang dan cinta kasih selalu menjadi andalan. Selama dua puluh tiga tahun berdakwah, bagian yang paling menonjol dari dakwah beliau adalah kasih sayang.

Interaksi luhur itu terus beliau jalankan meski terkadang di lapangan harus mendapat perlakuan kasar dari komunikan dakwahnya.  Sebagai contoh, beliau pernah dilempari batu oleh penduduk Tha`if hingga kakinya bersimbah darah. Perbuatan mereka tentu membuat murka Allah, dan ditawarkan kepada beliau bahwa mereka akan dihancurkan dengan gunung. Namun, dengan akhlak muliau beliau malah berujar, “Ya Allah, anugerahkanlah hidayah kepada kaumku; sesungguhnya mereka tidak tau.” Kata-kata bersejarah itu menunjukkan betapa tinggi kasih sayang beliau dalam berdakwah.

Saat Pembebasan Mekah pun, sebenarnya Nabi memiliki kesempatan untuk menghabisi orang-orang musyrik dan kafir yang selama ini menyakiti dan menyebarkan berita miring seputar beliau. Pada waktu itu mereka sudah menjadi tawanan. Namun apa yang keluar dari lisan suci beliau, “Sekarang adalah hari kasih sayang, bukan hari pembantaian. Pergilah kalian, sekarang kalian bebas.” Beliau meneladani sikap luhur Nabi Yusuf yang memaafkan kesalahan-kesalahan saudaranya yang terdapat dalam surah Yusuf ayat 92.

Baca:  Berdakwah dengan Cinta 

Bilapun beliau harus menggunakan cara-cara yang tegas seperti jihad di medan perang, namun semua itu tak lepas dari bingkai kasih sayang. Setelah dakwah-dakwah penuh cinta kasih dan lembut sudah tidak berguna, malah umat Islam diserang, maka alternatif terakhir –setelah semua cara lembut sudah dikerahkan—adalah mempertahankan diri dan jihad.

Perang di sini tentu tidak bisa dipahami secara serampangan sebagaimana tuduhan orang-orang orientalis yang menyatakan bahwa Islam disebar dengan pedang. Perlu diingat bahwa perang dalam Islam itu ada syarat-syarat dan adab-adab yang menggambarkan kasih sayang Islam. Dalam peperangan, umat Islam dilarang membunuh anak-anak, perempuan, orang tua renta, pemimpin agama, merusak tanaman, memutilasi dan lain sebagainya.

Catatan sejarah tersebut menunjukkan bahwa umat Islam dalam berdakwah senantiasa mengedepankan cinta kasih dan kelembutan. Namun, jika mereka diserang, maka mereka adalah orang yang paling siap mengorbankan jiwanya untuk didedikasikan di jalan Allah.

Contoh lain adalah Abdullah bin Yasin. Dalam waktu semalam –dengan dakwah berbasis cinta– sekitar enam ribu penduduk Lamtunah masuk Islam, dan mengikuti dakwahnya. Berkat dakwah beliau banyak sekali wilayah Afrika yang kemudian memeluk Islam, hingga kemudian berdiri Daulah Murabithun.

Rupanya, cara itu juga yang digunakan musuh Islam untuk mengalahkan umat Islam. Setelah berabad-abad kemudian, ketika sudah lelah dalam pertempuran Salib yang mendapat resistensi perlawanan hebat dari umat Islam, maka tokoh-tokoh mereka menggunakan cara lemah lembut untuk menaklukkan umat Islam.

Perhatikan kata-kata veteran Perang Salib, Peter The Venerable, “Aku menyerangmu bukan sebagaimana sebagian dari kami (orang-orang Kristen) sering melakukan, dengan senjata, tetapi dengan kata-kata, bukan dengan kekuatan, namun dengan akal: bukan dengan kebencian, namun dengan cinta.” (Adnin, 2005: 22)

Baca: Dakwah tanpa Panitia

Senada dengan Venerable, seorang misionaris legendaris Henry Martyn menyatakan, “Saya datang menemui umat Islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan pasukan tapi dengan akal sehat, tidak dengan kebencian tapi dengan cinta.” (Adian, 2005: XXVII)

Langkah ini ditempuh karena mereka merasa gagal dalam perang Salib ketika menggunakan kekuatan senjata. Maka kemudian mereka menggunakan kata, logika dan cinta. Akhirnya, muncullah kemudian gerakan orientalis dan diakonia yang kemudian lebih efektif dibandingkan dengan cara represif.

Bukankah masuknya Islam ke Indonesia juga dengan damai dan penuh cinta kasih, sehingga, bisa merebut simpati dan hati masyarakat sekitar? Demikianlah kekuatan dakwah dengan cinta yang harus digalakkan oleh setiap dai agar rahmat Islam bisa menyebar ke seantero alam.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:cintadakwahjihadPerang Salib
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Trump Bela Saudi meski Ada Keterlibatan Pembunuhan Khashoggi
Tulisan selanjutnya Begija Smajic, Perempuan Berjilbab Pertama Menangkan Kursi Parlemen Bosnia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Berita
2 Juni 2026 17:20
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?