Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Verifikasi Media dan Urgensi Kepedulian Umat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 Februari 2017 15:13 3:13 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Februari 2017 15:13
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muh. Nurhidayat

 

SEORANG reporter TV One membuat berita eksklusif yang ternyata fiktif tentang makelar kasus (‘markus’). Si reporter menyuap pegawai instansi hukum agar mau diajak wawancara akal-akalan tentang ‘markus’ yang sempat menghebohkan itu. Entah bagaimana kelanjutannya, apakah si reporter itu dipecat atau tidak dari saluran ‘merah’.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya awal 2016, Metro TV memberitakan Wahdah Islamiyah dan pimpinannya, Muhammad Zaitun Rasmin sebagai—salah satu—jaringan teroris di Indonesia. Pemberitaan fiktif tersebut menuai kecaman dari ulama dan umat muslim lintas ormas maupun parpol yang bersimpati kepada Rasmin dan ormasnya.

Bahkan Polri serta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pun menyangkal berita tanpa data dan fakta yang dilaporkan Metro TV. Entah bagaimana ganjaran untuk si wartawan pembuat berita palsu tersebut, apakah ia dipecat atau tidak dari televisi ‘biru’.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Barcode Media Dinilai Bukan Solusi Tangkal Hoax

Jika kedua televisi mainstream Indonesia di atas tidak jelas apakah memberi sanksi tegas atau tidak kepada wartawannya yang membuat berita bohong, maka Jawa Pos—induk jaringan koran berpusat di Surabaya—sangat tegas terhadap wartawannya yang membuat berita bohong. Koran tersebut memecat reporternya yang kedapatan menulis hasil wawancara eksklusif—yang ternyata—fiktif  dengan istri Dr. Azahari, tersangka terorisme asal Malaysia. Ternyata istri Dr. Azahari yang berdomisili di Kuala Lumpur sedang sakit dan tengah menjalani operasi bedah mulut, sehingga mustahil bisa diwawancara, apalagi wawancara eksklusif pula (Syah, 2011)

Kasus berita bohong memang sering terjadi di era kebebasan pers ini. Padahal pemerintahan BJ Habibie pada 1998 memberikan kebebasan pers untuk meningkatkan kualitas informasi di negara kita. Namun kebijakan mulia ini disalahgunakan segelintir media atau wartawan tidak beretika. Sehingga semangat kebebasan pers berubah tanpa terkendali menjadi fenomena kebablasan pers.

Pakar komunikasi Universitas Hasanuddin, Mansyur Semma (1999) merisaukan kebablasan pers dengan ungkapan, “Ketika pers bebas tanpa pengawasan, maka pers akan sangat liar dan tidak dapat dikendalikan.”

Hoax Amien Rais

Pada awal reformasi, sejumlah tokoh 2 ormas Islam terbesar Indonesia menjadi korban berita bohong oleh media tak beretika. Tabloid X-File pernah memberitakan adanya (maaf) perselingkuhan mantan ketua umum Muhammadiyah, Muhammad Amien Rais dengan Zarima Mirafsur—yang dijuluki masyarakat sebagai ‘ratu ekstasi’.  Semua sumber beritanya anonim dan setelah diselidiki ternyata berita tersebut hoax.

Dewan Pers: Penilaian Terhadap Situs Media Tidak Boleh Sepihak

Selain Amien Rais, Gus Dur—mantan ketua umum NU, diberitakan majalah GAMMA telah (maaf) berselingkuh dengan Aryanti Sitepu. Namun diduga ada muatan-muatan politis pada pemberitaan kedua tokoh untuk merusak cita Muhammadiyah dan NU, yang merupakan ormas Islam terbesar di negara kita.

Tidak hanya itu, bahkan presiden BJ Habibie sekalipun menjadi korbannya. Padahal beliaulah yang membuka kebebasan pers. Media-media mainstream dan gurem yang tidak menyukai Habibie—secara pribadi maupun karena keislamannya—secara sporadis ataupun massif merusak citranya melalui berita-berita bohong. Namun Habibie adalah pengikut sikap Thomas Jefferson, presiden AS yang tidak marah apalagi menghukum wartawan dan media yang menyerang citra baiknya.

Sejak munculnya distorsi kebebasan pers menjadi kebablasan pers, tidak sedikit akademisi maupun praktisi jurnalistik yang mewacanakan pentingnya standarisasi profesi wartawan dan standarisasi ‘kesehatan’ media. Sebab wartawan yang tidak profesional, apalagi bekerja di media yang tidak ‘sehat’ akan memunculkan banyak masalah di bidang informasi. Bukan hanya berita bohong saja yang muncul, tetapi juga kriminalitas lainnya yang dilakukan oknum tak beretika yang mengatasnamakan dirinya sebagai wartawan. Sehingga ada orang mengaku wartawan tetapi melakukan pencurian, pemerasan, bahkan perampasan atas nama pers.

