Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Habib Rizieq, Itu Seperti Juga Soekarno Saat Mencari Keadilan dengan “Indonesia Menggugat”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Maret 2021 16:13 4:13 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Maret 2021 15:50
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | IA bukanlah seseorang yang ketakutan dengan jeruji besi. Sebaliknya ia menganggap bahwa jeruji besi, jika harus diterimanya, itu bagian dari perlawanan atas ketidakadilan yang dihadapinya.

Buatnya jeruji besi, tahanan, tidak sedikit pun menyurutkan nyali untuk merebut haknya mendapat keadilan. Maka, ia tidak sedikit pun merasa lelah melawan ketidakadilan tanpa henti.

Semakin keras ketidakadilan diterimanya, semakin keras pula “perlawanan” untuk mendapatkan keadilan ia lakukan. Tidak ada rumus takut di dirinya. Mendekatinya dengan sikap keras, itu sama sekali tidak efektif.

Sikapnya itu menuai simpati yang makin besar dari umat. Bebannya lalu diambil alih umat, menjadi beban bersama. Dan jika itu yang terjadi, maka umat akan “tertular” merasa tidak takut sedikit pun memperjuangkan keadilan ulama idolanya.

Baca Juga

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman
Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia
Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

Gerakan simpati itu akan muncul, bahkan bisa jadi sudah muncul, dan itu mustahil bisa dihentikan meski dengan pendekatan kekerasan. Nyali berani itu sudah terbentuk membuat komunal besar yang sulit diprediksi.

Membaca eksepsi yang ditulisnya sendiri berjam-jam, mementahkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), dengan tetap dalam intonasi terjaga. Eksepsi berbobot yang dibuatnya itu memereteli ketidakadilan yang disampaikan penuntut umum. Satu persatu dikuliti habis, dan itu bisa dilihat dari video yang beredar luas. Meski sidang dibuat tertutup serapat-rapatnya.

Tidak ada yang bisa disembunyikan, meski coba disembunyikan. Meski Covid-19 dibuat alasan sidang tertutup. Mestinya setidaknya wartawan boleh menghadiri sidang itu, agar jalannya sidang bisa diinformasikan pada publik. Hak publik mendapat informasi.

Dengan sidang tertutup, itu seolah ada yang disembunyikan, dan itu tentang ketidakadilan. Jika ketidakadilan itu nista, memalukan, maka seharusnya itu tidak jadi pilihan. Namun, jika ketidakadilan itu tetap jadi pilihan, maka pantaslah jika banyak pihak yang menyebut sidang Habib Rizieq itu sebagai sidang dagelan yang tidak lucu, yang bahkan mampu mengundang amarah publik.

Baca: Offline Close Trial: Sarana Mengetuk Pintu Langit

Eksepsi yang Memukau

Meski eksepsi itu melawan absurditas hukum administratif menjadi hukum pidana, sebuah tuntutan aneh yang dilakukan penuntut umum untuk melawan terdakwa Habib Rizieq Shihab, tapi eksepsi yang dibuat dengan pikirannya sendiri, itu sungguh dahsyat.

Mengingatkan saat Soekarno, yang kemudian menjadi Presiden RI ke-1, sebagai tahanan politik pemerintah kolonial Belanda membacakan pidato pembelaannya (eksepsi), yang diberi judul “Indonesia Menggugat”, di Landraad, Bandung, tahun 1930. Eksepsi yang juga dibuatnya sendiri.

Soekarno melawan kesewenang-wenangan pemerintah kolonial, dan itu juga tentang ketidakadilan. Meski di era kolonial, pengadilan Soekarno itu sidang terbuka untuk umum. Meski itu sidang politik yang sensitif, yang bahkan bisa  membangkitkan semangat perlawanan.

Sedang sidang Habib Rizieq ini hanya sidang kelas ecek-ecek, yang semua tahu, bahwa jika ia salah, itu hanya kesalahan administratif. Ia sebenarnya sudah disidangkan pada kasus kerumunan Petamburan, dan lalu didenda Rp 50 juta. Denda pun sudah dibayarnya kontan. Itu denda paling besar yang dibebankan perseorangan pada kasus prokes. Lalu, kok ia lantas harus dituntut lagi pada kasus yang sama untuk kedua kalinya. Tidak cukup hukuman administratif, tapi juga mesti diangkat sebagai kasus pidana.

Pengamat menyebut, bahwa sidang Habib Rizieq ini sidang yang ditarik pada politik; sidang politik. Ada yang menyebut, Habib Rizieq itu memang ditarget. Jika analisa itu benar, maka sidang Habib Rizieq ini sulit diharapkan memunculkan keadilan. Jika benar ia ditarget, maka hasil pengadilan, bisa jadi, sudah ditentukan sebelum sidang berlangsung.

Baca: “Saya Tidak Ridha Dunia Akhirat…,” yang Mengguncang Arsy’

Lalu apa gunanya seorang Habib Rizieq membuat eksepsi dengan begitu panjang berkelas, runtut, tajam dan menguliti tuntutan penuntut umum dengan telak, pastilah itu bukanlah hal sia-sia. Habib Rizieq ingin menunjukkan, bahwa ia memang sedang dizalimi dengan ketidakadilan, dan ia melawan dengan pembuktian eksepsi yang disampaikannya, semacam Soekarno dulu dalam pengadilan kolonial yang juga menuntut keadilan.

Keadilan itu cuma dituntut manusia yang sadar akan harkatnya. Jika tidak merasa bersalah, maka ia akan melawan untuk membuktikan bahwa tuntutan terhadapnya itu salah, dan dilakukan sewenang-wenang. Karenanya, ia ingin buktikan ketidaksalahannya itu.

“Indonesia Menggugat”, itu sejarah ketidakadilan di era kolonialis Belanda. Ketidakadilan di masa penjajahan, itu hal lazim. Menjadi tidak lazim dan jahat jika itu terjadi di negeri yang sudah lebih tujuh dekade merdeka.

Kisah pengadilan Habib Rizieq Shihab ini, meski eksepsinya tidak diberinya judul, tetap akan diingat/dicatat sejarah sebagai ketidakadilan luar biasa, dan absurditas dalam sistem peradilan di Indonesia.

Berharap semoga catatan buruk ini tidak pernah ada, itu jika Majelis Hakim berani bersikap, dan dengan nuraninya memutus dengan keadilan. Kita lihat saja nanti putusan hukumannya bagaimana, dan juga respons umat melihat putusan pengadilan itu. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca Opini Ady Amar lainnya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Habib Rizieq Shihabkerumunansidang habib rizieq
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Universitas Tertua di Dunia selama Zaman Keemasan Islam
Tulisan selanjutnya Shalat tarawih berjemaah Agar Indonesia Tidak Bubar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Berita
4 Juni 2026 08:06
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Opini

Zohran Mamdani dan Paranoia Primitif di Jantung Amerika

11 November 2025 16:00
Opini

Ketika Bertanya Dianggap Bersalah: Membaca Logika Polisi atas Kasus Roy Suryo Cs

10 November 2025 10:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?