Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Meminang Surga

Diistimewakan Allah Bersebab Niat Jujur Orangtua

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 Juni 2022 20:43 8:43 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Juni 2022 21:00
Bagikan
Bagikan

Nabi Ismail, Nabi Ishaq dan Nabi diistimewakan Allah Ta’ala bersebab kuatnya tekad, jujurnya niat dan untuk mewakafkan anaknya di jalan Allah SWT

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Hidayatullah.com | ADA yang Allah Ta’ala istimewakan karena doa orangtua yang tak kenal lelah, penuh harap, bersungguh-sungguh dan tak berputus asa dalam memohon. Selebihnya di luar doa, orangtua mengisi kehidupannya dengan perjuangan menegakkan dakwah meninggikan syiar agama ini.

Inilah yang kita dapati pada kisah Nabi Ismail, Ishaq maupun Yahya. Di luar itu, ada pula yang Allah Ta’ala istimewakan bersebab kuatnya tekad, jujurnya niat dan besarnya kesungguhan orangtua untuk mewakafkan anaknya di jalan Allah SWT.

Mereka pun tak putus-putus berdoa, tetapi yang paling istimewa adalah nadzarnya untuk menjadikan anaknya berkhidmat di Baitul Maqdis, menghabiskan umurnya untuk beribadah dan menolong agama ini.

Baca Juga

teman
Membebaskan Anak dari Label Negatif
Lembut Itu Tak Berkata Kasar
Tanpa Ta`dib dan Pendidikan Adab, Boarding School Ibarat Rumah Kost Belaka
Kreatif Tanpa Musik
Matinya Perjuangan

Allah Ta’ala berfirman:

إِذۡ قَالَتِ ٱمۡرَأَتُ عِمۡرَٲنَ رَبِّ إِنِّى نَذَرۡتُ لَكَ مَا فِى بَطۡنِى مُحَرَّرً۬ا فَتَقَبَّلۡ مِنِّىٓ‌ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran (Hannah) berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”  (QS: Ali Imran [3]: 35).

Istrinya Imran (ٱمۡرَأَتُ عِمۡرَٲنَ). Para ulama menyatakan bahwa ia adalah Hannah binti Faqudz. Muhammad bin Ishaq berkata, “Hannah binti Faqudz adalah seorang wanita yang tidak pernah hamil. Suatu hari ia melihat seekor burung memberi makan anak-anaknya, maka ia pun ingin mendapatkan anak. Lalu ia berdoa kepada Allah SWT agar memberinya seorang anak. Dan Allah SWT pun mengabulkan doanya. Setelah suaminya melakukan hubungan badan dengannya, maka ia pun hamil.”

Tatkala mengetahui dirinya benar-benar hamil itulah Hannah bernadzar kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan tekad yang sangat kuat. Ia sangat berharap anak laki-laki agar dapat sungguh-sungguh berkhidmat di Baitul Maqdis. Tetapi Allah Ta’ala rupanya menguji dengan memberikan anak perempuan.

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّى وَضَعْتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلْأُنثَىٰ ۖ وَإِنِّى سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّىٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ

“Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk.”  (QS: Ali Imran [3]: 36).

Ada kekecewaan karena tak sesuai harapan, tetapi tidak menggugurkan nadzarnya. Ia tetap berkeinginan kuat agar anaknya dapat berkhidmat di Baitul Maqdis.

Allah SWT menyatakan, “وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ. Dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu.”

Ia pun memohon perlindungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla bagi Maryam, putri yang baru dilahirkannya, beserta keturunannya. Allah Ta’ala terima nadzarnya sekaligus membaguskan pendidikannya.

Kelak Allah SWT berikan keturunan kepada Maryam seorang anak laki-laki yang mulia di masanya dan mulia pula ketika suatu saat nanti diturunkan kembali di muka bumi pada akhir zaman. Dialah Isa ‘alaihissalam.

Kelak ketika Maryam telah dewasa dan berkhidmat di Baitul Maqdis, Allah ‘Azza wa Jalla berikan keistimewaan berupa makanan dari surga; tersedia di mihrabnya. Ini mengherankan pamannya, Zakariya ‘alaihissalaam, seorang nabi yang mendapat amanah mengurusi Maryam.

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُوۡلٍ حَسَنٍ وَّاَنۡۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا ۙ وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ‌ؕ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيۡهَا زَكَرِيَّا الۡمِحۡرَابَۙ وَجَدَ عِنۡدَهَا رِزۡقًا ‌ۚ‌ قَالَ يٰمَرۡيَمُ اَنّٰى لَـكِ هٰذَا ؕ‌ قَالَتۡ هُوَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ يَرۡزُقُ مَنۡ يَّشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٍ

“Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam darimana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS: Ali Imran [3]: 37).

Inilah kejadian berulang yang benar-benar menggugah Nabi Zakariya ‘alaihissalaam untuk berdoa memohon keturunan. Ia segera menadahkan tangan, meminta kepada Allah SWT sepenuh kesungguhan:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a.” (QS: Ali Imran [3]: 38).

