Hidayatullah.com— Yasser Abu Shabab, pemimpin milisi Popular Forces yang sempat menantang dominasi Hamas di Rafah, dilaporkan menghilang sejak awal pekan ini. Setelah gencatan senjata berlaku, Hamas meningkatkan operasi keamanan demi menemukan jejaknya dan menegaskan otoritasnya.
Sumber keamanan lokal menyebutkan bahwa Abu Shabab terakhir terlihat di timur Rafah segera setelah razia besar-besaran oleh pasukan keamanan Hamas. Beberapa laporan menyebut kemungkinan ia melarikan diri ke Sinai melalui jalur penyelundupan lama di perbatasan Mesir.
“Sejak dua hari lalu kami tidak menerima kabar apa pun darinya. Sinyal komunikasinya hilang,” kata seorang anggota Popular Forces kepada media lokal Gaza. “Kami percaya dia masih hidup, tapi sedang bersembunyi.”
Jejak Latar dan Keterlibatan Abu Shabab
Yasser Abu Shabab berasal dari suku Beduin Tarabin, yang membentang antara Gaza, Negev (‘Israel’), dan Sinai. Dia pernah dipenjara oleh Hamas pada 2015 atas tuduhan narkoba dan pencurian, dengan vonis 25 tahun.
Abu Shabab muncul kembali sejak konflik 7 Oktober 2023, ketika ia dikabarkan keluar dari penjara yang diserang dalam serangan ‘Israel’ — meski detail pembebasannya tidak jelas.
Sejak pertengahan 2025, ia mulai menguasai sebagian timur Rafah dan mendirikan jaringan milisi yang diklaim oleh beberapa laporan memperoleh dukungan material dari ‘Israel’ atau entitas terkait, lapor The Guardian.
Dalam wawancara dengan Radio ‘Israel’, Abu Shabab menyatakan, “Kami memberi tahu mereka (‘Israel’) tentang operasi kami, tetapi aksi militer tetap kami jalankan sendiri.”
Ia juga mengakui menerima “dukungan logistik dan finansial dari beberapa pihak” tanpa menyebut nama secara eksplisit ‘Israel’.
Abu Shabab telah dituduh berkolaborator dengan penjajah ‘‘Israel’’. Hamas menuduhnya melakukan “pengkhianatan,” mendirikan milisi ilegal, dan membantu pasukan pendudukan dalam operasi keamanan.
“Sekarang setelah perang berakhir, Hamas akan dapat beroperasi dengan bebas. Semoga sukses untuk Yasser Abu Shabab dan organisasi lain di Gaza yang telah bekerja sama dengan ‘Israel’,” tulis situs ‘Israel’ Hadashot dalam cuitan sinis diku.
Premis bahwa milisi Abu Shabab akan dipindahkan ke kamp dalam Jalur Gaza pun ditolak keras oleh ‘Israel’, yang khawatir bahwa elemen-elemen itu akan mengancam pemukim haram ‘‘Israel’’.
Hamas dalam beberapa kesempatan telah menumpas anggota geng criminal tersebut: laporan menyebut bahwa sedikitnya 50 anggota milisi Abu Shabab telah dibunuh.
Dalam operasi keamanan pekan lalu, pasukan Hamas menangkap sekitar 20 anggota milisi Popular Forces dan menewaskan beberapa lainnya di Rafah timur.
Skenario yang Mungkin dan Implikasi Hilangnya Abu Shabab
Hilangnya Yasser Abu Shabab bisa menandai beberapa kemungkinan:
Pertama, ia melarikan diri ke Sinai atau wilayah luar Gaza — beberapa pihak menduga ia melarikan diri untuk menghindari penangkapan oleh Hamas.
Kedua, ia dihabisi atau ditahan diam-diam oleh aparakat keamanan Hamas — dalam operasi keamanan yang saat ini diperketat.
Ketiga, ia merahasiakan keberadaannya dalam struktur bawah tanah untuk kembali muncul ketika situasi memungkinkan.
Dalam konteks ini, penghilangan Abu Shabab menjadi bagian dari upaya yang lebih luas oleh Hamas untuk mengembalikan kontrol penuh atas Gaza selatan, sekaligus meredam upaya delegitimasi internal.*/Al-Araby TV, Al-Araby al-Jadeed, Sky News, Arab News




