Hidayatullah.com— Pemukim ilegal ‘Israel’ di Jalan Moran, Tiberias, wilayah Palestina yang dirampok penjajah telah dilanda kepanikan akibat serangan ular yang muncul hampir setiap hari di rumah-rumah mereka, dengan beberapa ular dilaporkan memasuki rumah dan ruang bersama hampir setiap hari, menurut surat kabar ‘Israel’ Maariv.
Media itu menyebut para penghuni haram itu kini hidup dalam ketakutan dan mendesak pemerintah kota segera bertindak.
Selama sebulan terakhir, ular-ular berukuran kecil hingga sedang dilaporkan bermunculan di dapur, kamar mandi, bahkan di kandang hewan peliharaan. Beberapa warga meyakini telah ada sarang ular di bawah kompleks apartemen mereka.
“Anak saya bangun untuk minum air dan menemukan ular di kandang anjing. Saya masuk ke dapur dan menemukan ular lain. Sekarang sudah biasa, tidak ada hari tanpa ular,” ujar salah satu warga kepada Maariv. “Kami hidup di film horor,” tambahnya.
Warga lain menuturkan pengalaman serupa, menyebut bahwa ular juga terlihat di tangga dan halaman setiap hari.
“Kemarin anak saya menemukan ular kecil di ruang tamu, mungkin baru menetas. Kami ketakutan, bahkan untuk masuk ke rumah sendiri pun ragu,” katanya.
Ketakutan Meluas
Fenomena ini disebut-sebut sudah berlangsung lebih dari empat minggu. Sejumlah penghuni melaporkan bahwa ular tidak hanya muncul di area luar, tetapi juga di dalam ruangan. Mereka menduga ada koloni besar di bawah bangunan.
Pihak pemerintah penjajah di kota Tiberias dikabarkan telah mengirim petugas pengendali hama untuk memeriksa lokasi. Namun, menurut warga, penanganan sejauh ini belum menyentuh bagian dalam bangunan tempat ular sering ditemukan.
“Mereka hanya memeriksa halaman dan taman. Sementara ular-ular itu muncul dari dinding dan lantai bawah,” ujar seorang penghuni lain yang diwawancarai Maariv.
Kekhawatiran meningkat karena beberapa warga juga melaporkan kemunculan kalajengking di kawasan yang sama, memperkuat dugaan bahwa lingkungan tersebut kurang terurus dan menjadi tempat berkembang biak binatang berbahaya.
Ahli lingkungan yang dikutip Maariv menyebut, peningkatan populasi ular di wilayah utara ‘Israel’ dapat disebabkan oleh perubahan cuaca ekstrem yang mendorong hewan melata keluar dari sarangnya untuk mencari tempat lebih hangat.
Selain itu, proyek konstruksi baru di sekitar kawasan Tiberias diduga mengganggu habitat alami ular, membuat mereka berpindah ke area pemukiman.
“Fenomena ini kemungkinan besar dipicu oleh gangguan ekosistem lokal dan minimnya pengendalian tikus, yang merupakan mangsa utama ular,” ujar seorang pakar ekologi dari Universitas Haifa kepada media setempat.
Rasa takut warga kian meningkat seiring semakin seringnya laporan penemuan ular di setiap blok bangunan. Beberapa keluarga bahkan dikabarkan sementara pindah ke rumah kerabat untuk menghindari bahaya.
“Kami tidak bisa tidur nyenyak. Anak-anak menangis setiap malam karena takut ular muncul di kamar,” kata seorang ibu rumah tangga yang tinggal di lantai dua.
Salah satu penangkap ular profesional yang dihubungi media lokal mengatakan telah menerima lebih dari sepuluh laporan dari kawasan Tiberias dalam dua minggu terakhir — jumlah yang jauh di atas rata-rata normal.
Ia memperingatkan agar warga tidak mencoba membunuh ular sendiri karena beberapa spesies di wilayah itu termasuk berbisa.
Otoritas Kota Siapkan Langkah Darurat
Kepala Dinas Lingkungan Kota Tiberias, dalam pernyataan resmi yang dikutip Maariv, mengatakan pihaknya telah menugaskan tim tambahan untuk melakukan inspeksi menyeluruh di kawasan Moran Street.
“Tim akan memeriksa setiap titik potensial tempat ular bersembunyi dan mengambil tindakan segera,” ujarnya.
Namun, hingga berita ini diterbitkan, warga masih menunggu langkah nyata. Banyak di antara mereka mengaku frustrasi karena situasi dianggap belum berubah. “Kami sudah melapor berkali-kali. Setiap hari ada ular baru. Kami butuh tindakan nyata, bukan janji,” kata seorang warga yang telah tinggal di kawasan itu selama lima tahun.*




