Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Sejarah Panjang Ujian Penduduk Syam

Ahmad
Terakhir diupdate: 4 Juni 2025 15:58 3:58 pm
Ahmad
Dipublikasikan 4 Juni 2025 17:10
Bagikan
Foto: Siddharth Siva/Flickr
Bagikan

Syam, dulunya pusat peradaban Islam dan tanah yang diberakhi dengan penduduknya, namun diuji penindasan terorganisir dan sistematis oleh asing maupun antek-anteknya dari dalam

Hidayatullah.com | TULISAN sebelumnya membahas kemuliaan penduduk Syam sebagaimana janji Al-Quran dan hadist Nabi, namun mengapa ujian dan ujian berat diterima dengan sabar? Inilah kisah lanjutan dari tulisan “Syam dalam Kenanangan: Kisah Keindahan yang Tak Terlupakan”.

***

SURIAH bagi saya adalah dua alam: Satu, alam cahaya yang didoakan Rasulullah ﷺ. Dua, alam bayangan yang dibuat manusia-manusia dzalim.

Namun cahaya itu tak pernah padam. Bahkan di bawah langit kelam, ia tetap menyala — dalam dada orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Baca Juga

Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

Dan barangkali, memang seperti itulah seharusnya kita hidup. Sebagaimana penduduk Syam yang oleh Nabi dikatakan;

اللهم بارك لنا في شامنا

“Ya Allah, berkahilah kami di negeri Syam.”

Sejarah Panjang Syam

Suriah dahulu bagian dari satu kesatuan dunia Islam di bawah naungan Daulah Utsmaniyah. Kekhalifahan ini berpusat di Istanbul dan memerintah selama hampir 600 tahun.

Namun, di akhir masa kekuasaannya, kekhalifahan mulai melemah. Salah satu penyebab utamanya, menurut sejarawan Dr. Muhammad Ali Ash-Shalabi, adalah tumpulnya penerapan hukum syariah—tajam ke bawah, tumpul ke atas, terutama terhadap keluarga sultan.

Kelemahan ini diperparah dengan bergesernya ketergantungan ekonomi ke sistem perbankan Yahudi di Eropa. Hal ini menjadi ladang subur bagi Inggris dan Prancis untuk menyusupkan operasi intelijen dan hasutan, dan adu domba seperti ungkapan; “Kalian keturunan Rasulullah, kok mau dipimpin oleh orang Turki yang bahkan tidak bisa bahasa Arab?”

Puncaknya adalah Revolusi Arab, yang berujung pada runtuhnya kekuasaan Utsmaniyah di kawasan Syam. Lewat Perjanjian Sykes-Picot (1916), wilayah-wilayah Islam dibagi oleh para penjajah seperti kue: Suriah dan Lebanon jatuh ke tangan Prancis, Palestina dan Yordania ke Inggris.

Hal ini sebagaimana hadis Nabi ﷺ, “Suatu saat nanti kalian akan dikelilingi oleh musuh-musuh, seakan-akan kalian ini hidangan.” (HR. Abu Dawud)

Diskriminasi Terorganisir

Seolah sengaja menghilangkan istilah Syam, dimunculkan istilah “Timur Tengah” yang selama ini kita pakai.

Tentu saja uiniu bukan berasal dari kita. Itu cara pandang kolonial, yang memetakan dunia berdasarkan jarak yang dipandang dari kacamata Barat.

Mereka menyebut kita “Timur Jauh”, dan Syam disebut “Timur Tengah”.

Padahal Baginda Nabi menyebut istilah lebih indah bahwa wilayah ini sebagai “Negeri Para Nabi”, sebagaimana Allah menyebutnya langsung — “tanah yang diberkahi”. “Kami berkahi sekelilingnya…” (QS. Al-Isra: 1).

Ketika Prancis menjajah Suriah, mereka mengangkat etnis minoritas seperti Alawiyah untuk menjadi mitra kolonialisme. Mereka diberi akses pendidikan, ekonomi, dan militer.

Dan Ketika Suriah merdeka (1949), kaum Alawiyah sudah lebih siap secara infrastruktur kekuasaan. Hingga akhirnya, Hafez al-Assad memastikan bahwa kekuasaan harus tetap di tangan mereka.

“Semua boleh, kecuali berkuasa di politik. Semua boleh, kecuali berkuasa di ekonomi. Semua boleh, kecuali berkuasa di militer. Tiga titik strategis itu enggak boleh sampai Muslimin Ahlusunah wal Jamaah berkuasa.”

Di pemerintahan, posisi penting seperti direktur kementerian hanya untuk kalangan Alawiyah. Di militer, bahkan shalat dianggap haram. Sementara dalam urusan agama, posisi mufti pernah diisi oleh Badruddin Hasun, tokoh kontroversial yang membuat pernyataan-pernyataan liberal dan memuji tentara rezim Assad sebagai mujahid.

