Hidayatullah.com—Sulaiman Abu Ghaith menantu Usama bin Ladin yang dituduh sebagai otak serangan 9/11 dan saat ini sedang disidang di New York, tidak memiliki peran dalam operasi militer Al-Qaida.
Dilansir Aljazeera (17/3/2014), Khalid Sheikh Muhammad mengatakan dalam sebuah pernyataan yang diajukan ke pengadilan federal Manhattan Ahad malam (16/3/2014) bahwa Ghaith berperan sebagai jurubicara Al-Qaida karena dia seorang pembicara yang fasih dan memukau.
Namun Muhammad mengatakan, Abu Ghatih, 48, “bukan seorang militer dan tidak ada urusannya dengan operasi militer.”
Abu Ghaith didakwa melakukan konspirasi untuk membunuh orang Amerika. Dia merupakan tokoh Al-Qaida level tertinggi yang diproses hukum oleh Amerika Serikat dalam kasus serangan 11 September 2001 atas gedung World Trade Center di New York.
Jaksa penuntut mengatakan, Abu Ghaith merupakan bagian dari rencana Al-Qaida dan perannya sebagai jurubicara dalam video-video, serta sebagai motivator kelompok itu di kamp pelatihan di Afghanistan.
Pengacara Abu Ghaith mengatakan, kliennya yang kelahiran Kuwait itu memang mengeluarkan pernyataan yang berapi-api, tetapi dia tidak berkonspirasi untuk melakukan terorisme.
Para pengacara pembela Abu Ghaith berusaha menggunakan pernyataan dari Muhammad, yang sekarang dikurung di penjara Guantanamo. Mereka membutuhkan izin dari hakim distrik Lewis A Kaplan untuk bisa menggunakannya di pengadilan.
“Bapak Muhammad tidak bisa secara fisik tampil di pengadilan, dan pernyataannya diperlukan untuk mencegah kegagalan hukum dalam masalah ini,” kata tim pengacara pimpinan Stanley Cohen dalam suratnya kepada hakim.
Tim pembela yakin keterangan Muhammad bisa membantah klaim pemerintah Amerika yang mengatakan bahwa Abu Ghaith pasti sudah mengetahui sebelumnya akan rencana serangan Al-Qaida yang disebut sebagai rencana serangan bom sepatu di pesawat, dan juga rencana Richard Reid untuk melancarkan serangan bom sepatu pada Desember 2001.
Pernyataan yang diberikan Muhammad sama seperti jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh pengacara Abu Ghaith.
Dalam pernyataannya, Muhammad mengatakan bahwa dirinya tidak pernah berbicara dengan Abu Ghaith mengenai rencana operasi bom sepatu.
“Mereka yang ditugaskan untuk memberikan pernyataan kepada media tidak berarti pasti mengetahui seluruh detail sebuah operasi dan terkadang bahkan sama sekali tidak tahu akan keberadaan operasi tersebut,” tegas Muhammad.*