Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Perenungan Syair ‘Kemerdekaan’ A. Hassan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Agustus 2019 14:51 2:51 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Agustus 2019 14:51
Bagikan
Bagikan

Oleh: Mahmud Budi Setiawan

Hidayatullah.com | MENJELANG momen peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-74, saya tertarik merenungi bait-bait syair Tuan A. Hassan dalam buku “Sya’ir; Matjam-matjam Petundjuk dan Nashiehat” (Bangil, 1953).

Pada kaca (halaman) 20, ada beberapa bait syair yang dianggit ulama yang dikenal dengan ketegasannya itu:

 

Merdeka kita telah tertjapai

Disana sini suaranja ramai

Keadaan kita tetap terkulai

Bahagian kita djadam dan pulai

 

Apa arti kita merdeka

Djiwa kita di tangan mereka

Terus menerus mereka bersuka

Sepandjang masa kita berduka

Dari lantunan sya’ir tersebut, penulis merasakan kritikan tajam. “Merdeka kita telah tertjapai” sampai 74 tahun ini pun kita tetap merdeka, tapi dalam pengertian wadag dan sangat dangkal: tidak dijajah sebagaimana zaman kolonial.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

“Disana sini suaranja ramai” ekspresi penduduk Indonesia –bukan saja sejak syair ini ditulis, sampai sekarang pun demikian– gegap gempita penuh sorak sorai memenuhi jagad maya dan nyata.

Baca: Logika Jenaka Tuan A. Hassan 

Namun, A. Hassan menyayangkan kondisi yang demikian. “Keadaan kita tetap terkulai” keadaan penduduk Indonesia kala itu –bahkan bisa jadi sampai sekarang—masih terkulai, yaitu terapung-apung terayun-ayun sendirian, sebagai gambaran masih belum bangkit.

Lebih miris lagi, sajak lanjutannya, “Bahagian kita djadam dan pulai” sebagai gambaran yang diterima rakyat adalah pahit-pahit saja. Sampai sekarang pun, apakah rakyat dan bangsa Indonesia berdaulat? Bangsa Indonesia apa sudah mampu menegakkan kepala di tengah persaingan dunia atau justru hanya menjadi sapi perah bagi para penjajah di balik layar yang istiqamah merenggut keperawanannya?

Karena itulah, ulama yang dikenal dengan sebutan Hassan Bandung atau Hasan Bangil ini, seolah mempertanyakan kembali hakikat kemerdekaan: “Apa arti kita merdeka” Apa sih sebenarnya kemerdekaan itu? Apa seperti pada zaman A. Hassan atau seperti yang kita alami sekarang ini? Atau kalau merdeka hanya dalam pengertian begini-begini saja, buat apa kita merdeka? Tidakkah kita menginginkan kemerdekaan yang sempurna, paripurna dan utuh?

Baca: Ahmadiyah Versus A Hassan

Zaman itu, A. Hassan memberi jawaban, “Djiwa kita di tangan mereka” sebagai gambaran bahwa kemerdekaan tidak sepenuhnya diperoleh. Secara lahiriah seolah merdeka, pada hakikatnya masih belum merdeka. Bagaimana dengan sekarang? Sudahkah kita sebagai bangsa memiliki kemandirian dan bisa memilih keputusan sendiri?

Lanjutnya, “Terus menerus mereka bersuka” belum jelas benar yang dimaksud “mereka” pada bait ini. Bisa jadi mereka yang di balik layar masih konsisten melakukan penjajahan; bisa juga pemimpin dari bangsa sendiri yang berjuang bukan untuk kepentingan rakyat, tapi kepentingan nafsu sesaat.

Sayangnya, yang akan menanggung penderitaan adalah rakyat. A. Hassan menuturkan, “Sepandjang masa kita berduka”. Mereka senang-senang, rakyat bernasib malang; mereka berjuang untuk kepentingan pribadi, sementara penderitaan rakyat semakin menjadi-jadi.

Bila demikian halnya, sebagaimana syair-syair beliau yang ditulis tahun 1953 itu, sekali lagi, kita perlu bertanya: Benarkah Kita Telah Merdeka?*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:A. HassanmerdekapenjajahanTerjajah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya tentara turki Erdogan: Pasukan Turki akan Segera Masuki Timur Efrat
Tulisan selanjutnya Namibia Selidiki Kasus Peracunan dan Mutilasi Buaya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Menteri Ekstremis Zionis Terobos Masjidil Aqsha Jelang Pemilu ‘Israel’

Berita
27 Oktober 2026 14:42
Pengadilan Iraq Penjarakan 7 Warga Prancis Anggota ISIS
Buya Hamka, Tontonan Penuh Tuntunan
Memahami Wahyu dan Kenabian: Fondasi Keyakinan Islam di Tengah Tantangan Pemikiran Barat
Parlemen Mesir Restui Dukungan Militer untuk Arab Saudi

Terbaru

  • Meretas untuk Kepentingan Rezim Assad Pria Suriah Divonis 42 Bulan Penjara
  • Pengembangan AI Membuat Investor Alphabet, Amazon, dan Microsoft Khawatir
  • Koalisi Pimpinan Arab Saudi Umumkan Tembak Jatuh Drone Houthi di Mekkah
  • Pekerja Pelabuhan di 20 Negara akan Gelar Mogok Kerja Serentak untuk Palestina
  • Tak Sekedar Tontonan, Film Buya Hamka Vol 3 Jadi Tuntunan Antar Generasi
  • Memahami Wahyu dan Kenabian: Fondasi Keyakinan Islam di Tengah Tantangan Pemikiran Barat
  • LPPOM Sebut Penundaan Wajib Halal 2028 Realistis bagi UMK
  • Pengadilan Iraq Penjarakan 7 Warga Prancis Anggota ISIS
  • Jurnalis Asing Jadi Korban Serangan Pemukim Ilegal ‘Israel’, Dipukuli Hingga Gegar Otak
  • Parlemen Turki Setujui RUU Ratifikasi Pakta Pertahanan Mekkah

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?