Oknum-oknum tak beretika seperti inilah yang kemudian dikenal sebagai ‘wartawan bodrex’, wartawan ‘muntaber’ (muncul tanpa berita), bahkan juga WTS (wartawan tanpa suratkabar). Istilah wartawan ‘bodrex’ sendiri berasal dari anekdot bahwa oknum-oknum yang mengaku wartawan tersebut sering memeras sejumlah instansi. Para pejabat instansi sering pusing menghadapi mereka. Sehingga para pejabat harus minum bodrex (salah satu merk obat sakit kepala) agar tidak pusing lagi.

Kelicikan Media Massa

Guru besar ilmu komunikasi Universitas Hasanuddin, Andi Muis adalah akademisi senior yang mewacanakan pentingnya standarisasi media dan jurnalis agar kualitas informasi kita terjaga. Beliau pun berkomentar, “Saat ini banyak oknum mengaku wartawan agar kebal hukum. Padahal wartawan juga manusia biasa. Jika ada wartawan yang mencuri jemuran tetangganya, maka harus dihukum penjara karena tergolong perbuatan pidana, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan tugas jusnalistik,” (Muis, 2001)

Kepedulian Umat

Dewan Pers atas permintaan Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) mulai tahun 2017 menerbitkan hasil verifikasi media. verifikasi media merupakan pengakuan tentang standarisasi yang telah dicapai oleh media. Pada tahan pertama baru terdapat 74 media massa yang telah diverifikasi. SPS berharap ribuan media—cetak, radio, televisi, dan internet—untuk mengurus varifikasi media.

Harapan SPS dan Dewan Pers patut didukung bersama, Sebab verifikasi media adalah ikhtiar untuk mengontrol agar kebebasan pers tidak melenceng dari niat mulia untuk memajukan kehidupan informasi Indonesia yang sehat, bebas dari berita bohong (hoax) serta bebas dari segala bentuk kriminalitas yang mengatasnamakan pers.

Media massa Islam pun diharapkan turut mengurus verifikasinya. Sebab meskipun hanya merupakan lembaga independen, namun Dewan Pers—yang dibiayai APBN—merupakan representasi pemerintah, yang harus ditaati selama mengajak kita kepada hal ma’ruf (kebaikan). Bukankah verifikasi media merupakan kebijakan yang ma’ruf?

Sebagai representasai pemerintah di bidang informasi, Dewan Pers memang perlu ditaati, karena Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemerintah) di antara kamu.” (QS. 4 : 5)

Seorang redaktur senior sebuah media Islam berpengaruh sangat mendukung verifikasi media oleh Dewan Pers, meskipun medianya sendiri belum—memperoleh jatah—diverifikasi.

Umat Islam, Sering Jadi Korban Media

Menurutnya, verifikasi media adalah kebaikan yang perlu diawasi umat Islam. Seperti SIUPP di zaman Orde Lama dan Orde Baru, verifikasi media yang tidak diawasi ibarat pisau bermata dua, sehingga sewaktu-waktu bisa disalahgunakan untuk kepentingan politik penguasa. Namun demikian, aturan verifikasi media tetap patut didukung karena jauh lebih baik ada aturan—meskipun terdapat kekurangan—daripada tanpa aturan yang mengakibatkan anarkisme media.

Pendapat redaktur senior tersebut sangat beralasan. Oleh karena itu, kepedulian umat, khususnya para akademisi dan praktisi jurnalisme Islam sangat diperlukan demi kelancaran program verifikasi media oleh Dewan Pers. Umat Islam perlu mendorong Dewan Pers agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik secara independen tidak menjadi alat kekuasaan dan tidak diintervensi oleh pihak lain, termasuk penguasa sekalipun.

Kita tidak ingin Dewan Pers terjebak dalam intervensi oknum penguasa, seperti yang menimpa Menkominfo era Pemerintahan Jokowi saat ini. Dimana Menkominfo telah 3 kali melakukan ‘pembredelan’ dengan memblokir secara sepihak —dan bertentangan dengan konstitusi maupun UU—kepada sejumlah media Islam online, hanya karena tekanan segelintir oknum penguasa, yang tidak ingin kaum muslimin eksis di bidang informasi. Wallahua’lam.* 

Dosen Ilmu Komunikasi Universias Ichsan Gorontalo

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:berita bohongdewan pershoaxIslam dan media massakorban mediamakelar kasusMedia Islammedia mainstreampers dan umat Islamverifikasi mediawartawan bodrex
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Amnesty Internasional: 13 Ribu Warga Suriah Digantung di Penjara Sejak 2011
Tulisan selanjutnya Dalam 16 Hari Zaid bin Tsabit Kuasai Bahasa Ibrani

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

vape covid
Berita

Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Berita
31 Mei 2026 02:22
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?