Hidayatullah.com—Dalam pembicaraan tidak langsung yang berlangsung di Sharm El-Sheikh, Mesir, Hamas menegaskan tuntutannya untuk pembebasan sejumlah pemimpin Palestina yang saat ini dipenjara oleh ‘Israel’. Permintaan ini menjadi titik krusial yang menghambat rencana damai yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza.
Gerakan Hamas meminta pembebasan tokoh-tokoh penting seperti Marwan Barghouti, Abdullah Barghouti, Ahmad Saadat, Hasan Salama, dan Abbas Al-Sayyid.
Nama-nama tersebut berasal dari berbagai latar belakang politik dan militer, meliputi Gerakan Fatah, Hamas, dan Front Populer, dan dikenal luas di kalangan warga Palestina sebagai simbol perlawanan terhadap penjajah ‘Israel’.
Rencana Perdamaian ala Donald Trump mengusulkan pembebasan sekitar 250 tahanan, namun Hamas menginginkan jumlah itu ditingkatkan menjadi 280, termasuk para pemimpin yang mereka tuntut, dalam pertukaran dengan tawanan ‘Israel’.
Hal berakibat menyulitkan pihak ‘Israel’ sendiri, yang menganggap pembebasan para pemimpin tersebut sebagai garis merah, karena mereka dituduh melakukan aksi yang menyebabkan kematian warga ‘Israel’.
Di bawah ini Profil Singkat Para Pemimpin Palestina yang Dituntut Hamas:
- Marwan Barghouti, dikenal sebagai “Mandela Palestina”, dihukum lima kali penjara seumur hidup atas perannya dalam Intifada Kedua. Ia merupakan tokoh populer dan calon kuat presiden Palestina.
- Abdullah Barghouti, dijuluki “Insinyur Hamas”, merupakan tangan kanan militer Hamas yang divonis 67 kali penjara seumur hidup terkait serangkaian serangan bunuh diri.
- Ahmad Saadat, Sekretaris Jenderal Front Populer, dipenjara sejak 2008 atas tuduhan pembunuhan pejabat ‘Israel’. Ia menentang kesepakatan Oslo dan simbol perlawanan yang keras.
- Hasan Salama, komandan militer Hamas yang dilatih oleh Hezbollah dan Garda Revolusi Iran, divonis 48 kali penjara seumur hidup karena serangkaian pengeboman balasan yang menewaskan banyak warga ‘Israel’.
- Abbas Al-Sayyid, tokoh utama sayap militer Hamas di Tulkarem, didakwa merencanakan serangan bom terbesar selama Intifada Kedua yang menewaskan puluhan orang.
Permintaan pembebasan tokoh-tokoh ini menjadi tantangan besar dalam upaya mengakhiri genosida Gaza melalui negosiasi internasional. Sementara Hamas melihat mereka sebagai pejuang kemerdekaan, ‘Israel’ menganggap pembebasan mereka sebagai ancaman keamanan serius. Situasi ini menunjukkan kegamangan dalam mencapai gencatan senjata yang bisa diterima kedua belah pihak, dengan tekanan politik dan emosional tinggi yang melingkupi negosiasi tersebut.* RT Arabic




