Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Bahaya Meninggalkan Muhasabah (1)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Juni 2016 09:39 9:39 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Juni 2016 09:34
Bagikan
Bagikan

YANG paling berbahaya bagi suatu pekerjaan adalah meremehkan, meninggalkan muhasabah, melepaskan begitu saja, dan menggampangkan persoalan. Sebab hal-hal itu akan menghantarkan pada kehancuran. Dan itulah keadaan orang-orang yang terperdaya, menutup mata dari segala akibat, menantang keadaan, dan bersandar hanya pada ampunan.

Ia melambatkan diri melakukan muhasabah dan melihat akibat yang bakal ia derita. Sungguh jika seseorang bersikap demikian, maka akan mudah baginya terjerumus pada dosa. Ia akan senang bergumul dengannya, bahkan akan sulit berpisah dengannya. Seandainya saja ia mengikuti kebenaran, niscaya ia akan tahu bahwa penjagaan nafsu lebih mudah daripada meliarkannya.

Untuk itu hendaknya ia menghisab dirinya pertama kali dalam hal-hal yang wajib. Jika ia ingat ada yang ditinggalkan maka ia harus menyusulnya, baik dengan qadha’ atau dengan perbaikan. Selanjutnya, hendaknya ia menghisab dirinya dalam hal-hal yang dilarang. Jika ia mengetahui ada sesuatu yang ia langgar maka hendaknya ia segera menyusulnya dengan taubat, istighfar dan berbagai kebaikan yang menghapus dosa. Kemudian hendaknya ia menghisab atas kelalaian dirinya.

Jika ia lengah tentang untuk apa ia diciptakan maka hendaknya ia menyusulnya dengan dzikir dan menghadap kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lalu hendaknya ia menghisab apa yang telah ia bicarakan, atau ke mana kakinya melangkah, atau apa yang diambil oleh kedua tangannya, atau apa yang didengar oleh kedua telinganya, untuk apa ia lakukan semua itu, dan untuk siapa? Dan atas dasar apa yang ia lakukan semua itu?

Pertanyaan yang pertama adalah tentang ikhlas, sedang yang kedua tentang mutaba’ah (mengikuti Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam).

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

Allah berfirman, “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang mereka kerjakan dahulu.” (Al-Hijr: 92-93).

“Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami) maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat) sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).” (Al-A’raf: 6-7).

“Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka.” (Al-Ahzab: 8).

Jika orang-orang yang benar ditanya dan dihisab atas kebenaran mereka, maka bagaimana pula dengan orang-orang pendusta? Muqatil berkata, “Allah Ta’ala berfirman, “Kami telah mengambil perjanjian dengan mereka, agar Allah menanyakan kepada orang-orang yang benar yakni para nabi tentang penyampaian risalah (yang dibebankan kepada mereka)’.”

Mujahid berkata, “Allah bertanya kepada orang-orang yang terhadap mereka dakwah rasul disampaikan, apakah mereka melaksanakan ajaran rasul itu? Sebagaimana Allah juga bertanya kepada para rasul apakah mereka menyampaikannya sebagaimana yang diwahyukan Allah?”

Yang jelas, ayat di atas meliputi semua pengertian yang disebutkan. Orang-orang yang benar adalah para rasul serta mereka yang kepadanya dakwah disampaikan. Kepada rasul ditanyakan tentang tabligh (penyampaian dakwah), sedang kepada orang-orang yang kepadanya dakwah disampaikan, ditanyakan tentang apa yang disampaikan oleh para rasul kepada mereka.

Kemudian orang-orang yang telah sampai kepadanya dakwah, ditanyakan tentang jawaban apa yang mereka berikan kepada para rasul, sebagaimana firman Allah,

“Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka seraya berkata, ‘Apakah jawabanmu kepada para rasul?’.” (Al-Qashash: 65).

Manusia kelak akan ditanya dan dihisab tentang segala sesuatu, bahkan hingga atas pendengaran, penglihatan, dan hatinya, sebagaimana firman Allah,

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Israa’: 36).

Maka kita mesti menghisab diri sebelum hisab itu datang kepada kita.

Adapun ayat yang menunjukkan wajibnya melakukan muhasabah terhadap diri adalah firman Allah,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18).

Di sini Allah menegaskan, hendaknya setiap diri memperhatikan amal-amal apa yang telah ia persiapkan untuk Hari Kiamat, apakah amal-amal baik yang bisa menyelamatkan dirinya atau amal-amal buruk yang bisa membinasakannya.

Qatadah berkata, “Tuhanmu masih senantiasa mendekatkan Hari Kiamat, sehingga Dia menjadikannya seakan-akan terjadi besok.” Maksudnya, kebaikan hati adalah dengan mengadakan muhasabah diri, sedang rusaknya hati adalah dengan meremehkannya serta melepaskan nafsu begitu saja.*/Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, tertuang dalam bukunya Manajemen Kalbu-Melumpuhkan Senjata Syetan. [Tulisan selanjutnya]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:introspeksi dirimuhasabah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Puasa 18 Jam di Musim Panas, Bibir Pecah-pecah sampai Berdarah
Tulisan selanjutnya Bahaya Meninggalkan Muhasabah (2)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?