Hidayatullah.com—Warga masyarakat di distrik Nong Chik, Pattani mengaku hidup dalam ketakutan karena kehadiran angkatan darat dalam operasi militer di kampung halaman mereka pasca kematian dua anggota ranger (pasukan elit).
“Kami takut dan tidak ingin meninggalkan rumah kami hari ini,” kata Nuda, yang suaminya telah berada di bawah tahanan militer sejak hari Ahad, sebagaimana dikutip The Nation.
Dalam langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, Komando Operasi Keamanan Internal Wilayah 4 (Region 4) menyatakan tambon Bang Khao dan Tha Kham Cham distrik Nong Chik telah menjadi “zona kendali khusus” sejak hari Ahad.
“Kami tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Para prajurit terus mengawasi orang-orang yang keluar masuk desa, ”tambah Nuda.
Seperti dilansir Prachatai pada 11 September 2018 yang lalu, telah serangan kelompok bersenjata di Pattani disergap tentara Korp Renger di 4303 Pasukan Khusus di Rangsit 43, Ban Bang Tan, Bang Khae, Nongcik, provinsi Pattani. Akibatnya dua pasukan Ranger tewas dan empat orang luka-luka.
Pasca kejadian, Mayor. Lt. Piyawat Nagawanit, Jenderal Region 4 mengumumkan menerapkan Undang-Undang Darurat Militer serta operasi pengepungan di dua kacamatan, Bang Khao dan Thakamcham, distrik Nongcik, Pattani.
Baca: Di Bawah UU Darurat Militer, Warga Patani Ditangkap karena Mengambil Gambar .
Militer menangkap delapan tersangka, termasuk suami Nuda berudia 28 tahun.
“Saya tidak percaya dia mengambil bagian dalam serangan itu saat dia bekerja di sebuah pabrik lokal dan bergegas pulang setelah bekerja setiap hari,” katanya dikutip The Nation.
Nuda menjelaskan bahwa dia dan suaminya sedang makan malam bersama anak-anak mereka di rumah pada hari Ahad malam ketika sekitar 30 tentara bersenjata muncul, menjelajahi rumah dan membawa suaminya pergi.
“Para prajurit membawa suami saya berkeliling rumah dengan todongan senjata ketika mereka melakukan pencarian menyeluruh,” katanya, menambahkan bahwa mereka bahkan mengambil teleponnya, yang membuat hidup menjadi sulit.
“Saya telah menjual sutra secara online untuk mendapatkan uang tambahan untuk keluarga saya. Sekarang saya kehilangan semua kontak saya karena para anggota militir merampas telepon saya, ” katanya.
Hari Senin, dia dan beberapa tetangga pergi ke kantor cabang lokal Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk mengajukan keluhan dan mencari bantuan.
“Saya harap suami saya dilindungi. Saya khawatir dia akan dipaksa mengaku melakukan kejahatan yang tidak dia lakukan, ”kata Nuda.
Pornen Kongkachornkiat, Direktur Yayasan Lintas Budaya, mengaku cemas dan khawatir terkait langkah-langkah yang digunakan kelompok militer ini.
“Itu hanya akan menebarkan rasa tidak percaya,” katanya. “Saya tidak menentang serangan yang sedang diselidiki, tetapi saya tidak setuju dengan langkah-langkah yang digunakan militer.” Dia menambahkan bahwa perintah yang dikeluarkan pada hari Ahad belum digunakan di (Thailand) bagian Selatan selama lebih dari satu dekade ini.
Namun, Kepala Angkatan Bersenjata Devisi Keempat LetJen Piyawat Nakwanich, yang menandatangani perintah hanya dua minggu sebelum masa pensiunnya, membela tindakan yang diambil.
“Kami menerapkan langkah-langkah ini untuk keselamatan orang-orang. Klaim penganiayaan tidak valid karena kami telah mengambil tindakan berdasarkan bukti, ”jelasnya. Dia menambahkan bahwa empat dari tersangka telah mengaku kejahatan dan memberikan rincian tentang insiden tersebut.
Ia memerintahkan bahwa semua warga dan kendaraan harus didaftarkan dengan unit militer dan distrik di Tambon Bang Khao dan Tambon Tha Kham, Distrik Nong Chik, Pattani dalam tempoh 7 hari, mulai Senin, 17 September 2018 kemarin.
Lebih dari 1000 aparat berada di dua kacamatan tersebut, pengepungan dan penutupan desa berlaku 24 jam sehari untuk melacak apa yang mereka klaim sebagai ‘militan gerakan Pattani’ yang bersembunyi di area tersebut.
Di sisi lain, operasi militer tersebut mengakibatkan rasa tidak nyaman bagi warga. Manajer Online menulis, sebanyak lima keluarga dan perwakilan dari warga-warga yang dicurigai kini ditahan di dua kacamatan, Distrik Nong Chik, Provinsi Pattani.
Mereka mengadukan keluhan ini di Pusat Koordinasi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Provinsi Perbatasan Selatan, Senin, 17 September kemarin.
Warga merasa dicurigai dan takut. Sebagian besar dari mereka tidak mempercayai warga menjadi dalang insiden tersebut.
Menurut pihak kepolisian, ada sembilan orang ditahan yang diklaim sebagai tersangka, termasuk Farid Chektea, Ibrahim Yusuh, Abdul Halim Samoh, Hasmin Latek, Ma’Hamdee Baka, Masama’ Samaiae, dan Habidi Sulong.
Warga setempat merasa cemas tindakan intimidasi aparat dengan pengepungan, mereka tidak berani keluar dari rumah dan khawatir akan ditangkap aparat, kutip Manager Online
Warga juga menolak kebijakan Kepala Angkatan Bersenjata Devisi Keempat LetJen Piyawat dalam rilis berita yang mengumumkan akan mengambil salah satu keluarga tersangka, termasuk orang tua, istri atau keluarganya. Menurut mereka, dalam UU Pidana Thailand, yang bisa ambil hanya salah satu pelaku yang melakukan tindak kriminal.
Warga yang sebagian besar adalah nelayan ini biasa keluar pada malam hari untuk bekerja. Namun kini mereka banyak di rumah karena ketakutan setelah ribuan aparat mengepung desa-desa dengan berpakaian hitam dan senjata lengkap.*/Johan Lamidin