Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Syahadat Kunci Surga

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Februari 2021 10:59 10:59 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Februari 2021 10:59
Bagikan
ilustrasi
Bagikan

Hidayatullah.com | BAYANGKANLAH sebuah gerbang yang amat kokoh. Gerbang itu tertutup rapat dan hanya bisa dibuka jika kita memiliki kuncinya. Tak ada cara lain untuk membuka gerbang itu. Percuma saja kita memiliki tubuh yang kuat, pasukan yang banyak, atau harta yang berlimpah. Gerbang itu tak akan bisa terbuka.

Surga, tempat kembali manusia, juga begitu. Gerbangnya hanya bisa “dibuka” dengan satu “kunci”. Percuma kita memiliki harta yang berlimpah, tubuh yang gagah, pasukan yang banyak, bahkan dengan semua itu kita bisa melakukan berjuta kebaikan. Bila pada diri kita tak ada “kunci Surga”, tetap saja kita tak bisa masuk ke dalamnya. Bahkan sebaliknya, kita terpelanting ke neraka.

Apa kuncinya? Rasulullah ﷺ bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban,  “Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dengan ikhlas dari hatinya, maka  ia (dijamin) masuk Surga.”

Dalam Hadits yang lain, Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Barangsiapa yang akhir ucapannya adalah laa ilaaha illallaah (tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah),  maka ia akan masuk Surga.” (Riwayat Abu Dawud dari sahabat Muadz bin Jabal).

Syahadat adalah kunci Surga. Karena itu pula Imam Hasan Al-Bashri, sebagaimana tertulis dalam Al-Hujjah Fii Bayaanil Mahajjah, menegaskan bahwa “Barang siapa yang mengucapkan kalimat laa ilaaha illallaah disertai dengan menunaikan hak dan kewajiban (dari kalimat tauhid tersebut), niscaya dia masuk Surga.”

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Tanpa syahadat, kebaikan sebesar apa pun, tak akan bernilai di mata Allah Ta’ala. Meskipun ia memiliki harta paling banyak di dunia, dan semua harta itu ia sumbangkan untuk kegiatan sosial, selagi ia tak bersyahadat, tetaplah ia pelaku kezaliman paling tinggi, yakni menolak untuk mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah Tuhan yang wajib diibadahi, dan tak ada lagi Tuhan yang wajib diibadahi selain Dia.

Namun, seorang miskin yang tak memiliki apa-apa, namun mengakui secara ikhlas dari hatinya bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, maka pintu Surga terbuka untuknya.

Hanya saja, ikrar syahadat barulah gerbang awal memasuki gerbang kehidupan menuju Surga. Ia masih harus melangkah meniti jalan yang lurus sembari memohon kepada Allah Ta’ala agar tidak digelincirkan keluarke jalan yang bengkok hingga ajal menjemputnya. Sebagaimana perkataan Imam Hasan al-Bashri di atas, orang yang telah berikrar syahadat masih harus menunaikan hak dan kewajiban dari ikrar  yang ia ucapkan.

Bahkan, ia pun harus menyertai ikrarnya dengan iman, bukan sekadar ucapan. Imam Muslim, dalam kitab sahihnya, menyebutkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada para sahabat, “Kalian tidak akan masuk Surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai antarsesama. Maukah kalian, aku tunjukkan suatu perbuatan, jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai, yaitu tebarkan salam di antara kalian.”

Jadi, sayarat pertama seseorang akan masuk Surga setelah bersyahadat adalah beriman. Orang yang ragu-ragu tak akan mampu melangkah dengan mudah. Kakinya akan gampang tergelincir dan tercampak ke jalan yang bengkok.

Iman yang dimaksud tentulah iman dalam arti sesungguhnya, yaitu mempercayai adanya Allah Ta’ala dan meyakini bahwa Allah Ta’ala merupakan Tuhan alam semesta, Yang Maha Pencipta dan Mahakuasa atas segalanya. Kemudian percaya adanya malaikat-malaikat Allah dan meyakini bahwa mereka tidak pernah membangkang kepada Allah Ta’ala, dan selalu melaksanakan semua perintah-Nya.

Setelah itu percaya bahwa Allah Ta’ala menurunkan kitab suci sebagai pedoman bagi umat manusia agar mereka selamat di dunia dan akhirat. Percaya bahwa Allah Ta’ala mengutus para nabi dan rasul untuk membimbing umatnya ke jalan yang benar. Percaya akan adanya hari kiamat dan kehidupan-kehidupan setelahnya sebagai hari pembalasan. Dan, percaya akan qadha dan qadar yang telah Allah tentukan bagi segenap makhluk-Nya.

Selain itu, pengejawantahan dari iman tersebut harus nyata terasa dan terlihat. Cabang iman saja ada lebih dari 70 sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah.  Kata Rasulullah ﷺ, “Iman itu ada tujuh puluh cabang atau lebih, atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama yaitu perkataan La ilaaha illallaah, dan yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu termasuk bagian dari iman.”

Pengejawantahan iman yang paling mendasar adalah ketaatan, yakni tunduk dan patuh menjalankan segala perintah Allah Ta’ala, serta menjauhi segala larangan-Nya. Sedangkan perintah paling mendasar bagi seorang Muslim adalah apa yang termaktub dalam rukun Islam, yakni bersyahadat, shalat lima waktu, berpuasa dalam bulan Ramadhan, membayar zakat, dan menjalankan ibadah haji bagi mereka yang mampu.

Dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Thalhah bin ‘Ubaidillâh, seorang Arab Badui berambut kusut pada suatu hari datang menemui Rasulullah ﷺ.  Orang Badui itu bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku, shalat apa yang diwajibkan oleh Allah Azzawa Jalla atasku?”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Shalat yang lima waktu, kecuali jika engkau mengerjakan salah satu yang disunnahkan.”

Orang Badui itu bertanya lagi, “Kabarkan kepadaku, puasa apa yang Allah Azza wa Jalla wajibkan atasku?”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Puasa Ramadhan, kecuali jika engkau mau mengerjakan puasa yang sunnah.”

Kemudian, orang Badui itu kembali bertanya, “Kabarkanlah kepadaku, zakat apa yang Allah Azza wa Jalla wajibkan atasku?”

Rasulullah ﷺ lalu menjelaskan tentang syariat-syariat Islam kepada orang Badui itu.

Setelah itu, orang Badui itu berkata, “Demi (Allah Azza wa Jalla ) yang telah memuliakanmu dengan kebenaran, aku tidak mengerjakan suatu amalan sunnah dan aku tidak mengurangi apa yang telah Allah Azza wa Jalla wajibkan atasku sedikit pun.”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika ia benar (jujur), ia akan masuk Surga.”

Anas bin Malik menceritakan juga hadits serupa namun ada satu tambahan, yakni beribadah haji ke Baitullah bagi yang mampu menuju ke sana. Setelah menanyakan soal haji ini, barulah orang Arab Badui itu berkata, “Demi (Allah Azza wa Jalla ) yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan menambahnya dan tidak akan menguranginya.”  Kemudian, Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika ia benar (jujur), sungguh, ia akan masuk Surga.” Wallahu a’lam.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:nerakasurga
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Keputusan Sri Lanka Kuburkan Jenazah Muslim Pasien Covid-19 Sesuai Cara Islam Disambut Baik Turki
Tulisan selanjutnya Ikhitiar dan Doa, Teman Tangguh di Tanah Rantau

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?