Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

Dipanggil ‘Bapak Pendeta Islam’, Cerita Unik Toleransi di Tolikara

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 September 2021 16:09 4:09 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Agustus 2015 08:11
Bagikan
Imam Masjid Baitul Muttaqin Karubaga Tolikara, H. Ali Muchtar
Bagikan

Hidayatullah.com — Imam Masjid Baitul Muttaqien, Tolikara, Papua, Haji Ali Mukhtar, mengaku tak menduga sebelumnya jika akan terjadi insiden Tolikara yang kemudian membuat nama kabupaten di Provinsi Papua itu mendunia.

Pasalnya, kata lelaki berkumis asal Lumajang, Jawa Timur ini, hubungan antar agama di wilayah tersebut relatif baik. Ia juga secara aktif membangun komunikasi dengan tokoh-tokoh gereja yang ada di wilayah tersebut.

“Kami bahkan selalu saling tolong jika membutuhkan bantuan. Penduduk yang kebetulan beragama Kristen selalu mengundang kami jika misalnya mereka menggelar hajatan, begitu juga sebaliknya.” ujarnya di hadapan jamaah Masjid Ummul Quro Ponpes Hidayatullah Depok, belum lama ini.

Saking dekatnya, Imam Ali Mukhtar sampai-sampai mendapatkan panggilan unik dari warga asli setempat. Ia selalu disapa dengan sebutan “Bapak Pendeta Itlam” (Pendeta Islam, red). Terdengar aneh barangkali, tapi begitulah adanya. Panggilan itu terus melekat hingga kini.

“Lidahnya memang cukup kewalahan menyebut kata Islam karena belum familiar di telinga mereka, akhirnya jadinya itlam. Bahkan saya kadang-kadang dipanggil utbab, maksudnya ustadz. Terkadang dipanggil ulbat atau utlat,” selorohnya.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Kata Ali Mukhtar, demikianlah realitas sesungguhnya masyarakat asli Tolikara. Sangat natural dan apa adanya. Keawaman mereka terhadap ajaran agama Islam membuatnya asing dengan istilah-istilah Islam termasuk sekedar untuk penyebutannya.

Masyarakat Tolikara menurutnya memang masih sangat asing dengan hal-hal yang berbau Islam, sehingga anggapan mereka seorang dai, imam, atau muballigh dianggap sama dengan pendeta dalam agama Kristen sehingga mereka pun menyebut imam Ali Mukhtar sebagai “Bapak Pendeta Islam”.

Lebih jauh Haji Ali Mukhtar yang telah menekuni dakwah sekitar 9 tahun di Tolikara mengutarakan secara kuantitas umat Islam di Tolikara memang sangat minoritas dimana umumnya mereka adalah pendatang.

Menurut Ali, meski minoritas umat Islam membaur dengan baik dengan masyarakat setempat. Hubungan sosial sehari-hari pun berlangsung penuh kekerabatan.

“Mereka pun tak jarang menawarkan bantuan perawatan masjid kendati itu misalnya hanya memperbaiki pintu masjid yang rusak. Walaupun mereka non-muslim, saya selalu dipanggil untuk potong kambing atau sapi kalau mereka adakan acara,” imbuhnya.

Kendati hubungan sosial terbangun baik, Ali mengakui tetap saja umat Islam harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah dibuat oleh penganut agama mayoritas setempat. Diantaranya misalnya, masjid tidak boleh mengumandangkan azan, papan nama masjid tidak boleh mencolok, serta pembatasan atribut-atribut Islam lainnya.

“Tapi tidak apa-apa, kita ikuti saja asalkan kita aman dan bisa beribadah dengan tenang,” imbuhnya.

Ali Muchtar berharap kehidupan beragama di Tolikara kembali kondusif tanpa perlakuan diskriminatif dari pihak manapun. Karenanya, ia mengapresiasi aparat kemananan dan tokoh-tokoh agama yang telah aktif menjalin kembali simpul kebersamaan yang sempat terciderai tersebut.

Meskipun kini tak memiliki rumah karena terbakar, Ali dan keluarga kini ditampung oleh seorang Kristiani sekaligus tokoh pemangku adat setempat bernama Viktor Kogoya yang memang sudah akrab dengannya jauh sebelum tragedi Tolikara terjadi.

“Kami umat Islam Tolikara ingin terus berada di sini dan hidup berdampingan dengan damai dengan siapapun. Jika kami diserang, kami toh tidak bisa kemana-mana. Di depan gunung, di belakang gunung, di samping gunung. Tolikara dikelilingi gunung, jadi mau kemana lagi,” ujarnya.

Dikutip laman resmi Kabupaten Tolikara, wilayah ini terdiri dari 46 distrik dengan ibukota kabupatennya berkedudukan di Distrik Karubaga. Ditinjau dari kondisi topografinya, Kabupaten Tolikara umumnya memang berada pada wilayah yang berbukit-bukit sampai bergunung, berkisar antara 1000 mdpl sampai dengan 3.300 mdpl.*

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bangun Kembali Masjid TolikaraImam Masjid TolikaraKerusuhan Tolikara
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya MIUMI: “Inilah Kecelakaan Terbesar Dalam Berpikir”
Tulisan selanjutnya [VIDEO] Doa Sidang Tahunan MPR Sindir Pejabat Tak Amanah Sengsarakan Rakyat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Berita
1 Juni 2026 10:40
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?