Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Antara Yahudi dan Syiah, Mana Lebih Berperan?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Desember 2015 09:26 9:26 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Desember 2015 09:26
Bagikan
Selain Barat beruntung adanya Israel, Syiah juga menangguk untung konflik di Timur Tengah [Foto: ilustrasi]
Bagikan

Oleh: Nugra Abu Fatah

SELAMA ini kita selalu terpatron dengan perspektif bahwa Yahudi selalu hebat. Khususnya dalam rekayasa sosial politik hingga militer (perang). Apapun masalahnya, selalu berperspektif Yahudi-sentris.

Tapi benarkah demikian? Saya mencoba membawa pada perspektif berbeda, tentang Syiah dan segala rekayasanya yang patut diketahui.

Kita tarik dari kondisi terkini lalu ke belakang ratusan tahun silam. Lihatlah dua negeri yang mengapit Iran, yakni Afghanistan dan Iraq, keduanya hancur lebur menjadi negara lemah karena isu Usamah Bin Ladin di Afghan dan nuklir di Iraq.

Dua isu yang sama sekali tidak ditemukan faktanya. Siapa yang menang? Amerika atau Iran? Amerika menghabiskan jutaan dolar tanpa hasil keuntungan selain mengamankan pasokan minyak yang sekarang surplus hingga harga minyak terjun.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Sementara Iran tanpa high cost, mendapatkan stabilitas dan jajahan Iraq timur plus hadiah Suriah yang justru mengkhawatirkan semua pihak non-koalisi Iran-Rusia.

Mari kita mundur 1000 tahun sebelumnya, 100 tahun sebelum Perang Salib. Saat Kekhalifahan Abbasiyah dikuasai dinasti Syiah, Buhaihi. Sebelumnya Kesultanan Turki mendominasi Abbasiyah, kemudian raja-raja daerah Persia yang beragama Majusi, menjadi Syiah(keturunan Abu Syuja) lalu menguasai dominasi pengaruh di Baghdad, pusat Abbasiyah, tahun 945 M. Pada masa-masa itulah Syiah Qaramithah masuk ke Makkah dan membantai ribuan jamaah haji di depan Ka’bah.

Selama 100 tahun berikutnya Syiah sesuka hati mengganti khilafah yang sifatnya khilafah hanya tukang stempel. Tak heran Syiah menyebar hingga terbentuknya Dinasti Fatimiyah di Mesir. Tidak ada Yahudi di belakang, murni Syiah-Persia.

Ketika tahun 1050 Dinasti Buwaihi Syiah dijatuhkan Sultan Turki Saljuk, Syiah-Persia kembali mundur ke wilayah Persia (Iran saat ini).

Secara peta, wilayah Persia takluk dalam kedaulatan Saljuk, namun secara sosial masyarakat, masyarakat persia tetap menyatu dan loyal kepada Syiah.

Hanya berselang 30 tahun kemudian tokoh-tokoh besar Saljuk Islam mati terbunuh oleh Hasyasyin (Asassin), sebuah aliran Syiah ekstrim. Dan provokasi adu domba terjadi terhadap peziarah Kristen Eropa pada 1090, salah satu faktor penyebab Perang Salib. [Baca juga: Assassin: Pemburu Maut dari Lembah Alamut (1)]

Siapa yang mengambil keuntungan dari Perang Salib? Tentu pasti Syiah-Persia, sebab tidak ada urusan Yahudi di sana. Bahkan ketika Mongol datang seabad setelah Perang Salib, Syiah lah yang membuka jalan kehancuran Abbasyiah (Islam) dari Baghdad hingga Suriah.

Syiah, bukan Yahudi

Sosok yang berhasil membunuh pemimpin tertinggi kedua umat, Umar bin Khathab bukan Yahudi, tapi Majusi Persia (sekarang Syiah).

Yahudi barangkali berperan pada sosok Abdullah bin Saba’ yang kita kategorikan sebagai salah satu peletak dasar Syiah dengan ungkapan penuhanannya pada Ali.

Tapi apakah hanya satu orang Saba’ lalu kita katakan Syiah produk Yahudi? Faktanya Persia lebih berkontribusi besar terhadap lahirnya Syiah (dukungan Kufah, bekas wilayah Persia) hingga menjadi Iran seperti hari ini.

Sejak berdirinya Dinasti Safawi abad 16 di Persia (Iran) Syiah-Majusi mengkristal di Isfahan hingga berhasil menggagalkan proyek penaklukkan Wina pada masa Utsmaniyah Sultan Sulaiman the Great. Lagi-lagi Syiah dan tidak ada Yahudi di sana.

Sementara itu Yahudi muncul zamannya di abad 20 yang secara kebetulan Rotschild Yahudi kaya raya melalui industri minyak hingga bisa mempengaruhi pimpinan dunia dengan uangnya.

Sementara pada masa Perang Salib, Yahudi diburu di Eropa (Prussia-Jerman) hingga dibantai juga di Palestina, saat penaklukkan Ferdinand-Isabella di Spanyol 1493 M, Yahudi diburu dan dibantai hingga masa perang dunia, barulah Yahudi muncul.

Artinya selain kita harus mengkaji kembali ‘yahudi-sentris’ yang tertanam dalam benak kita, tetapi juga kepada peran Syiah.

Terakhir kita mengira hanya Yahudi yang untung besar dengan terbentuknya Israel di Timur Tengah, sisi lain yang kita tidak pahami adalah, justru negara-negara Barat beruntung mengeluarkan Yahudi dari tanah mereka untuk ditempatkan di Tim Tengah sebagai kanker yang menciptakan instabilitas. Barat mengambil keuntungan besar.

Lalu apakah otaknya Yahudi atau justru Kristiani? Faktanya Iran pun beruntung dengan kanker Israel di Timteng. Iran duduk tenang menonton kegoncangan negara di sekitarnya.*

Penulis buku “Panglima Surga”. Twitter @nugrazee

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Perang SalibPersiasyiahTimur Tengahyahudi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Psikolog: Orang tua Tidak Boleh Gagap Teknologi
Tulisan selanjutnya Geert Wilders: Turki Tak Akan Diterima Jadi Anggota Uni Eropa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Berita
15 Juli 2026 09:27
Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza

Terbaru

  • Belgia Resmi Larang Impor Barang dari Permukiman Ilegal ‘Israel’
  • Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
  • Masjid Jadi Sasaran, Pemukim ‘Israel’ Lanjutkan Aksi Pembakaran di Tepi Barat
  • Fasilitas Kesehatan Belum Pulih, Cacar Air Mewabah di Gaza
  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?