Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Hasan al-Bashri dan Kepemimpinan yang Dzalim [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 8 April 2017 07:52 7:52 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 April 2017 07:52
Bagikan
Bukhara
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Alwi Alatas

 

DALAM riwayat lain pada kitab Adab al-Hasan al-Bashri karya Ibn al-Jauzi disebutkan bahwa seorang lelaki minta pendapatnya untuk menyertai pemberontakan Ibn al-Asy’at dan al-Hasan melarangnya. Orang itu kemudian menyebutkan tentang sikap tidak suka al-Hasan terhadap Hajjaj sebelum itu.Tentang ini Hasan al-Basri menjawab, “Pada hari ini pandangan saya terhadapnya [Hajjaj] lebih buruk, celaan saya terhadapnya lebih banyak, dan kecaman saya atasnya lebih keras lagi.Tapi ketahuilah … bahwa kekejaman penguasa itu adalah hukuman (kemurkaan) di antara hukuman-hukuman Allah Ta’ala dan hukuman Allah tidak bisa dihadapi dengan pedang. Hendaknya kamu bertaqwa, menolaknya dengan doa, taubat, perubahan (diri), dan meninggalkan dosa-dosa. Jika kamu menghadapi hukuman Allah dengan pedang maka ia akan memotongmu.”

Sikap al-Hasan ini terkesan seperti sikap pasrah terhadap kedzaliman penguasa. Namun sebenarnya, al-Hasan bukannya sama sekali tidak pernah melawan kedzaliman Hajjaj. Ia juga memeranginya dengan ‘pedang’ yang lain, yaitu dengan lidahnya,serta memanahnya dengan ‘anak panah’ yang lain, yaitu dengan doanya. Yang tidak disetujuinya adalah melawan kedzaliman itu dengan pendekatan militer dan kekerasan fisik.Adapun berkenaan dengan nasihat dan kritik terhadap penguasa yang dzalim, maka itu merupakan tanggung jawab ulama dan orang-orang beriman pada umumnya, dan Hasan al-Basri menunaikan tanggung jawabnya ini.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Abul Hasan Ali al-Nadwi menulis dalam bukunya Saviours of Islamic Spirit, vol. 1: “Kekejaman Hajjaj bin Yusuf yang buas dan tak bisa ditoleransi sangat masyhur, tetapi Hasan tidak menahan lidahnya dari mengungkapkan apa yang menurutnya benar dan adil, bahkan di masa pemerintahan Hajjaj.”

Sebuah kisah bisa diangkat sebagai contoh, sebagaimana tercantum dalam Adab al-Hasan al-Bashri.Pada satu kesempatan, Hajjaj membangun sebuah istana dan al-Hasan diundang untuk melihatnya.Saat memasuki bangunan yang indah itu, al-Hasan tanpa ragu menyuarakan kritiknya.Ia menyebutkan tentang seorang penguasa yang membangun benteng yang megah serta memperindah pakaian dan kendaraannya, sampai kemudian ia dikelilingi oleh keburukan. Kemudian ia berkata, “Kami telah melihatnya, wahai orang yang terpedaya. Lalu apa, wahai orang yang paling fasiq? Adapun penduduk langit telah membencimu, sementara penduduk bumi melaknatmu.Engkau membangun istana yang bakal hancur (fana’) dan merubuhkan istana yang kekal.Engkau membangun kekuatan di negeri kesombongan, untuk menjadi hina di negeri kebahagiaan (akhirat).” Setelah itu ia keluar dan pergi.

Hajjaj marah besar saat mendengar tentang hal ini.Ia memerintahkan para pengawalnya untuk menangkap dan membawa al-Hasan ke hadapannya.

