Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Dilanda Konfik Internal, “Israel” Mustahil Menang?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Mei 2024 08:46 8:46 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Mei 2024 09:00
Bagikan
Ekonomi Israel
Bagikan

Hidayatullah.com – Di sebuah gedung yang tampak terbakar di Gaza, terdapat grafiti Ibrani di dinding bertuliskan Kach dan Kahane, lambang supremasi Yahudi dan partai politik terlarang. Seorang serdadu “Israel” bertopeng sambil memegang senjata otomatis mengritik Menteri Pertahanan yang tak lain adalah komandannya.

Daftar isi
  • Pekan Menyedihkan
  • Pemukim ‘Israel’ Tak Menyukai Netanyahu
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

“Yoav Gallant, kamu tidak bisa memenangkan perang. Mundurlah. Anda tidak dapat memerintah kami!” katanya sebagaimana dilansir banyak media internasional.

Yoav Gallant adalah Menteri Pertahanan “Israel”. Rekaman video itu diunggah ke media sosial pada hari Sabtu (25/05/2024) dan di-share oleh Yair Netanyahu, putra Perdana Menteri.

Lebih lanjut pria bertopeng itu mengatakan, 100.000 tentara cadangan lainnya akan memberontak, jika unsur-unsur pemerintah yang bimbang seperti Gallant menggagalkan tujuan Netanyahu untuk “kemenangan penuh” atas Gerakan Perlawanan Islam (HAMAS).

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) segera melakukan penyelidikan kriminal atas video tersebut. Perilaku serdadu itu dianggap merupakan “pelanggaran serius” terhadap perintah IDF dan nilai-nilai IDF, kata pihak IDF dalam sebuah pernyataan, dilansir oleh the Guardian (27/05/2024).

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Pekan Menyedihkan

Di dalam masyarakat “Israel” yang terdiri atas beragam etnis, agama, dan pandangan politik, militer diharapkan menjadi tentara rakyat yang menyatukan. Namun ketika perang melawan HAMAS mendekati bulan kesembilan, persatuan itu dirasa semakin memudar.

“Kami adalah masyarakat yang terpecah secara politik dan sayangnya juga terpecah dalam hal-hal yang paling penting,” kata Simcha (45 tahun), warga yang sedang berekreasi di First Station Yerusalem, pada hari Ahad yang panas lalu.

“Ketika menyangkut perang dan permasalahan di Timur Tengah, kita terpecah belah mengenai cara menyelesaikannya… Saya tidak tahu apakah ada solusinya,” lanjutnya.

Warga lainnya, Yifrat (67 tahun), mengatakan, “Ada kebencian dan agresi di semua sisi. Aku tidak tahu bagaimana kita bisa kembali bersama setelah ini. Saya tidak yakin akan ada kemenangan dalam perang.”

Perang dirasa semakin lama dan berlarut-larut, tanpa ada rencana konkrit untuk langkah berikutnya. Perundingan untuk membebaskan 100 atau lebih sandera “Israel” yang tersisa berulang kali gagal, sementara HAMAS dan Hizbullah Lebanon terus mengganggu kehidupan sehari-hari warga dengan serangan roket.

Bulan Oktober 2023 lalu jajak pendapat menunjukkan 70% warga “Israel” percaya bahwa negaranya harus berjuang sampai HAMAS tersingkir. Namun pada bulan Mei ini, survei yang dilakukan Midgam Institute -sebuah perusahaan riset yang berbasis di Bnei Brak, sebelah timur Tel Aviv- menemukan 62% masyarakat menganggap bahwa “kemenangan total” di Gaza adalah hal yang mustahil.

Demonstrasi terjadi di seluruh “Israel” pada Sabtu malam lalu. Para pengunjuk rasa menuntut kesepakatan sandera segera dan percepatan pemilihan umum. Di Tel Aviv, tujuh orang ditangkap setelah menyalakan api unggun di persimpangan jalan raya utama.

Pergeseran pandangan terhadap perang ini bersamaan dengan anjloknya posisi “Israel” di mata dunia internasional. Penyebabnya tak lain adalah jumlah korban sipil tewas yang terus meningkat dan krisis kemanusiaan di Gaza.

