JIKA perbuatan jujur selalu disertai pujian, maka karena kejujuran itu memang melekat di dalamnya sifat-sifat tertentu yang membuat pelakunya dipuji.
Demikianlah diungkapkan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Miftah Daris Sa’adah.
Biarpun kejujuran itu menjadi kendaraan orang yang tak terhormat secara status sosial, maka kehormatan itu akan melekat bersama orang yang benar-benar jujur. Itulah sosok Nabi Muhammad tidak dihormati oleh siapapun karena kejujurannya yang teruji.
Tidak heran jika sosoknya kemudian mampu menengahi para kelompok yang berselisih. Integritasnya tegak, kejujurannya menjulang dalam kehidupan, sehingga siapapun tidak lagi memiliki keraguan terhadap sosoknya.
Dalam kata yang lain, kejujuran Muhammad telah menyelamatkan penduduk Makkah dari perselisihan berlarut-larut apalagi sampai terjadi pertumpahan darah.
Lantas, bagaimana dengan kebohongan?
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menuliskannya lebih panjang.
“Kebohongan mengandung sifat-sifat yang dapat merusak tatanan alam semesta. Alam semesta dan kehidupan tidak mungkin ditegakkan di atas kebohongan, tidak di dunia, dan tidak pula di akhirat. Sebab perbuatan bohong tersebut mengandung sifat-sifat yang dapat merusak kehidupan di dunia dan akhirat.”
Di dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa orang yang mengada-adakan kebohongan akan berjumpa dengan kerugian.
قُلْ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَۗ
“Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung.”” (QS. Yunus[10]:69).
Ibn Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud pendusta dan pembohong pada ayat tersebut adalah mereka yang menuduh Allah mempunyai anak, mereka tidak akan beruntung di dunia dan akhirat.
Namun, di dunia ini mereka mendapatkan tempo untuk mendapati kesenagan hidup yang sedikit, setelah itu mereka akan disiksa dengan siksaan yang keras (QS. 31: 24).
Jadi, kebohongan itu sangat buruk dan Allah sangat membenci sikap demikian. Meski demikian, dari masa ke masa selalu ada kebohongan di muka bumi, bahkan dalam kurun tertentu, kebohongan itu menjadi penguasa yang menjadikan kehidupan manusia diliputi kegelapan.
Dalam kebohongan selalu ada mata rantai logika yang terputus, sistem penjelas yang rancu, serta argumen-argumen yang menciderai akal sehat manusia. Hal ini tidak lain karena kebohongan adalah sebuah keburukan yang siapapun dapat mendeteksinya dengan sangat mudah.
Selanjutnya Ibn Qayyim melanjutkan penjelasannya. “Kerusakan yang timbul akibat kebohongan diketahui banyak kalangan, awam atau pun khusus. Bagaimana tidak, kebohongan merupakan sumber segala kejahatan. rusaknya anggota tubuh ialah karena lisan yang dusta.”
Masih menurut Ibn Qayyim. “Berapa banyak negeri dan kerajaan yang musnah akibat kebohongan. Berapa banyak nikmat yang dicabut, kehidupan terhenti, maslahat menjadi kacau, permusuhan muncul, rasa cinta sirna, orang kaya menjadi miskin, orang berkedudukan menjadi hina, yang terhormat menjadi ternodai, yang suci tertuduh, rumah dan juga istana runtuh, kuburan dibangun, kebahagiaan hilang, kesedihan datang, hubungan antara orang tua dan anak terputus, kakak-beradik bermusuhan, kawan menjadi lawan, hubungan asmara terpisahkan, semuanya itu (terjadi) akibat kebohongan.”
Belum selesai, Ibn Qayyim menambahkan, “Berapa banyak negeri yang ditinggalkan, wajah yang tercoreng, maka yang dibutakan, akal yang dirusak, fitrah yang disimpangkan, musibah yang terjadi, jalan terputus, tanda hidayah terhapus, jejak-jejak kenabian sirna, jalan hidayah hilang, dan maslahat hamba di dalam kehidupan dunia dan akhirat hilang akibat kebohongan!”
Sekalipun begitu dahsyat, Ibn Qayyim masih mengkategorikan bahwa semua itu hanyalah sebutir kecil dampak buruk dari kebohongan atau sebesar sayap nyamuk mudharat yang ditimbulkan.
Dengan demikian, di sisa 10 hari terakhir Ramadhan, mari sadarkan diri, berhenti dari segala kebohongan, sungguh kesempatan taubat masih sangat terbuka, jangan sia-siakan begitu saja.
Jika tidak berhenti, malah semakin menjadi-jadi dalam kebohongan, maka kelak, Allah akan haramkan surga bagi para pelakunya.
“Neraka tidaklah penuh terisi kecuali oleh para pendusta. Mereka yang mendustakan Allah, mendustakan Rasul, dan agama-Nya, mendustakan wali-Nya, dan mendustakan kebenaran karena didasari gengsi dan fanatisme kejahiliyahan,” tegas Ibn Qayyim Al-Jauziyah.
فَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللّٰهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ اِذْ جَاۤءَهٗۗ اَلَيْسَ فِيْ جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْكٰفِرِيْنَ
“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat kebohongan terhadap Allah dan mendustakan kebenaran yang datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahanam tempat tinggal bagi orang-orang kafir?” (QS. Az-Zumar[39]:32).* Imam Nawawi