Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Ahmad
Terakhir diupdate: 9 Juli 2025 05:37 5:37 am
Ahmad
Dipublikasikan 25 Juni 2025 14:09
Bagikan
Bagikan

Sekularisme bukan netralitas, tapi proyek ideologis yang menggantikan Tuhan dengan akal dan mengasingkan agama dari kehidupan publik

Oleh: Dr. Syamsuddin Arif

Dalam masyarakat modern yang disebut “sekuler”, tidak ada lagi kebenaran mutlak yang menjadi rujukan bersama. Semua keyakinan dianggap sama validnya. Agama tidak lagi dijadikan sumber nilai tertinggi, tetapi sekadar pilihan spiritual pribadi di antara banyak opsi lain.

Teolog liberal Inggris, John Hick, menyatakan secara lugas: “All religions are equally true and valid” (Semua agama sama-sama benar dan sah).

Sementara itu, Harvey Cox, teolog Harvard dan pionir teori sekularisasi, mengungkapkan: “There is no longer one single truth. There is no longer one single way to God, but a whole variety of equally good ways.” (Tidak ada lagi satu kebenaran tunggal. Tidak ada lagi satu jalan menuju Tuhan, melainkan berbagai macam jalan yang sama baiknya).

Baca Juga

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)

Pernyataan-pernyataan ini mencerminkan puncak dari relativisme modern, di mana semua agama diperlakukan sama tanpa ada kebenaran yang bersifat eksklusif.

Dalam atmosfer seperti ini, menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya jalan keselamatan dianggap sebagai bentuk intoleransi.

Konsekuensi Relativisme

Cara pandang pluralistik ini berdampak sangat serius terhadap kehidupan sosial:

  1. Agama tidak lagi menjadi panduan hidup bersama. Nilai-nilai agama hanya dianggap cocok untuk kehidupan privat.
  2. Sistem nilai harus tunduk pada “kesepakatan sosial”, bukan berdasarkan wahyu ilahi.
  3. Media dan pendidikan harus “netral”, artinya menjauh dari klaim kebenaran agama dan tidak boleh berpihak pada satu sistem kepercayaan.

Akibatnya, kehidupan publik menjadi bebas dari agama, tetapi juga kehilangan fondasi moral yang kokoh. Jika semua dianggap benar, maka tak ada yang benar secara obyektif. Inilah wajah masyarakat sekuler yang sesungguhnya: membingungkan dan rentan disorientasi nilai.

Apa Itu Sekularisme?

Secara etimologis, kata “sekularisme” berasal dari bahasa Latin saeculum yang berarti “zaman” atau “masa kini”. Pada mulanya, istilah ini hanya digunakan untuk membedakan antara urusan duniawi dan urusan keagamaan.

Namun dalam sejarah modern Barat, istilah ini berkembang menjadi sebuah ideologi: membebaskan manusia dari segala bentuk dominasi agama dan nilai metafisika.

Harvey Cox menjelaskan dalam bukunya The Secular City: “Secularization is the liberation of man from religious and metaphysical tutelage, turning his attention from other worlds to this one.” (Sekularisasi adalah pembebasan manusia dari kungkungan agama dan metafisika, mengalihkan perhatiannya dari dunia lain ke dunia ini).

Bagi Cox, manusia modern harus keluar dari “penjara” agama dan hanya fokus pada dunia fisik dan empirik. Masa lalu dan akhirat dianggap tidak relevan. Tuhan bukan lagi pusat perhatian.

Cox bahkan menyatakan bahwa sekularisasi adalah suatu proses yang tak terhindarkan: “Secularization rolls on” (Sekularisasi akan terus bergulir).

Solusinya bukan menolaknya, melainkan “mempelajarinya” dan berdamai dengannya.

Empat Ciri Masyarakat Sekuler

Agar dapat mengenali masyarakat sekuler, Dr. Syamsuddin Arif menguraikan empat ciri dominannya:

Pertama, diferensiasi peran sosial. Dalam masyarakat tradisional, agama menjadi otoritas utama dalam seluruh aspek kehidupan—politik, hukum, pendidikan, dan ekonomi. Namun dalam masyarakat modern, otoritas ini tersebar ke lembaga-lembaga sekuler seperti parlemen, birokrasi, media, dan pasar.

Tidak ada satu otoritas tertinggi. Semua fungsi sosial dipisahkan dari agama, dan dikelola atas dasar profesionalisme dan hukum positif. Seseorang bisa religius di rumah atau tempat ibadah, tapi di kantor dan ruang publik, nilai agama dianggap tidak relevan.

Kedua, relativisme dan pluralisme kebenaran. Tidak ada kebenaran absolut. Semua agama dianggap “benar” menurut pemeluknya. Dalam logika ini, agama hanya punya nilai subjektif.

Konsep kebenaran tunggal seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

(Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Allah hanyalah Islam). (QS Ali Imran: 19).

Menjadi problematik dalam masyarakat pluralistik. Ayat ini bisa dianggap tidak inklusif oleh pandangan relativis.