Pekan lalu bahkan menjadi minggu yang sangat menyedihkan bagi negara Yahudi tersebut di panggung dunia. Kantor kejaksaan ICC (pengadilan pidana internasional) mengatakan pihaknya sedang mencari surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan Gallant, juga pejabat senior HAMAS. Lalu negara-negara Eropa, Irlandia, Norwegia, dan Spanyol secara resmi mengakui negara Palestina. Pengadilan internasional, yang menengahi perselisihan antar negara, juga memerintahkan penghentian serangan baru yang menghancurkan kota Rafah di Gaza selatan.

Pemukim ‘Israel’ Tak Menyukai Netanyahu

Orang-orang di First Station menilai kecaman internasional yang semakin meningkat adalah hal yang tidak masuk akal. “Komunitas internasional gila,” kata Keren (48 tahun), salah satu pengunjung.

Shoshana (55 tahun), seorang pemilik kios yang menjual produk kulit, mengatakan tidak menyukai Netanyahu. Ini merupakan pandangan yang dianut oleh 71% warga, menurut jajak pendapat yang dirilis bulan lalu. Warga menilai bahwa Netanyahu harus segera mengundurkan diri atau segera setelah perang berakhir.

Bagi perdana menteri yang sudah lama menjabat ini, tetap menjabat adalah peluang terbaiknya untuk memberantas tuduhan korupsi yang dialamatkan kepadanya. Dia pun mengaku disandera oleh mitra koalisi sayap kanan, yang akan meruntuhkan pemerintahannya jika konsesi diberikan dalam perang melawan HAMAS.

Sebagian kelompok anti-pendudukan dan anti-perang Yahudi menyambut baik perkembangan internasional akhir-akhir ini. Organisasi hak asasi manusia yang dihormati, B’Tselem, mengatakan, “Era impunitas bagi para pengambil keputusan Israel telah berakhir.” Arti impunitas adalah pembebasan dari jerat hukum.

Dalam demonstrasi kecil di Yerusalem pada Jumat sore, seorang aktivis terkemuka yang meminta tidak disebutkan namanya, menduga bahwa langkah-langkah pro-Palestina komunitas internasional akan mengarahkan kelompok politik dan mayoritas masyarakat “Israel” untuk melakukan hal yang sama.

“Bahkan bagi saya, sulit untuk mendengarkan tuduhan ICJ (yang menilai “Israel” melakukan genosida). Saya merasa sangat malu dan malu. Melihat ke cermin seperti itu sulit, dan butuh waktu untuk mengubah opini (internasional).”*

Baca juga: Korban Agresi ‘Israel’ di Gaza Bertambah jadi 35.903 Orang

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:israelKonflik Palestina-IsraelPerang Palestina-IsraelZionis Israel
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Korban Longsor di Papua Nugini Dikhawatirkan Lebih dari 2.000 Jiwa
Tulisan selanjutnya Inilah Jenis Hewan yang Boleh Digunakan untuk Qurban

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

AS dan Arab Saudi Sepakati Kerja Sama Nuklir, Apa Isinya?

Berita
23 Juli 2026 16:20
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
AS Lancarkan Gelombang Serangan ke Iran, Ledakan Terdengar di Sejumlah Kota
MUI Bersama 87 Organisasi Islam Sudah Siap Gelar KUII ke-VIII, Bahas Berbagai Isu Nasional dan Global
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Terbaru

  • Kelompok Militan dan Ekstremis Malaysia Manfaatkan Roblox untuk Rekrutmen
  • Lindungi Konsumen, Pemerintah Musnahkan Ratusan Ton Bahan Pakan Ternak Terkontaminasi Porcine
  • Din Syamsuddin: Pendidikan Islam Harus Kembali Menjadi Motor Kebangkitan Peradaban
  • Kemendikdasmen Dorong Anak Kembali Aktif Bermain, Kurangi Ketergantungan pada Gawai
  • MUI Apresiasi Menko Yusril atas Ruang Dialog Strategis antara Pemerintah dan Ormas Islam
  • Indonesia dan Australia Resmikan Kemitraan KITA SEHAT untuk Perkuat Sistem Kesehatan Nasional
  • AS dan Arab Saudi Sepakati Kerja Sama Nuklir, Apa Isinya?
  • Jadi Kepala Biro Politik, Khalil Al-Hayya Umumkan 6 Prioritas Hamas
  • MNF 2026: Membela Palestina adalah Hak Kita!
  • MUI Siapkan RUU Pencegahan dan Penanggulangan LGBTQ, Akan Dibahas di KUII VIII 2026

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?