Al-Hasan pun di bawa ke hadapan Hajjaj. Saat ia melangkah memasuki istana, mulutnya komat-kamit membaca sesuatu tanpa suara. Hajjaj kemudian berkata-kata dengan penuh kemarahan pada al-Hasan.Hasan al-Bashri pun menjawab, “Semoga Allah merahmatimu, wahai Amir [pemimpin]. Sesungguhnya orang yang membuatmu takut yang kemudian membawa kepada keamanan bagimu adalah lebih baik dan lebih engkau sukai daripada orang yang membuatmu merasa aman yang kemudian membawa pada apa yang menakutkanmu…. Dua pilihan ada di tanganmu, kemaafan atau hukuman. Pilihlah yang lebih utama bagimu dan bertawakkallah pada Allah….”

Di luar perkiraan, Hajjaj yang semula garang dan siap menumpahkan darah tiba-tiba merasa malu,berbalik memuliakan al-Hasan,dan membiarkannya pergi tanpa diganggu.

Ada beberapa pelajaran yang biasa diambil dari sikap al-Hasan dalam menghadapi penguasa dzalim ketika itu. Pertama, ia tidak menyetujui penggunaan cara-cara kekerasan serta pemberontakan dalam menghadapinya, karena seringkali hal ini tidak menyelesaikan masalah, malah justru memperkeruh keadaan. Kedua, ia sendiri tidak bersikap ridha terhadap kedzaliman si penguasa. Ia tidak menyembunyikan ketidaksukaan dan celaannya atas perbuatan si dzalim yang memang tercela. Ia juga tidak melalaikan tanggung jawabnya untuk menasihati dan menyampaikan kritik kepada penguasa dzalim tersebut dan tidak menahan dirinya dari menyampaikan kecaman secara terbuka, jika hal itu dilihat sebagai tanggung jawab yang perlu ditunaikannya sebagai seorang ulama.

Ketiga, dan mungkin ini merupakan pelajaran terpenting, al-Hasan melihat munculnya pemimpin dzalim sebagai satu bentuk hukuman dari Allah kepada umat. Dengan kata lain, ada kesalahan di dalam diri kaum Muslimin yang ikut memberikan kontribusi dalam kemunculan pemimpin dzalim tadi. Karena itu, solusi utama yang perlu diambil adalah dengan perbaikan ke dalam diri, bukan dengan jalan memusnahkan penguasa dzalim yang ada di luar sana.

Solusinya adalah dengan bertaubat, menjauhi dosa-dosa, dan semakin mendekatkan diri pada Allah. Saat kedzaliman di dalam diri dihapuskan, hingga Allah ridha akan hal itu, maka kedzaliman yang menimpa umat juga insya Allah akan sirna.

Berbagai cara bisa diupayakan untuk melawan kedzaliman penguasa, tetapi jangan lupakan yang satu ini: evaluasi dan berbenah diri. Karena boleh jadi kedzaliman penguasa yang bermaharajalela di luar sana hanyalah bayang-bayang dari kedzaliman yang ada di dalam jiwa-jiwa hamba. Dan boleh jadi pemecahan masalah yang sesungguhnya justru datang dari dalam diri sekumpulan hamba yang sungguh-sungguh kembali kepada Tuhannya.

Ini bukanlah satu bentuk fatalisme atau sikap pasif atas kesulitan yang menimpa, melainkan satu pendekatan spiritual dalam menyelesaikan persoalan yang ada.Pendekatan ini tersembunyi dan merupakan satu jalan yang sunyi.Namun dampak yang diberikannya mungkin lebih berbunyi, walaupun tiada yang mampu mendeteksinya.

Oleh sebab itu, saat mengalami kesusahan karena kedzaliman penguasa, teruslah berjuang untuk melakukan perubahan. Tetapi, jangan lupakan apa yang dipesankan oleh al-Hasan, “Hendaknya kamu bertaqwa, menolaknya dengan doa, taubat, perubahan (diri), dan meninggalkan dosa-dosa.”*

Penulis mudir PRISTAC, Pesantren at-Taqwa, Cilodong, Depok

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Hasan al-BashriilmuKhawarijpemimpin dzalimteladanulamaumatzalim
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Melihat Caravansaray dan Hotel Gratis di Era Keemasan Islam [2]
Tulisan selanjutnya Uni Eropa Tuding Travel Website Tidak Berikan Informasi Akurat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?