Hidayatullah.com–Polisi menggunakan tongkat kayu untuk memukul mundur warga India yang berdesak-desakan untuk membeli alcohol. Ini untuk pertama kalinya dalam 40 hari ketika pemerintah melonggarkan lockdown akibat virus corona terbesar di dunia lapor Al Jazeera.
Pemerintah memuji penutupan ketat hampir semua aktivitas sejak akhir Maret dengan mempertahankan total kasus virus corona di angka 42.500, dengan sekitar 1.400 kematian. Tetapi lockdown juga merupakan pukulan keras bagi ekonomi terbesar ketiga Asia itu dan menyengsarakan jutaan pekerja di sektor informalnya – orang yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan karena pandemi.
Sebelumnya telah memberi keringanan kepada industri dan agrikultur, pemerintah pada Senin memperbolehkan kantor-kantor untuk beroperasi dengan sepertiga kapasitas. Beberapa mobil dan motor terlihat di jalanan, dan toko-toko tertentu dibuka.
Shocked to see today’s scenes at #LiquorShops in Andhra Pradesh. Common sense says that people will throng in large numbers, but there is no contingency plan from @ysjagan nor is there a care for social distance. This comes amidst the steep rise in #Covid19 cases in AP pic.twitter.com/gaPigym896
— N Chandrababu Naidu (@ncbn) May 4, 2020
Petugas kepolisian bersusah payah menggambar lingkaran kapur agar pembeli minuman keras dapat mengantri, tetapi upaya social distancing itu tidak berhasil ketika orang-orang berkumpul sejak pagi dan semakin banyak.
“Kami telah berada dalam kesunyian selama satu bulan,” Asit Banerjee, 55 tahun, mengatakan pada kantor berita AFP. Sementara dia mengantri di depan toko minuman keras di Kolkata, di mana – seperti di New Delhi dan tempat lain – polisi menggunakan tongkat untuk mengendalikan kerumunan.
“Alkohol akan memberi kita energi untuk menjaga jarak sosial selama pandemi,” katanya.
Di tempat lain, seperti di Ghaziabad di negara bagian Uttar Pradesh, polisi menutup toko-toko segera setelah itu menyebabkan antrian panjang orang-orang bermasker di sekitar blok.
“Salah satu toko telah dibuka di pagi hari tetapi bentrokan pecah ketika banyak orang berkumpul,” kata seorang petugas polisi di Ghaziabad kepada AFP.
Meskipun ditutup, ratusan orang terus berkeliaran di jalan-jalan sekitar dan menunggu dengan harapan toko akan dibuka kembali. Salah satu orang yang berhasil membeli beberapa anggur, Sagar, 25 tahun, mengatakan dia pergi ke sebuah toko minuman keras di ibukota pada pukul 07.30 dan menemukan toko tersebut buka lebih awal.
“Ada sekitar 20 sampai 25 orang pada pagi dan toko itu buka sekitar dua jam,” katanya pada AFP.
“Lima orang diperbolehkan masuk dalam satu waktu. Sekarang mereka menutupnya.”
Di beberapa negara bagian, termasuk Maharashtra, toko minuman keras tertentu tetap tutup di tengah kebingungan mengenai outlet mana yang diizinkan untuk dibuka. Di negara-negara lain, seperti di Assam, mereka dibuka beberapa hari sebelumnya.
Meskipun ilegal di beberapa negara seperti Gujarat, negara asal Perdana Menteri Narendra Modi, konsumsi alkohol telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir karena tumbuhnya kelas menengah negara itu.
Bentrokan polisi dengan pekerja migran
Sementara itu, polisi di kota Surat di Gujarat menembakkan gas air mata ke kerumunan pekerja migran yang berdemonstrasi mendesak dipulangkannya mereka ke negara-negara bagian asal mereka. Meskipun para pejabat mengatakan pembatasan ketat pada pekerjaan dan perjalanan adalah kunci untuk mengalahkan virus, penutupan itu telah membahayakan kelangsungan hidup ekonomi banyak orang, termasuk sekitar 140 juta pekerja migran.
Sekitar 1.000 pekerja yang terperangkap berkumpul di pinggiran kota Surat dan melempari batu polisi yang ingin membubarkan mereka, laporan resmi mengatakan.
“Kami menahan 80 orang sejauh ini dan dalam proses mengidentifikasi lainnya,” kepala kepolisian Surat, AM Muniya, mengatakan pada wartawan.
Mitra kantor berita Reuters di India, ANI, membagikan video yang memperlihatkan polisi menembakkan gas air mata ke arah sekelompok besar orang-orang yang berdiri di depan pertokoan yang tutup. Televisi lokal memperlihatkan gambar polisi memasuki bangunan dan rumah di daerah itu dan menahan orang-orang.
Surat, pusat industri dan pusat pengolahan berlian, telah mengalami beberapa insiden kerusuhan tenaga kerja sejak penguncian dimulai pada bulan Maret. *