Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Surat Pembaca

Tutup ‘Sekolah Internasional’ yang tak Nasionalis

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 6 Mei 2014 06:36 6:36 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 6 Mei 2014 06:33
Bagikan
ilustrasi: Jakarta International School (JIS)
Bagikan

KASUS pedofilia terhadap anak di TK Jakarta International School (JIS) beberapa waktu lalu, membuat banyak kalangan terhenyak.

Sekolah internasioal yang diharapkan mampu memberikan pendidikan terbaik bagi generasi, ternyata malah memberikan trauma yang mendalam bagi korban yang merupakan generasi penerus bangsa ini di masa depan. Apalagi para pelaku kejahatan justru orang-orang dalam, yang seharusnya memberi keteladanan.

Kasus ini menjadi hikmah bagi kita semua. Selama ini banyak kalangan yang masih beranggapan bahwa pendidikan internasional atau pendidikan bertaraf internasional (baca: Barat) seolah menjadi pijakan bagi kemajuan pendidikan.

Sehingga banya orangtua yang memasukkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah bertaraf internasional.

Alih-alih ikut berperan aktif dalam mencerdaskan bangsa, ternyata sekolah-sekolah asing (sekolah bertaraf internasional) ikut berkontribusi melemahkan, merusak generasi bangsa ini. Maka hal wajah jika sebelum ini anggota Komnas HAM meminta pemerintah mengawasinya.

Baca Juga

22 Tahun Wahdah Eksis jadi Ormas
Harga Telur Melambung Tinggi, Bagaimana Islam Mengatasi?
Lemahnya Agama, Penyebab Munculnya Pergaulan Bebas
Uang Kripto sebagai ‘People Money’
Hari HAM Sedunia, Muslim Thailand Selatan Masih dalam Tekanan dan Diskriminasi

Di berbagai sekolah di negara-negara Barat seperti Polandia, Amerika bahkan di pusat pemerintahan katolik Vatikan, kasus pedofilia juga bukan hal baru. Sering terjadi, bahkan dilakukan oleh pastur dan pemuka agama Katolik.

Belajar dari kasus maraknya pedofilia di Jakarta International School (JIS), semestinya pemerintah mengevaluasi total keberadaan seluruh sekolah asing yang ada di Indonesia.

Semestinya pemerintah bertindak tegas dengan menutup sekolah-sekolah asing yang ada di Indonesia yang tidak mengikuti aturan main, menanamkan nilai, standar dan gaya hidup bertentangan dengan budaya bangsa ini yang mayoritas Muslim.

Keberadaan sekolah asing di Indonesia sangat berbahaya, dikarenakan akan menjadi sarana efektif untuk penanaman nilai dan gaya hidup yang bertentangan dengan agama dan budaya bangsa.

Karena selalu bercermin dengan kemajuan Barat, yang pasti, nilai-nilai yang ditanamkan adalah nilai-nilai liberal dan sekuler. Kasus JIS sebagai buktinya. Meski lembaga ini berdiri di Indonesia tetapi tak punya Kurikulum agama, Bahasa Indonesia dan PKn.

Bangsa Indonesia sudah ratusan kali ditunjukkan berbagai fakta dan kasus, bahwa nilai-nilai liberal dan sekuler terbukti banyak menggerus fitrah kemanusiaan.

Sekolah yang semestinya menjadi rumah kedua bagi anak, tempat yang aman kedua bagi anak, ternyata menjadi tempat yang mengerikan. Orang dewasa yang semestinya melindungi anak-anak malah menjadikannya korban nafsu binatangnya. Naluri seksualnya dilampiaskan secara menyimpang. Bukankah ini menunjukkan manusia bisa lebih hina dari binatang?

Kita khawatir, sekolah-sekolah “asing” menjadi jalan menundukkan kedaulatan melalui loyalitas anak bangsa yang diarahkan untuk mengagumi dan menggunakan standar Barat dan gaya hidup kebarat-baratan, di mana tanpa agama, membolehkan segala hal, yang ujungnya melahirkan penyakit-penyakit yang melahirkan kejahatan seksual.

Karena hal itu sudah pasti, standar yang lahir dari nilai di masyarakat Barat  –baik bersumber dari agama maupun ideologi liberal sekular- adalah bertentangan dengan fitrah manusia.

Selama ini pemerintah, bahkan PBNU selalu keras meminta sekolah-sekolah yang tak mengajarkan PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) bahkan nilai-nilai Pancasila sebagai cap radikal. Faktanya, ketika banyak sekolah-sekolah menyebut diri internasional tak mengajarkan Bahasa Indonesia, PKn bahkan Pendidikan Agama, mengapa diam saja?

Pemerintah harus ketak memantau sekolah-sekolah asing (bertaraf internasional) agar tidak dijadikan sarana untuk melakukan upaya pendangkalan akidah, pemurtadan terselubung,  sekularisasi, serta menjauhkan kaum Muslim dari Islam, baik dalam pemikiran dan hukum-hukumnya. Wa Allahu ‘alam.*

Kiriman: Lilis Holisah
Pendidik Generasi di HSG SD Khoiru Ummah Ma’had al-Abqary Serang – Banten

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:pedofilia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Warga NTB kehilangan Ulama Pelopor
Tulisan selanjutnya Semangat Bertilawah dengan Halaqah Qur’an

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Berita
3 Juni 2026 06:00
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Surat Pembaca

Racun LGBT Makin Meluas, Jaga Ketahanan Keluarga Indonesia

28 Mei 2022 12:30
cerita
Surat Pembaca

Pentingnya Memilih Cerita Sebagai Hiburan

26 November 2021 13:37
Surat Pembaca

Tanggapan atas Pernyataan Bahwa Semua Agama itu Benar

22 September 2021 15:00
Surat Pembaca

Nasyid untuk Wahdah Islamiyah

8 September 2021 07:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?