Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Peran Ulama dalam Perjuangan Pembebasan Konstantinopel

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Januari 2020 13:15 1:15 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Januari 2020 13:15
Bagikan
[Ilustrasi] Pasukan Panglima Muhammad al Fatih melakukan penaklukan benteng Konstantinopel. Gambar ini direpro dari lukisan raksasa di Museum Panorama 1453 Istanbul, Turki
Bagikan

Oleh: Mahmud Budi Setiawan*

KEGEMILANGAN pahlawan besar Muslim sekaliber Muhammad al-Fatih, tidak bisa dilepaskan dari peran seorang guru kharismatik bernama: Āq Syamsuddin dan ulama lainnya.

Semenjak usia belia, beliau sudah mendapat pendidikan luar biasa dari Āq Syamsuddin (1398-1459 M). Nama asli beliau: Muhammad bin Hamzah al-Dimasyqi Ar-Rumi.

Ulama ini senantiasa memberi motivasi kepada Muhammad Al-Fatih supaya terus berkobar spirit jihadnya, dan membuatnya yakin bahwa sosok yang digadang-gadang Nabi sebagai pembebas Konstantinopel adalah dirinya.

Atas kebrilianan Syekh Āq Syamsuddin dalam mendidik, Muhammad al-Fatih bukan saja menguasai ilmu agama, tapi juga disiplin ilmu lain, seperti kedokteran.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Fakta ini tidak mengherankan karena Syekh Āq adalah ulama yang menguasai banyak disiplin ilmu pengetahuan. Dalam iklim dan kondisi seperti inilah pemuda yang di kemudian hari berhasil menaklukkan Konstantinopel ini dibesarkan.

Setiap kali menghadapi urusan-urusan penting, Muhammad Al-Fatih selalu bermusyawarah bersama Syekh Āq Syamsuddin. Termasuk dalam rencana besar pembebasan Konstantinopel.

Dalam usaha pembebasan ini, Syekh Āq Syamsuddin menyertai beliau dan memberi tambahan spirit dan suntikan semangat tatkala semangatnya sudah mulai mengendor.

Lebih dari itu, ulama brilian itu juga terus-menerus bermunajat ke haribaan Allah agar Al-Fatih memenangkan pertempuran legendaris itu.

Pada suatu momen, Al-Fatih mengintip ke tenda Syekh Āq Syamsuddin, Ternyata beliau sedang hanyut dalam doa, wajah kharismatiknya pun berlinang air mata. Rupanya ulama ini sedang mendoakan murid kesayangannya.

Bahkan, saat kemenangan sudah digapai oleh Muhammad al-Fatih, ia tak menunjukkan kegemberiaan yang berlebihan. Terlihat gembira sekadarnya. Tak lebih dan tak kurang.

Menariknya, Muhammad Al-Fatih malah berujar, “Kegembiraanku bukan karena membebaskan kota (Konstantinopel). Kegembiraanku hanya karena adanya orang seperti ini di zamanku.” (Fahd Khalil Zaid, ‘Abqariyyatul Intishar fi al-Ma’arik wa Fath al-Amshar, 230).

Sebuah pernyataan tulus dan jujur dari sang pahlawan sekelas Muhammad al-Fatih bahwa selain pertolongan Allah, ada peran ulama besar yang berada dalam perjuangannya. Apresiasi beliau terhadap ulama sungguh luar biasa. Pantas, jika dalam pertempuran besar ini ia mendapat kemenangan di usia yang masih muda.

Dalam buku Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia (2009: 264), menurut catatan Prof. Raghib As-Sirjani, beliau mendengar seorang alim di tempatnya tertimpa suatu musibah, maka dengan segera ia mengeluarkan bantuan dan memenuhi kebutuhannya.

Itu dilakukan dengan respons yang cepat tanpa mempertimbangkan banyak hal. Demikianlah yang dilakukan oleh Muhammad Al-Fatih kepada ulama.

Selain itu, saat menjelang meninggal dunia, beliau berpesan kepada anak-anaknya, “Sesungguhnya para ilmuwan (ulama) menduduki kekuatan yang kokoh dalam tubuh pemerintah, membuat agung sisi-sisi dan menjadi motivator.

Ketika kamu mendengar salah seorang di antara mereka di negeri lain, datangkan dia kepadamu dan muliakanlah mereka dengan harta.” (Raghib As-Sirjani, Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, pen: Sonif dkk, 264).

Beberapa peristiwa tersebut menunjukkan bahwa di samping pertolongan Allah, kunci kemenangan Muhammad Al-Fatih ialah kerja sama beliau dengan ulama dan rasa hormatnya yang tinggi kepada mereka. Artinya, sinergi antara ulama dan umara di sini benar-benar wujud.

Siapapun generasi yang menjadikan ulama terhormat, dan melibatkan mereka dalam setiap mengambil keputusan penting, sangat berpeluang besar menjadi generasi terhormat dan mendapat kejayaan; sebagaimana Al-Fatih yang mampu mengguncang dunia dengan membebaskan Konstantinopel setelah berabad-abad lamanya.*

Penulis alumnus Al Azhar, Mesir

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Āq SyamsuddinKonstantinopelMuhammad al FatihpemimpinPemudaulamaumara
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hindari Wajib Militer, Mayoritas Pemuda Israel Berpura-pura Miliki Gangguan Mental
Tulisan selanjutnya Wakil Rakyat Kecewa Pemerintah Naikkan Iuran BPJS

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon

Berita
17 Oktober 2026 09:35
Kecam Serangan Bandara King Khalid Saudi, Dewan Dakwah: Tidak Dapat Dibenarkan
Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli
PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak
Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?