Hidayatullah.com— Penutupan Masjid Al-Aqsha bagi umat Islam selama lebih dari 36 hari terus menuai sorotan, setelah beredar video dan laporan yang menunjukkan adanya akses bagi kelompok Yahudi ke area Tembok Al-Buraq (Western Wall) di sisi barat kompleks tersebut.
Sejumlah unggahan yang beredar di media sosial memperlihatkan sosok yang disebut sebagai rabi dan pelajar sekolah agama Yahudi melakukan ritual keagamaan di lokasi itu, sementara jamaah Muslim masih dilarang masuk ke Al-Aqsha.
Kondisi itu memicu tudingan standar ganda terhadap pengelolaan situs-situs suci di Yerusalem, terutama karena akses ke Al-Aqsha tetap tertutup bagi jamaah Muslim, termasuk setelah Ramadan dan Idulfitri.
Media Palestina WAFA melaporkan bahwa penjajah Israel masih melanjutkan penutupan kompleks Al-Aqsha untuk hari ke-36 berturut-turut dengan alasan keamanan.
Sementara itu, Quds News Network dan Palestinian Information Center menyoroti bahwa pembatasan itu berlangsung bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran Palestina soal perubahan “status quo” di kawasan suci tersebut.
Dalam laporan Palestinian Information Center, peneliti urusan Yerusalem Ziyad Ibhais menyebut penutupan Al-Aqsha pada hari-hari terakhir Ramadan sebagai preseden baru sejak 1967.
Ia menilai kebijakan itu tidak bisa dibaca semata sebagai langkah keamanan sementara, melainkan sebagai bagian dari upaya lebih luas untuk membentuk “realitas baru” atas Al-Aqsha.
Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran bahwa pembatasan berkepanjangan terhadap jamaah Muslim dapat berdampak pada pengaturan historis situs tersebut.
Sorotan juga menguat di media sosial. Akun resmi Quds News Network di X menulis bahwa “Israel mengizinkan para rabi dan pelajar sekolah agama melakukan ritual Talmud di Al-Aqsha”, sementara kompleks tersebut masih ditutup bagi umat Islam.
Unggahan itu disertai video yang memperlihatkan sekelompok pria Yahudi religius berada di area Tembok Al-Buraq. Di Instagram, sejumlah akun Palestina dan pro-Gaza juga menyebarkan rekaman serupa dan menyoroti apa yang mereka sebut sebagai ketimpangan akses di kawasan suci Yerusalem (Baitul Maqdis).
Reaksi warganet Palestina pun didominasi kemarahan. Di kolom komentar akun-akun resmi Palestina, banyak pengguna menyebut situasi itu sebagai “penghinaan terhadap kesucian Al-Aqsha” dan “bukti bahwa penutupan hanya berlaku untuk Muslim.” Sebagian lainnya menyerukan pembukaan kembali Al-Aqsha dan mengangkat seruan kampanye digital untuk membuka kembali akses jamaah Muslim ke situs suci tersebut.*




