Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
None

Pangeran Salam Tahan Paman dan Sepupunya atas Tuduhan ‘Kudeta’

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 9 Maret 2020 18:45 6:45 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 7 Maret 2020 10:41
Bagikan
Bekas Menteri Dalam Negeri Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Nayef.
Bagikan

Hidayatullah.com-Pemerintah Saudi telah menahan tiga pangeran termasuk saudara laki-laki Raja Salman dan keponakannya dengan tuduhan merencanakan kudeta. Peristiwa ini menandakan konsolidasi kekuasaan lebih besar oleh penguasa de facto kerajaan itu, kutip media AS melaporkan pada Jumat (06/03/2020).

Penahanan tersebut menjatuhkan sisa-sisa terakhir dari potensi oposisi terhadap Putra Mahkota Mohammad bin Salman (MBS). Hal ini terjadi ketika kerajaan membatasi akses ke situs-situs paling suci Islam dalam langkah yang sangat sensitif untuk menahan penyebaran virus corona lapor Al Araby.

Pangeran Ahmad bin Abdulaziz al-Saud, saudara laki-laki Raja Salman, dan keponakan Raja, Pangeran Mohammad bin Naif (Nayef) dituduh melakukan pengkhianatan. Nayef dijemput dari rumah mereka pada Jumat pagi oleh pengawal kerajaan, kutip Wall Street Journal.

Pengadilan kerajaan Saudi menuduh kedua lelaki itu, yang pernah menjadi calon terkuat penantang takhta, “merencanakan kudeta untuk menggulingkan raja dan putra mahkota”. Ia dapat menghadapi hukuman penjara seumur hidup atau eksekusi, kata surat kabar tersebut.

New York Times juga melaporkan penahanan itu, menambahkan bahwa adik Pangeran Nayef, Pangeran Nawaf bin Nayef, juga telah ditahan. Sekelompok pria bertopeng dengan pakaian hitam mendatangi rumah para anggota kerajaan itu dan menggeledahnya, Wall Street Journal melaporkan. Pemerintah Saudi belum mengomentari laporan tersebut.

Baca Juga

Tahun Baru Hijriah, Kini Punya Makna Perubahan Orientasi Hidup dan Kepedulian Sosial
Cegah Anak Obesitas, Inggris Larang Makanan Manis dan Gorengan di Sekolah
Iran Hujani Israel dengan Rudal Usai Trump Klaim Kemampuannya Melemah
200 Tentara AS Terluka, Iran Nyatakan Siap Perang Panjang
Jerman Penjarakan Seorang Pria Libanon Anggota Hizbullah

Penahanan itu menandai tindakan keras terbaru MBS, yang telah memperkuat cengkramannya pada kekuasaan dengan menahan ulama-ulama terkemuka dan aktivis serta pangeran dan elit bisnis.

MBS juga menghadapi banyak kecaman internasional atas pembunuhan penulis Jamal Khashoggi yang kritis terhadap pemerintahan di dalam konsulat Saudi di Istanbul pada Oktober 2018.

Sudah dipandang sebagai penguasa de facto yang mengendalikan semua tuas utama pemerintahan, dari pertahanan hingga ekonomi, sang pangeran secara luas telah diperkirakan akan menghilangkan semua jejak perbedaan internal sebelum pemindahan kekuasaan resmi dari ayahnya Raja Salman yang berumur 84 tahun.

“Pangeran Mohammad berani – dia telah menyingkirkan semua ancaman terhadap kenaikannya dan menahan atau membunuh kritik terhadap rezimnya tanpa dampak apapun,” Becca Wasser, seorang analis kebijakan di RAND Corporation, mengomentari perkembangan terbaru ini.

“Ini adalah langkah lebih lanjut untuk menopang kekuatannya dan sebuah pesan kepada semua orang – termasuk anggota kerajaan – untuk tidak melewatinya.”

Menyingkirkan pesaing

Pangeran Ahmad, dikatakan berusia 70an, telah kembali ke kerajaan dari tempatnya di London setelah skandal Khashoggi, sebagai bentuk upaya mendukung kerajaan menurut beberapa pihak.

Persis sebelum kembalinya dia pada Oktober 2018, sang pangeran telah menimbulkan kontroversi atas pernyataan yang dia buat kepada para demonstran di London yang meneriaki bangsawan Saudi itu karena keterlibatan kerajaan dalam konflik di Yaman.

“Apa hubungan keluarga kerajaan dengan itu? Orang-orang tertentu yang bertanggungjawab… raja dan putra mahkota,” katanya, berdasarkan video insiden yang beredar luas.

Komentar tersebut dilihat oleh banyak orang sebagai kritik langka terhadap kepemimpinan kerajaan dan perannya di Yaman, namun Pangeran Ahmad menolak interpretasi itu dan menyebutnya “tidak akurat”.

 

Pangeran MBS telah menyingkirkan Pangeran Nayef, mantan putra mahkota dan menteri dalam negeri, pada 2017 untuk menjadi pewaris tahkta paling kuat di dunia Arab. Pada saat itu, saluran televisi Saudi memperlihatkan MBS mencium tangan pangeran yang lebih tua darinya itu dan berlutut di hadapannya untuk menunjukkan rasa hormat.

Laporan-laporan media Barat kemudian mengatakan bahwa pangeran yang digulingkan itu telah ditempatkan di tahanan rumah, klaim yang dengan keras dibantah pemerintah Saudi.  Penahanan itu terjadi pada saat yang sensitif ketika Arab Saudi melarang jamaah Muslim dari situs paling suci Islam untuk mengantisipasi penyebaran virus corona baru.

Kerajaan telah menunda umroh sepanjang tahun karena kekhawatiran penyakit menyebar ke Mekah dan Madinah, meningkatkan ketidakpastian atas ibadah Haji yang akan datang – pilar utama Islam. Kerajaan kaya minyak juga bergulat dengan harga minyak mentah yang jatuh, sumber pendapatan utamanya.*

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ahmad bin Abdulaziz al-Saudarab saudikudetaMBSMohammad bin NayefMohammad bin SalmanPangeran SalamPutra MahkotaRaja Salman
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hidayatullah Tekankan Pembinaan Mental dan Adab pada Pendidikan
Tulisan selanjutnya Paus Fransiskus Terima Pengunduran Diri Kardinal Terkait Penyembunyian Kasus Pendeta Pedofil

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi

Berita
2 September 2026 20:16
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata
Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaNone

Kurma Israel Beredar di Eropa dengan Label Palsu

20 Februari 2026 07:00
BeritaNone

Video: Pria Disabilitas di Nepal Viral Menjaga Masjid dari Serangan Kelompok Radikal

11 Februari 2026 05:26
None

“Kemunafikan Barat Terbongkar”: Celah Hukum Pernikahan Anak di AS Disorot Aktivis HAM

2 Februari 2026 19:30
None

Tolak Gabung ‘Dewan Perdamaian’, Jerman: Penyimpangan Sistem Internasional

23 Januari 2026 09:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?