Seorang ateis asal Swedia Simon Wallgren kehilangan arah hidup menemukan jawaban atas pencarian panjangnya melalui Islam, hingga akhirnya mengubah hidupnya dan keluarganya
Hidayatullah.com | BAGAIMANA jika seseorang yang sejak lahir meyakini bahwa Tuhan tidak pernah ada, justru menemukan makna hidup setelah kehilangan orang yang paling ia cintai?
Kisah ini berasal dari wawancara Simon Wallgren bersama kanal Towards Eternity, yang menceritakan secara langsung perjalanan spiritualnya dari seorang ateis asal Swedia hingga memeluk Islam.
Bukan sebuah perjalanan yang mudah, melainkan jalan panjang yang dipenuhi kehilangan, depresi, pencarian, dan akhirnya sebuah keyakinan yang mengubah seluruh hidupnya.
Setiap perjalanan besar selalu dimulai dari sebuah luka. Dan bagi Simon Wallgren, luka itu sudah hadir jauh sebelum ia mengenal Islam.
Dari Kehampaan Menuju Pencarian
Perceraian kedua orang tuanya menghancurkan rasa aman yang selama ini ia miliki. Sang ayah pergi, sementara ibunya perlahan tenggelam dalam alkohol dan perjudian. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi tempat yang paling ingin ia tinggalkan.
Simon mengenang masa itu dengan sangat jujur.
“Aku tidak punya sosok ayah. Tidak ada yang membimbingku. Bahkan di rumah aku tidak merasa aman.”
Kesepian berubah menjadi depresi. Ia mulai mencari pelarian melalui pesta, alkohol, dan pekerjaan tanpa henti.
Namun semua itu tidak pernah mampu mengisi kekosongan yang terus membesar. Bahkan suatu ketika ia mengaku, “Setiap malam sebelum tidur aku hanya berharap… semoga aku tidak bangun lagi besok.”
Lalu datang pukulan yang mengubah seluruh hidupnya. Ibunya meninggal dunia di usia yang masih sangat muda.
Simon menggenggam tangan ibunya ketika monitor jantung berubah menjadi garis lurus. Sebagai seorang ateis, ia mengira kematian hanyalah akhir.
Namun saat benar-benar berdiri di hadapan kematian orang yang paling ia cintai, keyakinannya mulai runtuh. “Sulit mempercayai bahwa semuanya selesai ketika orang yang kau cintai benar-benar pergi.”
Di tengah kesedihan itulah ia mulai mencoba meditasi. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengangkat kedua tangannya.
Bukan kepada agama tertentu. Bukan pula kepada Tuhan yang ia kenal.
Melainkan kepada sesuatu yang bahkan belum bisa ia jelaskan. “Siapa pun yang mendengar dan melihatku… tuntunlah aku kepada apa yang benar,” ujarnya.
Tanpa ia sadari, doa sederhana itulah yang menjadi awal perjalanan hidupnya.
Saat Kebenaran Mulai Mengetuk
Sering kali jawaban sebuah doa tidak datang dalam bentuk keajaiban yang langsung terlihat, melainkan melalui seseorang yang hadir di waktu yang tepat.
Tak lama setelah doa itu, Simon melihat perubahan besar pada teman kerjanya yang seorang Muslim.
Orang yang sebelumnya hidup biasa saja tiba-tiba berubah menjadi jauh lebih tenang. Ia mulai salat, meninggalkan pekerjaannya ketika waktu ibadah tiba, dan wajahnya memancarkan ketenangan yang belum pernah Simon lihat sebelumnya.
Rasa penasaran akhirnya mengalahkan prasangka. Simon mulai mengajukan tiga pertanyaan terbesar dalam hidup manusia.
“Dari mana kita berasal?”
“Mengapa kita ada di sini?”
“Ke mana kita akan pergi setelah mati?”
Lalu ia bertanya satu pertanyaan yang menurutnya mengubah segalanya. “Siapa Tuhan?”
Temannya hanya membacakan empat ayat pendek, yaitu Surah Al-Ikhlas. “Allah itu Esa.”
Simon terdiam.
“Untuk pertama kalinya… penjelasan tentang Tuhan benar-benar masuk akal bagiku,” ujarnya.