Maka pluralisme dalam sekularisme sejatinya adalah relativisme, bukan toleransi. Semua agama diperlakukan setara, bukan karena pengakuan akan kebenarannya, tapi karena kehilangan makna kebenaran itu sendiri.

Ketiga, privatisasi agama.Agama didorong agar hanya hadir dalam ruang privat: rumah, tempat ibadah, atau hati nurani. Dalam urusan publik—politik, ekonomi, pendidikan—agama harus “diam”.

Contohnya, kampus-kampus sekuler di Barat yang menolak keberadaan tempat ibadah dalam institusi. Bahkan jika jumlah mahasiswa Muslim mayoritas, tidak ada ruang untuk memasukkan nilai-nilai keagamaan dalam kurikulum atau visi kampus.

Masjid-masjid seperti Salman di ITB berdiri di luar institusi kampus karena kampus tidak ingin terikat pada satu identitas agama. Bahkan jika dibolehkan, itu hanya dalam bentuk akomodasi simbolik, bukan pengakuan terhadap sistem hidup Islam.

Empat, rasionalisme sebagai hakim tertinggi. Dalam masyarakat modern, akal dan sains menjadi satu-satunya sumber otoritas. Wahyu dianggap tidak cukup rasional dan harus dikaji ulang berdasarkan logika modern.

Muncullah adagium: “Any belief is true only if it is accepted by reason.” (Setiap keyakinan hanya dianggap benar jika diterima oleh akal sehat).

Logika ini tidak hanya diterapkan dalam diskusi filsafat, tetapi juga di dunia pendidikan dan kebijakan publik. Kurikulum di sekolah dan kampus menekankan pendekatan empiris dan rasionalistik.

Ilmu agama seringkali dianggap subyektif, tidak ilmiah, dan sekadar doktrin moral—sementara ilmu “modern” (seperti fisika, biologi, ekonomi) dianggap obyektif dan netral.

Di sinilah jebakan sekularisme: rasionalisme tidak lagi sekadar metode berpikir, tetapi berubah menjadi ideologi yang secara sistematis menyingkirkan agama dari ruang publik.

Bahkan, sekolah-sekolah dan universitas yang dulunya dibangun oleh komunitas agama perlahan mulai meninggalkan akar spiritualnya. Mereka menggantinya dengan visi “kebebasan akademik” yang tak lain adalah ruang bebas nilai, bebas agama, dan bebas wahyu.

Jika prinsip ini dibiarkan merasuk ke dalam sistem pendidikan umat Islam, maka akan muncul generasi Muslim yang secara intelektual “modern” namun kehilangan ikatan teologis dan spiritual dengan agamanya. Mereka akan merasa lebih nyaman dengan teori-teori barat modern daripada dengan ajaran ulama dan kitab suci mereka sendiri.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa sekularisme bukan hanya soal “pisah agama dan negara”, tetapi lebih dalam: membentuk cara berpikir dan cara hidup yang tidak lagi menjadikan Tuhan sebagai pusat nilai. Inilah fase paling berbahaya dari sekularisasi: ketika manusia tidak lagi merasa perlu bertanya kepada Tuhan, bahkan dalam urusan hidup yang paling mendasar.* (bersambung)

Penulis dosen UNIDA-Gontor, anggota Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan MUI Pusat, penulis buku Islam & Diabolisme Intelektual (2017)

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:agamaHeadlinenetralitasPilihan Redaksipluralismeproyek sekularismesekularisme
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mesir Tingkatkan Pengamanan usai Ribuan Pemukim ‘Israel’ Mengungsi ke Sinai
Tulisan selanjutnya Antusias, 15.000 Pramuka Negara OKI Siap Hadiri Jambore Dunia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ketua Umum MUI Dorong Pemerintah Tiru Rusia Tetapkan Gerakan LGBT Teroris

Berita
30 Juni 2026 16:35
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
MUI Siapkan Naskah Akademik dan RUU Pidana LGBT, Akan Didorong Masuk Prolegnas
Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga

Terbaru

  • Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
  • Kloter Terakhir Jamaah Indonesia Tiba di Tanah Air, Operasional Haji 2026 Berakhir
  • Hamas Berharap Pasukan Internasional Jadi Penghalang Pelanggaran ‘Israel’ di Gaza
  • Aksi-Aksi Suporter Bola Dukung Palestina di Piala Dunia 2026
  • Akui Gagal Gulingkan Hamas, Netanyahu Siapkan “Migrasi Sukarela” bagi Penduduk Gaza
  • Rusia Sempat Dituduh, Pipa Gas Nord Stream Ternyata Disabotase Tentara Ukraina
  • Helikopter Mendarat Darurat di Laut Arab Satu Tentara Amerika Hilang
  • Membangun Peradaban dari Rumah: Ketahanan Keluarga sebagai Jalan Kebangkitan Umat
  • Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
  • MUI Perjuangkan Akses Hunian Layak bagi Dai dan Guru Ngaji

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?