Hidayatullah.com | BULIR peluh memenuhi wajah pemuda itu. Kaos bola yang bertuliskan nama Oziel, pemain asal Turki itu tampak berkujur basah. Meski gagang cangkul masih tegak berdiri, ia sendiri sudah memilih duduk bersandar di bawah pohon.
Beberapa kawan yang menemaninya juga lebih dulu berteduh. Pagi jelang siang tersebut, matahari memang sedang terik-teriknya, beberapa waktu lalu.
Uzil, nama panggilan pemuda itu. Lengkapnya, Muzhirul Haq. Di lingkungan tempat tinggalnya, Uzil biasa disapa dengan ustadz muda. Sehari-hari ustadz yang pernah menimba ilmu di Akademi Bena Ulama Istanbul, Turki tersebut disibukkan dengan kegiatan mengajar di satu perguruan tinggi di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Selain jadi dosen, Uzil juga aktif bergaul dan mendakwahi kawula muda di sekitar lingkungannya. Beberapa bulan lalu, dia bahkan didapuk sebagai pengurus pusat di satu organisasi pemuda tingkat nasional. Belum lagi soal dakwah dan kegiatan pengabdian masyarakat lainnya. Bisa dibilang setiap hari ada saja jadwal mengajar atau dakwah yang menanti.
Khusus dakwah, belakangan Uzil dan kawan-kawan pemudanya sedang menggarap dakwah khusus menyasar di pinggiran kota.
“Kalau di kota rata-rata sudah banyak yang mengisi, jadi kami pilih daerah pinggiran atau pelosok saja,” jelas Uzil yang juga tinggal di ujung timur Balikpapan ini. Bahkan seratus meter lagi sudah berbatasan dengan wilayah Salok Api, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Di masa pandemi Covid-19, semua jadwal mengajar dan dakwah dilakukan secara daring. Selama Ramadhan 1441H/2020M ini, Uzil juga beberapa kali tampil dalam berbagai acara dakwah yang digelar.
Baru-baru ini, lulusan fakultas hadits Universitas Al-Iman, Yaman tersebut tampil sebagai pembicara dalam acara Talk Show Internasional “Menikmati Ramadhan Sehari di Luar Negeri”. Ia juga mengisi materi Pekan Ilmiah Pendidikan Ulama Zuama tentang “Mengenal Para Imam Hadits dan Kutubus Sittah”.
Namun di sela itu semua, Uzil punya kesibukan baru lagi. Yaitu berkebun dan bercocok tanam. Bukan karena menganggur, tidak mengajar atau dakwah lagi. Semua itu masih berjalan seperti biasa.
Tapi kebijakan tempat mengajarnya membuat seluruh dosen punya jadwal baru, membuka lahan baru untuk bercocok tanam. “Ini kebijakan ketahanan pangan. Semuanya wajib mencangkul dan berkebun,” ucap ayah dua anak tersebut.
Menurut Uzil, di lingkungan tempat tinggalnya, lagi marak anjuran ketahanan pangan. Oleh pengurus RT setempat, seluruh warga diimbau untuk memanfaatkan lahan sekecil apapun untuk menanam pohon, khususnya singkong, buah-buahan, dan sayur-sayuran.
Bahkan sampai diumumkan di speaker masjid, agar semua turun berkebun mengunjungi lahan yang baru dibuka belum lama ini.
Kini bersama dosen lainnya, Uzil punya sepetak kebun yang dikelola bersama. Itu belum termasuk yang digarap bersama para tetangga sekelilingnya. Mereka juga kompak untuk mengadakan kebun bersama.
“Selain soal ketahanan pangan, juga untuk mempererat ukhuwah dan persaudaraan,” jelas Uzil. “Rajin mencangkul berarti keluar keringat dan imun makin kuat insyaAllah,” ucap Uzil penghobi olahraga futsal ini.
Di kebun-kebun tersebut, mereka menanam pohon pisang, singkong, dan jagung. Ada juga puluhan bibit kacang tanang yang mulai berkecambah.
“Alhamdulillah, semuanya sudah tumbuh dan subur-subur,” ujar Uzil senang.
Di beberapa kebun warga yang lain terlihat tanaman bermacam-macam. Ada yang menanam nenas, ubi jalar, kacang panjang, lombok, jahe, serai, kunyit, dan semacamnya.
Ramadhan ini, mereka tinggal fokus beribadah dan tetap mengajar serta berdakwah. Sesekali, bersama dosen dan warga lainnya, Uzil kembali ke lahan untuk menengok kebun barunya.
Sekadar merawatnya dan membersihkan rumput yang tumbuh liar. Di sana ada tanaman baru dan harapan baru yang menanti. Seperti lalu, Uzil tetap tersenyum. Ramadhan kali ini, selain fokus merawat dan meningkatkan iman, juga merawat tanaman.*