Selama hampir satu tahun ia terus bertanya, terus belajar, dan perlahan semua kepingan jawaban mulai tersusun.
Hingga suatu hari ia mengikuti temannya ke sebuah masjid. Ia hanya berniat melihat-lihat.
Bahkan sempat berkata, “Aku hanya ingin mencoba, bukan menjadi Muslim.”
Namun ternyata, masjid itu bukan akhir dari rasa penasarannya. Melainkan gerbang menuju keputusan terbesar dalam hidupnya.
Mengucapkan Syahadat
Setiap orang memiliki satu momen yang membelah hidupnya menjadi dua bagian: sebelum dan sesudah. Di tempat wudu itulah temannya berkata dengan tegas, “Apa yang akan kau lakukan adalah ibadah seorang Muslim. Jadi jika kau ingin salat, terimalah Islam terlebih dahulu.”
Saat itulah semuanya berubah. Simon mengaku merasakan ketakutan yang luar biasa.
Tubuhnya gemetar. Dadanya sesak. Pikirannya dipenuhi berbagai suara.
“Bagaimana kalau teman-temanmu meninggalkanmu?”
“Bagaimana kalau keluargamu menolakmu?”
Namun di tengah semua ketakutan itu, ia merasa ada dorongan yang berkata, “Jika kau tidak melakukannya sekarang, mungkin kau tidak akan pernah melakukannya.”
Lalu ia bertekad mengucapkan syahadat. “Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah.”
Dan seketika…
Semua rasa takut itu lenyap.
Simon menggambarkan momen tersebut dengan kalimat yang sangat menyentuh. “Untuk pertama kalinya dalam hidupku, kekosongan itu hilang.”
Ia merasa seperti seseorang yang selama bertahun-tahun memikul beban berat, lalu akhirnya bisa melepaskannya.
Namun keputusan besar selalu datang bersama ujian besar. Teman-temannya meninggalkannya.
Sebagian keluarganya mengira ia telah menjadi ekstrem. Bahkan atasannya sempat bertanya, “Kau baik-baik saja? Kondisi mentalmu tidak bermasalah, kan?”
Tetapi justru ketika semua itu hilang, Simon menemukan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia miliki.
Sebuah keluarga baru. Persaudaraan dalam Islam.
“Orang-orang yang bahkan baru mengenal namaku memperlakukanku seperti saudara.”
Doa yang Mengubah Takdir
Perjalanan Simon belum berhenti ketika ia menjadi Muslim. Justru saat itulah babak baru kehidupannya dimulai.
Ia berkali-kali menyaksikan bagaimana doa mengubah arah hidupnya dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.
Mulai dari dipertemukan dengan istrinya. Hingga kehilangan pekerjaan saat pandemi COVID-19.
Ironisnya, pemecatan itu justru menjadi pintu menuju kehidupan yang selama ini ia impikan. Ia mendapatkan kesempatan belajar Islam dan akhirnya pindah ke Dubai.
Simon mengenang momen itu dengan penuh syukur. “Saat itu aku mengira doaku tidak dikabulkan. Ternyata Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik.”
Perubahan itu tidak berhenti pada dirinya. Ayahnya menerima Islam.
Pasangan ayahnya juga memeluk Islam. Bahkan neneknya yang telah berusia 95 tahun mengucapkan syahadat sebelum akhir hayatnya.
Di penghujung wawancara, Simon meninggalkan pesan yang menjadi inti seluruh perjalanan hidupnya. “Jangan takut mencari kebenaran, di mana pun itu berada.”
Ia kemudian mengingatkan sebuah ayat Al-Qur’an, “Kullu nafsin dzā’iqatul maut.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.”
Bagi Simon, bukan kematian yang seharusnya paling ditakuti. Melainkan menjalani kehidupan tanpa pernah menemukan tujuan mengapa kita diciptakan.
Dan mungkin, seperti doa pertama yang pernah ia panjatkan bertahun-tahun lalu, setiap pencarian menuju kebenaran selalu dimulai dari keberanian untuk berkata, “Tunjukkan aku jalan yang benar,” ujarnya mengakhiri cerita.*




