Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 12 April 2023 10:18 10:18 am
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 12 April 2023 11:45
Bagikan
Muhammad Baharun Musaddad, peraih juara II pada perlombaan Hifzhul Qur'an Kamil (30 juz) yang diadakan Universitas Islam Madinah (UIM) di Madinah, Arab Saudi, usai menerima penghargaan, Selasa (17/04/2018).
Bagikan

Hidayatullah.com | BULAN Ramadhan, bulan Al-Qur’an.  Tak heran, pada bulan suci ini, Al-Qur’an semakin naik daun, semakin viral. Begitu pula para penghafal Al-Qur’an, semakin dicari dan dibutuhkan. Baik sebagai imam shalat maupun pengajar Al-Qur’an.

Di lingkungan Hidayatullah, salah seorang penghafal Al-Qur’an yang namanya sering disebut-sebut saat Ramadhan adalah Ustadz Muhammad Baharun Musaddad, Lc.

Putra pertama dari Ustadz Zainuddin Musaddad (Anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah) ini beberapa tahun belakangan jadi imam tetap tahajjud berjamaah di Masjid Ar-Riyadh, Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan. Termasuk pada Ramadhan 1444H/2023M saat ini.

Bahkan, jadwalnya menjadi imam shalat bukan cuma di Gunung Tembak, tapi juga di berbagai masjid terutama di sekitaran Balikpapan. Selain jadi imam, ia juga mengajarkan Al-Qur’an.

Lalu bagaimana ceritanya santri penghobi futsal ini bisa jadi penghafal Al-Qur’an? Simak ceritanya yang dikutip dari bincang santai Ramadhan beberapa waktu lalu di Gunung Tembak bersama Ustadz Muhammad Dinul Haq, Lc, Mudir Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) STIS Hidayatullah yang juga sahabat Baharun Musadadd.*

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah
Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

Bisa diceritakan awal mula terbetik keinginan menghafal al-Qur’an?

Semuanya berjalan alami saja. Waktu itu, kelas VI (enam) Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD). Abah tiba-tiba menawarkan untuk lanjut sekolah di pesantren di Bone, Sulawesi Selatan. Sebagai anak, istajabtu (menerima). Pokoknya siap. Tentu dengan dorongan dan motivasi dari abah dan ummi.

Waktu itu hafalan al-Qur’annya bagaimana?

Bisa dibilang sama saja dengan yang lain. Standar umum lulusan MI. Surah-surah umum di juz 30. Andalannya hafal surah an-Naba.

Sebelumnya sudah punya niat menghafal?

Tidak juga. Zaman itu yang ramai adalah lanjut sekolah di Malang atau kota lainnya di Pulau Jawa. Cuma memang abah selalu memberi motivasi soal al-Qur’an. Abah selalu sampaikan, ‘Nak itu ada anaknya ustadz fulan sudah hafal surah al-Baqarah, anaknya ibu ini sudah hafal 4 juz, anaknya bapak ini sudah hafal 3 juz.’ Hal-hal seperti ini memotivasi dan seketika itu mengubah pikiran saya.

Sejak kapan serius menghafal?

Nanti di Pesantren Darul Huffadh, Bone. Sejak kelas I Tsanawiyah. Terkirim doa, semoga seluruh guru dan pengasuh di sana mendapatkan pahala kebaikan dari setiap huruf al-Qur’an yang saya baca selama ini.

Berkaitan motivasi dari abah dan ummi, apa yang  paling dirasakan?

Abah dan ummi bukan penghafal al-Qur’an. Namun keduanya sukses mengantar anak-anaknya jadi penghafal al-Qur’an. Sehingga ini bukan alasan yang mengatakan tidak bisa menyuruh anaknya menghafal karena dirinya bukan penghafal al-Qur’an. Tidak terputusnya komunikasi selama proses menghafal di pesantren dan setiap ada ujian atau prestasi apa saja selalu ada yang menguatkan dan mengapresiasi.

Yang paling membekas?

Pertama kali khatam tahun 2006. Waktu itu orangtua tidak bisa datang. Tapi tetap ada apresiasi lewat telepon. “Oh iya, Nak. Alhamdulillah sudah khatam dan ummi janji kirimkan hadiah 500.000 rupiah. Itu mungkin gaji sebulan ummi dan itu besar sekali bagi saya.”

Apa kesan atau pengalaman pertama dalam menghafal?

Berat berpisah dari orangtua.

Ada tips sederhana bagi pemula untuk mudah menghafal?

Pertama, cari guru. Kepada siapa ingin menghafal dan mendapat bimbingan menghafal. Carilah ulama yang memang dikenal penghafal al-Qur’an.

Selanjutnya?

Soal lancar atau belum lancar membaca al-Qur’an, secara jujur waktu pertama kali menghafal, bisa dikata saya juga masih 60 persen. Jadi hampir satu juz dari surah al-Baqarah itu saya hafal dengan cara menuliskan dengan ejaan bahasa Indonesia (latin, red). Misalnya “inna lladzina kafaru” hampir satu juz saya tulis seperti itu.* (Abu Jaulah/MCU/bersambung)

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Baharun MusaddadhafizhHeadlinemenghafal al-Quranpenghafal al-QuranRamadhanRamadhan 1444H/2023M
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pengadilan Tinggi DKI Batalkan Keputusan yang Tunda Tahapan Pemilu 2024
Tulisan selanjutnya Masjidil Haram Menerima lebih dari 950 Ribu Jamaah Umrah Setiap Hari sejak Awal Ramadhan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Dialog Manhaj Aqidah Muhammadiyah: Asy’ari Bagian dari Ahlus Sunnah

Berita
10 Juli 2026 17:23
Jepang Berhasil Meluncurkan dan Mendaratkan Roket Guna Ulang
Waketum PBNU KH Zulfa Mustofa Luncurkan Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa Jelang Muktamar PBNU ke 35
Pejabat Libanon Konfirmasi Keikutsertaan Negaranya dalam Pembicaraan dengan Israel di Roma
Mojtaba Khamenei Janji akan Menuntut Balas Kematian Ayahnya

Terbaru

  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
  • Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
  • Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo
  • MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
  • INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Mungkin Anda Juga Suka

baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Wawancara

Septi Ciptakan Metode Keren Belajar Online

12 April 2021 09:48
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?