Hidayatullah.com—Hari Selasa (01/10/2016) siang Presiden Joko Widodo mengundang tiga organisasi massa Islam; Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ke Istana Merdeka Jakarta diantaranya membahas masalah bangsa juga menyinggung rencana demo Aksi Bela Islam.
Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar menceritakan bagaimana pertemuan tokoh Islam itu dengan Presiden Jokowi berlangsung memalui akun Facebook nya.
“Saya ikut serta dengan beberapa tokoh agama Muhammadiyah, NU dan MUI yang diundang oleh Presiden Joko Widodo, pada Hari ini Selasa, 1 November 2016 Pukul 11.00 WIB,” sebagaimana ditulis dalam akun Facebook nya.
Menurut Dahnil, Presiden Jokowi didampingi Menkopolhukam, Menteri Agama, dan Mensesneg langsung berdialog dengan 10 orang perwakilan dari Muhamamdiyah, 10 orang dari MUI dan 10 0rang dari NU.
Dalam pertemuan yang layaknya pertemuan resmi, Jokowi menurut Dahnil menjelaskan tujuannya mengundang para tokoh tersebut, dilanjutkan beberapa tokoh menyampaikan pandangannya.
“Dalam catatan saya setelah Pak Jokowi menyampaikan pendahuluan, dilanjutkan oleh Ketum MUI, kemudian Ketum NU, dan Ketum Muhammadiyah. Dan salah seorang Ketua PP Muhammadiyah, Pak Goodzubir menyampaikan pesan beliau. Dilanjutkan Pak Presiden memberikan respon,” tulisnya.
Singkatnya, semua tokoh agama menyampaikan harus ada proses hukum harus dilakukan dengan adil dan berkeadilan.
Setelah para tokoh menyampaikan pandangan, Dahnil Anzar mengaku mengangkat tangan dan memohon izin menyampaikan pandangannya soal kasus Ahok dan rencana Aksi Demo Bela Islam.
Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah ini menyampaikan dua pertanyaan penting kepada Presiden Jokowi.
Pertama. Ia menanyakan mengapa pagi ini yang tokoh-tokoh agama yang diundang pada pagi hari ini hanya dari Muhammadiyah, MUI dan NU? Sementara penggagas Aksi Bela Umat justru diabaikan?
“Karena ada kesan di luar sana Pak Presiden sedang memecah belah kami umat Islam, karena di luar sana pasti berkembang perspektif Muhammadiyah, MUI dan NU sudah dikangkangi oleh Presiden Mereka pasti tidak bisa bersikap obyektif lagi, padahal seperti Pak Presiden ketahui sikap Muhammadiyah, MUI dan NU sudah jelas, mengapa saudara-saudara kami yang ingin memobilisir demo itu tidak diundang juga, saya kira alangkah baiknya dan arifnya jika Mereka diundang dan diajak untuk berdialog, tidak cuma kami,” ujar Dahnil.
Kedua, ia juga meminta agar sikap Jokowi lebih tegas terkait dugaan penistaan Al-Quran oleh Ahok.
“Kedua, Pak Presiden, publik kecewa, agaknya penting Pak Presiden menyatakan dengan tegas dan terang bahwa kita akan tindak secara hukum bila Ahok betul menistakan keberagaman dan Islam. Pidato Seperti itu penting Pak Presiden sampaikan seperti seterang dan tegas bapak menyampaikan Akan lawan Pungli serupiah pun, agar umat tenang dan yakin. Mereka butuh sikap terang dari bapak. Demikian Pak Presiden, mohon maaf dengan sangat bila tidak perkenan, maklum saya yang paling muda di sini,” ujar Dahnil.
Setelah pernyataannya, Presiden Jokowi akhirnya menyampaikan jawaban. “Penting hari ini kita membangun kultur ekonomi, politik, sosial dan budaya yang kuat untuk menjawab masalah kesenjangan antar wilayah, nah salah satunya ya melalui Revolusi Mental itu. Hari ini kita terlalu banyak memproduksi undangan-undang dan mohon maaf orientasinya proyek. Dikit-dikit hukum, dikit-dikit hukum padahal nilai etika di atas hukum maka Revolusi Mental penting, “ demikian ujar Jokowi ditirukan Dahnil.
Setelah itu, pertemuan ditutup Presiden Joko Widodo dengan diakhiri sesi foto.
Dahnil mengaku dirinya cukup senang menyampaikan pandangananya pada Jokowi, meski dia mengaku jawaban presiden tidak jelas.
“Terus terang saya senang bisa menyampaikan pesan dan kritik langsung kepada Pak Joko Widodo, walau tidak dijawab dengan terang. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala selalu meridhai dan melindungi Bangsa ini,” tulisnya.*