Hidayatullah.com—Sejumlah warga di Jalur Gaza menyambut dengan gembira pengumuman tanggapan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) terhadap rencana Amerika Serikat untuk menghentikan perang di wilayah itu, demikian dikutip Al Jazeera, Sabtu, 4 Oktober 2025.
Pada Sabtu dini hari, puluhan warga di Kota Khan Younis, Gaza bagian selatan, berkumpul merayakan pernyataan resmi Hamas yang berisi tanggapan atas rencana Presiden AS Donald Trump. Dalam pernyataan tersebut, Hamas menyatakan kesediaannya berunding, melakukan pertukaran seluruh tahanan—baik yang masih hidup maupun jenazah—serta menyetujui pembentukan pemerintahan teknokrat dari elemen Palestina sendiri, dengan menegaskan perlunya perundingan lebih lanjut mengenai rincian pelaksanaannya.
Koresponden Al Jazeera, Hisham Zaqout, melaporkan bahwa meredanya intensitas serangan udara Israel mendorong warga untuk keluar ke pasar di Kamp Nuseirat, di wilayah tengah Gaza.
Sementara di Kota Gaza, sejumlah warga menyatakan harapan bahwa perkembangan terbaru ini dapat membawa akhir bagi perang yang telah menghancurkan wilayah tersebut.
“Ketika saya mendengar kabar tentang tanggapan Hamas, saya keluar bersama orang-orang dengan penuh sukacita, meneriakkan takbir, ” demikian kata warga bernama Moamen Jasser di kawasan pelabuhan barat Gaza dikutip AFP.
Setelah Hamas menyampaikan tanggapannya terhadap rencana gencatan senjata Amerika, intensitas serangan Israel dilaporkan menurun, menyusul sehari penuh yang sebelumnya menelan sedikitnya 63 korban jiwa.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada malam sebelumnya, Hamas mengumumkan persetujuan untuk membebaskan semua tawanan Israel—baik yang masih hidup maupun yang telah syahid—sesuai dengan mekanisme pertukaran yang diajukan dalam proposal Presiden AS Donald Trump.
Langkah itu disebutkan bertujuan untuk menghentikan perang dan memastikan penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza, dengan menciptakan kondisi lapangan yang memungkinkan pelaksanaan pertukaran tersebut.
Hamas juga menegaskan kesiapannya untuk segera memulai negosiasi, melalui para mediator, guna membahas rincian pelaksanaan kesepakatan tersebut, mengatakan akan tetap menjadi bagian dari Palestina dan menola pasukan asing.*




