Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Kebangkitan Islam 2050: Bencana atau Rahmat?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 September 2018 08:07 8:07 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 September 2018 08:07
Bagikan
Umat Islam Indonesia
Bagikan

Oleh: Antoni Abdul Fattah

 

TIDAK dapat dipungkiri perkembangan kaum Muslimin di dunia saat ini sedang berada di masa puncaknya. Data dari Pew Research Center (Kamis, 02/04/2015), pernah merilis, jumlah pemeluk agama Islam meningkat sangat cepat daripada agama lainnya. Lembaga ini juga mengatakan, jumlah Islam diprediksi mengimbangi pemeluk Kristen di tahun 2050.

Menurut lembaga survey internasional ini, tren ini akan terus berlanjut hingga 2050. Dengan perkiraan mencapai 2,8 miliar Muslim pada 2050 atau 30% dari penduduk dunia nantinya adalah orang Islam. Perkembangan jumlah umat Islam global ini disebabkan oleh tingkat kehamilan yang tinggi diantara keluarga Muslim. Tentu ini adalah perkembangan yang menggembirakan.

Selain itu, lembaga National Intelligence Council (NIC) di Amerika Serikat juga pernah merilis data tentang kebangkitan peradaban Islam yang diprediksi akan berjaya di tahun 2020. Jika prediksi dari NIC ini dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, maka kebangkitan peradaban Islam tinggal dua tahun lagi.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Namun, perkembangan jumlah kaum Muslimin di dunia ini tidak boleh membuat kaum Muslimin lupa diri. Karena bila kita berkaca pada berbagai sejarah peradaban Islam, dikala agama ini berkembang pesat dan telah menguasai setengah dunia, di saat itu pula, pemeluk agama ini diterpa cobaan, dimana orang yang membenci Islam dengan mudahnya memecah belah umat Islam. Ikatan yang berlandaskan akidah Islamiyah dengan begitu mudahnya dilupakan oleh mereka, hanya demi harta dan kekuasaan yang sementara. Mereka saling berperang sesama mereka dan pada akhirnya dengan begitu mudahnya dihancurkan tanpa ada perlawanan yang berarti dari umat.

Peristiwa ini oleh Baginda Rasulullah ﷺ disebut sebagai penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Jumlah umat Islam sangat banyak tetapi lemah, seperti buih di lautan. Umat Islam di serang dari berbagai sudut, tidak ubahnya seperti santapan yang diperebutkan oleh manusia. Padahal di sisi lain, umat Islam akhir zaman dibanggakan oleh Rasulullah ﷺ karena meski tidak dapat bertatap muka langsung dengan beliau ﷺ, namun ibadah umat Islam akhir zaman tidak kalah dengan para sahabat pada masa Nabi ﷺ masih hidup.

Upaya untuk melemahkan umat Islam akhir zaman terus saja dilakukan. Kita tentu masih ingat dengan peristiwa runtuhnya Khilafah Utsmaniyah di Turki pada tahun 1924 melalui tangan-tangan konspirasi Inggris dengan cara menyusupkan agennya TE Lawrence untuk memprovokasi bangsa Arab berontak dengan Khilafah Utsmaniyah.

Sementara dewasa ini, ada tulisannya Samuel Huntington (1996) dan Jack Miles (2002), yang menjelaskan tentang benturan antara peradaban Barat dengan Islam. Dilanjutkan prediksi Jurnal Forreign Affairs dan lembaga studi Fund for Peace di tahun 2005 tentang negara-negara gagal di berbagai belahan dunia, yang di dominasi oleh nama-nama negeri Muslim. Ada juga dokumen yang sering dicatut oleh buku-buku konspirasi tentang ramalan pecahnya Indonesia di tahun 2015, atau, ada juga yang menyatakan negeri ini pecah di tahun 2025.

Belum lagi upaya menekan pertumbuhan di negeri-negeri Muslim, termasuk di Indonesia dengan mengampanyekan paham Liberalisme dan Sekulerisme, yang salah satu programnya adalah melalui serangan pelegalan aktivitas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender).

Baca: Sosiolog Ungkap Sejumlah Penyebab Berkembangnya LGBT 

Berkaca dari kebangkitan kaum Muslim di masa lalu, saat itu kaum Muslimin dapat bangkit diawali dengan berubahnya pemikiran mereka tentang manusia, kehidupan dan alam semesta. Bahwa kehidupan mereka tidak lahir begitu saja, tetapi ada yang mengatur kehidupan mereka dan alam semesta, yaitu Allah Subhanahu Wata’ala. Pemikiran inilah yang kemudian mengubah landasan dasar dari cara pandang kaum Muslimin saat itu tentang hidup mereka. Sebab, pemikiranlah yang membentuk dan memperkuat persepsi manusia terhadap segala sesuatu. Setiap tingkah laku manusia selalu berkaitan erat dengan persepsi /pemahaman yang dimilikinya. Kita dapat melihat bagaimana orang-orang Barat mengubah peradaban mereka yang semula diselimuti kegelapan menjadi abad pencerahan (rennessains).