Sekali lagi kita belajar bahwa setiap permohonan, termasuk memohon keturunan, hendaklah tidak terlepas dari kebaikan. Dalam hal doa Nabi Zakariya ‘alaihissalam, beliau memohon ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً (keturunan yang bersih).

Jangan salah. Jika kita membaca ayat tersebut berurutan, seolah-olah doa Nabi Zakariya seketika dikabulkan dalam waktu sangat cepat. Adakalanya Allah SWT tidak seketika mengabulkan doa hamba-Nya justru karena hamba tersebut sangat dicintai-Nya.

Bukankah ini pula yang terjadi pada Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam saat berdoa memohon keturunan? Demikian pula pada Nabi Zakariya ‘alaihissalam hingga beliau berdo’a:

رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

“Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Sesungguhnya aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai.” (QS: Maryam [19]: 4 – 6).

Saat itu Nabi Zakariya ‘alaihissalam sudah sangat tua. Demikian pula istrinya. Sudah tak mungkin lagi mengandung dan melahirkan. Tidak akan ada kemungkinan itu, kecuali hanya jika Allah ‘Azza wa Jalla memberi kekhususan sebagaimana api yang tidak membakar NabiyuLlah Ibrahim.

Artinya, sesuai sunnatullah perempuan lanjut usia sudah tidak mungkin lagi mengandung. Tetapi Allah Mahakuasa untuk memperbaiki segala sesuatu.

“Ingatlah kisah Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling baik. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Aku perbaiki isterinya (sehingga dapat mengandung). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (Al-Anbiya [21]: 89 – 90).

Dari sini jelas bahwa pada asalnya di usia yang sudah setua itu tak ada lagi peluang untuk mengandung. Namun ada perlakuan khusus dari Allah sebagai jawaban terhadap doa hamba-Nya yang shaleh. Allah SWT pun memberi kabar gembira:

يٰزَكَرِيَّاۤ اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمِ اۨسۡمُهٗ يَحۡيٰى ۙ لَمۡ نَجۡعَلْ لَّهٗ مِنۡ قَبۡلُ سَمِيًّا

“Wahai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang bernama Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (QS: Maryam [19]: 7).

Alangkah istimewanya Yahya ‘alaihissalam. Belum pernah Allah ciptakan manusia yang serupa dengannya sebelum itu. Di antara keistimewaan sangat khusus yang diberikan kepadanya ialah hukma shabiyya (memiliki hikmah; kebijaksanaan saat masih kanak-kanak). Dan berbagai keistimewaan itu Allah karuniakan sebagai jawaban bagi doa tak putus-putus, terus-menerus hingga di saat yang serasa mustahil dari Nabi Zakariya ‘alaihissalam.

Nah, seperti apa doa kita untuk anak dan keturunan kita seluruhnya? sebagaimana orangtua kita?*

Penulis buku-buku parenting

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:doa orangtuajujurorangtua
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Lebih dari 1.000 Serangan Anti-Muslim Terjadi di Austria selama Tahun 2021
Tulisan selanjutnya rokok menurut para ulama Arab Saudi Akan Naikkan Batas Minimal Perokok 21 Tahun

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat

Berita
13 Juni 2026 13:44
Jenderal ‘Israel’ Naik Pangkat Usai Bunuh Anak Palestina, Kini Dipecat karena Skandal Moral
BPJPH Dorong Pelaku Usaha Urus Sertifikat Halal Jelang Wajib Halal 2026
Vape Piu Piu Bikin Pengguna Seperti Zombie, Kata Kepolisian Malaysia
MUI: Kasus Hukum di BGN Harus Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola dan Integritas Pengelola

Terbaru

  • Persidangan Kasus Rodrigo Duterte di ICC Bisa Melibatkan 1.000 Korban
  • Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya
  • Kapalnya Ditembak Dekat Oman India Panggil Diplomat Amerika Serikat
  • Seorang Ibu Gugat OpenAI Terkait Kematian Putrinya Usai Curhat ke ChatGPT
  • Kelompok Hacker Terkait Iran Klaim Retas Drone FBI
  • Jelang Musim Panas UEA Sediakan 12 Ribu Tempat Istirahat Ber-AC untuk Pekerja Luar Ruangan
  • Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
  • Mengukir Senyum, Merajut Persaudaraan: Hangatnya Kebersamaan Qurban di Dukuh Kwarasan
  • Haflah Parade Tasmi’ Al-Qur’an, Momentum Mencetak Generasi Penghafal Al-Qur’an
  • China Tangkap Akademisi WN Amerika dengan Tuduhan Spionase

Mungkin Anda Juga Suka

Meminang Surga

Lembut Itu Ada Takarannya

30 November 2021 15:00
Za'faran Herbal
Meminang Surga

Tiap Obat Ada Dosisnya ⁣

8 Oktober 2021 07:33
Jepang, Negeri Yang menua
Meminang Surga

Keengganan Mengurusi Anak Dan Masa Depan Demografis Jepang. ⁣⁣

13 September 2021 17:28
Berdakwah Pada Anak
Meminang Surga

Jangan Remehkan Dakwah Kepada Anak

4 September 2021 06:02
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?