Mayoritas tapi diperlakukan Minoritas

Bahkan di level warga biasa, Muslim Sunni merasakan ketidakadilan. Dalam birokrasi, jika tidak memiliki kenalan dari kelompok Alawiyah, berbagai urusan menjadi sulit. Mereka, meskipun mayoritas, dianggap warga kelas dua:

“Muslimin Ahlusunah wal Jamaah itu meskipun mayoritas adalah warga negara kelas dua. Itu sudah makruf.”

Prancis mengangkat etnis-etnis minoritas untuk menjadi mitra kolonialisme. Mirip seperti Belanda di Indonesia yang mengistimewakan etnis tertentu, Prancis memberikan akses pendidikan dan ekonomi kepada kelompok minoritas seperti Nusairiyah (Alawiyah). Mereka diangkat ke posisi strategis, masuk ke akademi militer, dan memperoleh fasilitas finansial. Sementara mayoritas Muslim Sunni dipinggirkan dan dibiarkan dalam kondisi lemah.

Saat Suriah merdeka dari Prancis pada 1949, kelompok minoritas ini sudah memegang semua modal kekuasaan. Hingga akhirnya pada 1973, Hafez al-Assad—dari kelompok Alawiyah—mengunci kekuasaan sepenuhnya dan memastikan bahwa hanya kelompoknya yang bisa memimpin negeri.

Sejak itu, Muslim Sunni hanya “boleh bernapas” di bidang pendidikan agama: membangun madrasah, tahfiz, pesantren. Namun, mereka dilarang keras menguasai tiga hal strategis: politik, ekonomi, dan militer. “Semua boleh, kecuali berkuasa.”

Diskriminasi tidak hanya terjadi di level atas, tetapi juga dalam kehidupan warga biasa. Di pemerintahan, semua posisi penting—seperti direktur di Kementerian Dalam Negeri—hanya bisa diisi oleh orang Alawiyah, meskipun mereka minoritas. Di militer pun demikian, bahkan disebutkan bahwa dalam tentara Suriah: “Shalat itu haram.”

Di sisi agama, mufti negara kala itu, Badruddin Hasun, dikenal sangat kontroversial. Ia pernah menyambut delegasi rabi Yahudi dan membuat pernyataan yang menyudutkan Nabi Muhammad ﷺ, hanya untuk menunjukkan “toleransi berlebihan”.

Ia juga menyebut tentara yang membunuh warga dalam demonstrasi sebagai “mujahid dan syahid”.

Sebagai warga asing di Suriah, seseorang harus memperbarui izin tinggal setiap tahun. Proses ini lebih mudah jika ada kenalan dari kalangan Alawiyah. Namun, jika melalui jalur resmi yang melibatkan orang Sunni, justru sering dipersulit.

“Muslim Ahlusunnah wal Jamaah adalah mayoritas, tapi hanya dianggap warga negara kelas dua. Sudah makruf begitu keadaannya.”

Penduduk Syam diuji karena Syam mampu. Dan itu membuat saya mencintai negeri ini bukan karena indahnya bangunan, tapi karena keindahan jiwa penghuninya.

Namun kini, posisi mufti telah dipegang oleh ulama yang lebih dihormati. “Sekarang alhamdulillah muftinya SyeiIkh Usama Rifai. Mudah-mudahan The Sungkars bisa wawancara langsung sama beliau.”

Namun sebagaimana sejarah membuktikan, umat yang tertindas akan selalu punya peluang untuk bangkit—asal mereka kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.*/Diceritakan Dzikrullah, yang pernah tinggal di Suriah dan mengunjungi negeri itu setelah jatuhnya Bashar al-Assad. Artikel diambil dari podcast The Sungkar

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bumi SyamHeadlinepenjajah prancisperadaban IslamPilihan RedaksisuriahSyamtanah yang diberakhi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Diusir dari Pakistan 200.000 Orang Pulang ke Afghanistan
Tulisan selanjutnya Spanyol Batalkan Kontrak Perdagangan Senjata ‘Israel’ Senilai Rp5 Triliun

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang

Berita
2 Juli 2026 16:34
Dua Anggota Garda Revolusi Iran Ditembak Mati dekat Kurdistan
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Hamas Berharap Pasukan Internasional Jadi Penghalang Pelanggaran ‘Israel’ di Gaza

Terbaru

  • Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir
  • Hamas Berharap Pasukan Internasional Jadi Penghalang Pelanggaran ‘Israel’ di Gaza
  • Aksi-Aksi Suporter Bola Dukung Palestina di Piala Dunia 2026
  • Akui Gagal Gulingkan Hamas, Netanyahu Siapkan “Migrasi Sukarela” bagi Penduduk Gaza
  • Rusia Sempat Dituduh, Pipa Gas Nord Stream Ternyata Disabotase Tentara Ukraina
  • Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
  • Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat
  • Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
  • MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji
  • Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Feature

Dapur Tak Pernah Padam: 224 Tahun Memberi Makan Fakir dan Musafir

20 Maret 2026 10:00
Feature

Buka Bersama di Dam Square: Tikar Persaudaraan di Jantung Amsterdam

15 Maret 2026 16:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?