Begitupula umat Islam dahulu di saat peradaban Islam menguasai hingga lebih 13 abad di dunia. Saat itu, kita sebagai umat Islam melepas diri dari pemahaman sistem hidup jahiliyah dan menggantinya dengan sistem hidup Islam. Semua aktivitas kaum Muslimin yang dilakukan saat itu semuanya dilandasi untuk ber-taqarrub kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Hal ini sesuai dengan Firman Allah Subhanahu Wata’ala, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS: Ar-Ra’d:11).

Sementara itu, saat manusia itu berhasil mengetahui bahwa segala perbuatan yang dilakukan semata-mata mencari ridha Allah dan demi ber-taqarrub kepada-Nya dengan menjalankan setiap perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Maka, dari sana lah akan terwujud akhlak sebagai manifestasi dari perwujudan menjalankan syariat Islam secara kaffah dalam berbagai aspek kehidupan tersebut. “Hai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya tiap jiwa harus memperhatikan apakah yang telah disiapkannya untuk hari esok (hari kemudian), dan hendaknya benar-benar bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui sedalam-dalamnya semua perbuatanmu.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Di ayat lainnya, Allah Subhanahu Wata’ala berjanji kepada manusia bahwa bila ia benar-benar menjalankan syariat Islam semata-mata mengharapkan ridha-Nya, maka Allah Subhanahu Wata’ala akan menunjukinya jalan yang lurus, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69).

Mengubah pemahaman manusia tentang kehidupan ke dalam pemahaman Islam adalah termasuk bagian dari jihad dalam bidang pemikiran. Jihad pemikiran adalah salah satu jihad yang utama, yang kedudukannya setara dengan jihad-jihad lainnya, termasuk jihad perang. Jihad pemikiran dikobarkan untuk memerangi kejumudan dan kebodohan. Sedangkan jihad peperangan  adalah jihad yang dikobarkan untuk melawan kezaliman, seperti yang saat ini dilakukan oleh umat Islam di Palestina.

Begitu pentingnya jihad pemikiran ini, Rasulullah ﷺ meminta para sahabat agar sebagian dari mereka tinggal di Madinah, tidak ikut berjihad dalam Perang Uhud. Tujuannya adalah untuk mengajarkan penduduk Madinah tentang Islam.

Baca: LGBT dan Masa Depan Bangsa 

Salah satu cabang dari jihad pemikiran adalah ijtihad. Secara singkat, Ijtihad adalah upaya perjuangan seseorang atau sekelompok orang dengan segala kemampuan berpikirnya untuk mengeluarkan hukum-hukum syar’i dari dalil-dalil syara’ (Al-Quran dan As Sunnah).

Dr Atabik Luthfi dari Ma’had Usman bin Affan Jakarta dalam tulisannya di Majalah Sabili (8/9/2005) mengutip Dr Wahbah Zuhaili menyebutkan dengan ijtihadlah, syariat Islam akan dapat dihidupkan kembali di bumi Allah ini. Syariat tidak akan bisa bertahan selama aktivitas ijtihad tidak hidup. Sebab berbagai faktor perkembangan kehidupan dan pentingnya penyebaran syariat Islam ke seluruh pelosok dunia membutuhkan ijtihad. Dengan ijtihad setiap tantangan dan masalah baru yang mendera umat saat ini pasti dapat diselesaikan dengan mudah. Tanpa ijtihad, syariat Islam akan terbelenggu oleh taklid buta yang akan membuat kehidupan manusia menjadi sempit dan dapat menimbulkan kekeliruan dalam beragama. Pintu ijtihad sendiri tidak akan pernah tertutup hingga hari kiamat kelak.

Salah satu faktor kemunduran umat Islam terdahulu adalah disebabkan oleh ditutupnya pintu ijtihad oleh para pemimpinnya, sehingga umat Islam tidak lagi dapat menjawab tantangan zaman pada masa itu. Umat tidak lagi dapat membedakan dimana hadharah (peradaban) dan madaniyah (hasil peradaban). Sehingga madaniyah khas (hasil peradaban khusus) yang membawa suatu ideologi agama diluar Islam yang seharusnya dibuang, malah diambil. Sementara madaniyah umum yang seharusnya diambil (seperti IPTEK), malah kemudian ditinggalkan.

Dengan demikian telah sangat jelas bahwa demi menyongsong kebangkitan Islam di tahun 2050 nanti, umat Islam harus mengubah pemahamannya dahulu ke dalam pemahaman Islam. Sehingga setiap tantangan zaman yang menerpa ke depan, semuanya dapat dijawab oleh Islam. Dan umat Islam pun dapat kembali memimpin dunia dengan peradabannya yang agung. Agar pertumbuhan umat Islam ke depan menjadi rahmat bagi sekalian alam, bukan malah menjadi musibah. Seperti yang terjadi hari ini dimana umat Islam hanya menjadi penggembira atau pendorong mobil mogok dalam perpolitikan tanah air. Wallahu a’lam bisshawwab.*

Penulis blogger, peminat sejarah dan anggota REUSAM Institute. Email: [email protected]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bencanaKebangkitan IslamkristenMusliminNational Intelligence CouncilNICrahmatwahn
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tahun 2019 Amerika Serikat Hanya Terima 30.000 Pengungsi
Tulisan selanjutnya Tawuran Pelajar, KPAI: Guru Harus Punya Media Sosial

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?